Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 32


__ADS_3

Bunyi tit membuka kunci pintu apartemen Derian, Karina masuk ke dalam apartemen menenteng dua kantong belanjaan yang lumayan berat menutup pintu dengan kakinya. Karina membawa satu persatu kantong belanjaan dan membawanya kedapur menata satu persatu kedalam lemari es.


"Kau yakin tadi mengantarkannya?"


"..."


"Seharusnya kau mengantarkannya sampai depan pintu dan memastikannya dia benar-benar masuk ke dalam!"teriak Derian penuh emosi.


Derian yang sudah seperti orang gila, baju berantakan,dasi yang sudah tidak pada tempatnya, rambut acak-acakan dan wajah yang kusut, terlihat sedih,marah,kecewa dan entahlah, keluar dari kamarnya hendak pergi melewati dapur...


"Sayang, apa yang terjadi?"sapa Karina yang sibuk menyiapkan bahan-bahan masakannya menatap Derian yang sangat sangatlah berantakan dan ...


Derian menoleh ke arah suara, melihat Karina berdiri di meja dapur tanpa kurang suatu apapun dan seperti tak terjadi apapun. Derian menjatuhkan ponselnya berlari menghampiri Karina dan memeluknya erat. Seketika perasaannya langsung lega seolah beban beratnya telah terangkat.


"Sayang? Kenapa kau seperti ini?Kau terlihat kacau..."tanya Karina menepuk punggung Derian, hatinya ikut trenyuh sakit melihat keadaan Derian yang tidak baik-baik saja.


Derian melepas pelukannya, mengusap air matanya. Biarlah dia dikatakan cengeng Derian tak peduli, saat ini hanya Karina lah yang dipedulikan Derian. Derian mengecup bibir Karina lama, hanya mengecup tapi Karina malah ******* bibir itu seolah menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, dirinya juga mencintainya meski tak pernah mengatakannya. Derian tak menyia - nyiakannya ikut terhanyut kemesraan itu.


Karina melepas ciuman itu menatap Derian yang kacau sungguh dirinya tak tega. Diusapnya wajah kusut Derian, dirapikannya rambutnya juga.


"Bersihkan tubuhmu! Lihatlah dirimu? Kenapa kau jadi seperti ini?"hibur Karina membelai pipi Derian lembut, melepaskan dasi di leher Derian.


Derian masih diam menatap Karina lembut,dia tak mau melewatkan sedetikpun menatap wajah Karina, sungguh dirinya tak bisa hidup tanpa Karina. Dia benar-benar seperti orang gila,orang yang kehilangan kewarasannya.


"Jangan tinggalkan aku?Kumohon!"pinta Derian lemah. Karina hanya diam menghentikan belaiannya, jemarinya yang membelai pipi Derian diremas dan dikecupnya mesra, begitu menunjukkan begitu besarnya cinta Derian pada Karina.


"Apapun yang terjadi?Jangan pergi dariku? Tetaplah di sisiku?"pinta Derian putus asa. Karina memeluk Derian lagi ikut meneteskan air mata.


"Aku tak akan pergi. Aku tak akan meninggalkanmu. Sampai kapanpun, sampai kau mengusirku sendiri aku tak akan pergi?"


"Tidak,itu tak akan pernah terjadi. Aku tak akan pernah melepaskanmu,"jawab Derian mengecup bibir Karina sekilas.


**

__ADS_1


Mereka makan malam yang dimasak Karina tadi dengan tenang,bahkan Derian menempel duduk di samping Karina. Mendekatkan kursinya, bahkan dirinya meminta untuk disuapi makanan itu oleh Karina. Derian masih belum melepaskan tangannya pada Karina, itulah sebabnya Derian minta Karina untuk menyuapinya dengan alasan tangannya sibuk,sibuk menggenggam jemari tangan Karina. Karina hanya tersenyum konyol mendengar modus Derian.


"Dimana ponselmu?"tanya Derian setelah mereka selesai makan, sedang Karina membereskan meja dengan Derian masih menempel memeluk Karina dari belakang mengganggu pekerjaannya.


"Ah,ponselku mati dan tadi aku menghubungimu untuk bertanya dimana pengisi dayamu,aku sudah mencari di semua tempat tapi tak menemukannya,tapi saat ingin mengabarimu ternyata ponselku mati,"jelas Karina masih membereskan meja,gelayutan tangan Derian membuatnya lambat mengerjakannya.


"Lalu darimana kau tadi?"


"Aku belanja di swalayan di gedung bawah,kau mengajakku tinggal di sini tapi tak memberikanku makanan,aku sangat lapar dan..."Karina tak melanjutkan kata-katanya, menerawang entah menatap apa.


"Dan apa?"tanya Derian melihat wajah Karina yang sedikit terlihat tegang tapi segera dikendalikan Karina.


"Dan aku makan camilan di cafe bawah untuk menunda laparku sebelum pulang ke apartemen,"


"Kenapa lama sekali tak kembali?"tanya Derian masih menempel lebih erat dan mengecupi seluruh wajah dan leher Karina meratakan setiap incinya. Karina tertawa geli saat Derian mengecupnya bagian sensitif di tengkuknya. Derian ikut tertawa senang semakin lama mengecup di leher Karina juga meninggalkan jejak kepemilikannya yang tak hanya satu atau dua.


"Apa yang terjadi di kamar kita?"kata Karina ganti bertanya pada Derian yang tak dihiraukannya.


"Lain kali jangan seperti itu, mungkin barang-barang itu bagimu tak seberapa,tapi bagi kami orang-orang yang mencari uang dengan sedikit kerja keras sangatlah berharga. Bukan mahal atau murahnya barang,tapi karena kenangan di dalamnya yang mahal."


"Maaf,"bisik Derian lirih menyerukkan wajahnya ke leher Karina dari belakang masih memeluk erat Karina. Karina mengusak rambut Derian gemas.


Derian sedang berkutat di ruang kerjanya. Telpon Noah membuatnya mau tak mau harus mengerjakan laporan yang dikirim lewat laptop nya, perusahaan sedang mendapat sedikit masalah terpaksa menunda sedikit waktu bercintanya dengan Karina. Mereka berbicara melakukan video call melalui laptop Derian.


Karina membereskan kekacauan yang dibuat Derian di kamar tanpa diketahui Derian. Tak lama, butuh satu jam Karina membereskan kekacauan itu. Semua alat make-up nya ikut jadi korban kemarahan Derian. Karina menghela nafas panjang, geleng-geleng kepala membayangkan kebrutalan Derian.


Karina masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya lagi, keringat membasahi tubuhnya setelah membereskan kamar.


"*Karina?"tegur seseorang dari depan Karina menatap Karina dari atas hingga ke bawah, Karina yang saat itu menggunakan dres selutut berwarna kuning gading tampak anggun dengan pengikat tali di pinggang, baju yang disiapkan Derian jika sewaktu-waktu dirinya menginap di apartemennya.


Memang semua baju yang disiapkan Derian baju bermerk berkualitas tinggi bukan seperti baju-baju Karina yang harganya tidak sebanding dengan harga baju yang dibelikan Derian, membuat siapapun pasti melihat Karina adalah wanita anggun kelas sosialita.


Karina tak mempermasalahkan bajunya, mau murah atau mahal Karina memakainya karena menghargai Derian yang sudah menyiapkan untuk dirinya*.

__ADS_1


"Maaf,anda siapa ya?"tanya Karina merasa tak kenal dengan wanita anggun sekelas wanita sosialita yang memakai baju minim.


"Ah, seharusnya aku memperkenalkan diri? Perkenalkan nama saya Adelia,"ucap wanita itu yang ternyata adalah Adelia istri Derian. Karina seperti mengingat nama itu, dia mencoba mengingat nama itu.


"Ah...!!"Karina segera menutup mulutnya terkejut.


"Sudah ingat?"tangan Adelia bersedekap mengamati Karina lagi dari atas hingga ke bawah memandang remeh.


"Ah,baju yang kau pakai, sepertinya suamiku membelikan baju yang tidak murah ya?Dan ternyata hargamu hanya sepadan dengan harga baju itu?"ucap Adelia meremehkan.


Karina meremas ujung bajunya antara marah dan malu atas ucapan Adelia. Karina bertemu Adelia saat Karina hendak kembali ke apartemen Derian setelah belanja dan mampir ke cafe untuk makan camilan pengganjal perutnya yang lapar. Karina berdiri saat Adelia menyapanya.


"Maaf... saya ada perlu,"Karina hendak pergi tapi pergelangan tangannya ditarik Adelia dengan kasar hingga menghadap padanya.


Plakk...


Tangan Adelia sudah melayang di pipi kanan Karina.


"Dasar pelakor!!"teriak Adelia yang membuat para pengunjung cafe menatap Karina terkejut dan tatapan yang merendahkan.


TBC


Mohon like dan rate nya...


Makasih 🙏🙏


Vote nya juga dong..


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2