Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 72


__ADS_3

Angel membuka matanya perlahan. Menatap ada dua orang yang diingatnya Didi petugas keamanan hotel dan satu lagi manajer restoran itu.


"Dimana suamiku?" tanya Angel kembali menangis saat mengingat ada kecelakaan yang terjadi di depan restoran yang kemungkinan besar adalah suaminya.


"Maaf, nona. Kami sudah mencari informasi di sekitar terjadinya kecelakaan. Dan kecelakaan itu, korbannya dibawa ke rumah sakit terdekat. Mari kita lihat, semoga bukan suami nyonya." jelas Didi. Membuat Angel semakin menangis kencang, dia berharap bukan suaminya yang dimaksud.


Saat hendak keluar restoran, ada seorang pria datang.


"Maaf, tuan. Saat kecelakaan aku menemukan dompet ini di sekitarnya." ucap pria itu entah siapa dia. Angel langsung merebut dompet yang diyakini adalah milik suaminya.


"Ini milik suamiku. Iya ini suamiku." ucap Angel semakin menangis histeris.


Membuat Didi semakin kebingungan menatap manajer restoran yang dijawab hanya dengan mengedikkan kedua bahunya.


"Mari kita ke rumah sakit dulu!" anaknya pada Angel.


Angel hanya mengangguk mengiyakan dan pergi meninggalkan restoran itu pergi menuju ke rumah sakit yang diinformasikan seseorang di restoran itu.


Mereka menuju rumah sakit yang dimaksud. Angel terdiam gelisah duduk di kursi penumpang sebelah sopir. Dengan mulut komat-kamit berdoa demi keselamatan suaminya. Tak sampai setengah jam mereka sudah tiba di rumah sakit yang dimaksud. Angel langsung berlari menuju ruang informasi di lobi rumah sakit.


"Maaf sus, saat mau bertanya, pasien kecelakaan pagi tadi sekitar pukul enam pagi dirawat dimana ya?" tanya Angel antusias, Angel sungguh berharap banyak pada jawaban perawat yang menjaga meja informasi itu yang semoga memberikan informasi yang diinginkan.


"Sebentar ya bu." jawab perawat itu mengecek dalam komputernya. Angel menatap perawat itu dengan tak sabaran. Didi hanya mengekor di belakang Angel.


"Ah, sepertinya tadi sempat di ruang UGD setelah operasi dia di pindah ke ruang VVIP tapi..."


"Diman ruang VVIP sus, katakan!." Angel langsung menyela dengan tak sabaran.

__ADS_1


"Ada dilantai lima rumah sakit Bu, tapi..."


"Terima kasih." Angel langsung berlari ke arah lift menuju lantai lima.


Meski dia belum jelas tepat dimana nomer berapa, Angel akan membuka satu persatu kamar itu untuk melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Rasa cemas dan panik sudah sangat menghampiri di tubuh lemah Angel membuatnya kehilangan kewarasannya untuk istirahat padahal tubuhnya mulai melemah, tapi dirinya tetap memaksa untuk menemui suaminya yang mungkin saja tidak dalam kondisi baik-baik saja karena informasi perawat tadi bilang kalau suaminya habis dioperasi.


Dengan keadaan tubuh yang dipaksakan Angel keluar dari lift diikuti Didi yang hanya mengekor saja sejak tadi. Didi sebenarnya merasa kasihan pada Angel karena memaksakan tubuhnya yang terlihat lemah dan ringkih itu.


Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemanapun langkah Angel pergi untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Angel bisa saja pingsan kembali. Angel membuka satu persatu kamar VVIP mulai dari ujung ruangan, tak banyak yang dibuka, kamar VVIP di rumah sakit itu hanya lima kamar.


Selebihnya kamar VIP yang berada di standar dibawah VVIP. Harapan Angel begitu besar bisa menemukan suaminya di salah satu kamar perawatan itu. Hingga sudah sampai di kamar keempat, Angel belum menemukan jejak-jejak suaminya. Tinggal satu kamar paling ujung harapan Angel, berharap suaminya ada di dalam, meski kondisinya belum baik-baik saja.


Asal ditemukan baginya bisa melakukan pengobatan dengan peralatan yang lebih canggih, di luar negeri misalnya. Pintu kamar VVIP hendak dibuka, dadanya berdegup kencang berdebar-debar, rasa pesimis jika suaminya ada di dalam segera ditepisnya. Suamiku ada di dalam. batin Angel meyakinkan dirinya sendiri untuk berani membuka pintu itu.


Cklek


Harapan terakhirnya telah pupus melihat ranjang kosong itu. Entah kemana lagi dia akan mencari informasi suaminya berada. Tubuh lemah Angel yang dipaksakan sejak tadi perlahan oleng membuat Angel terhuyung dan dengan sigap Didi yang berada di belakangnya menangkap tubuh ringkih itu.


"Nona, anda tak apa?" tanya Didi menatap Angel yang sudah tak sadarkan diri.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya salah seorang perawat.


"Oh Tuhan.." seru perawat lainnya menutup mulutnya terkejut. Didi membopong tubuh Angel dan membaringkan tubuhnya di ranjang kosong VVIP itu.


"Panggil dokter, cepat!" teriak Didi pada kedua perawat itu yang masih kebingungan.


"Ba..baik." jawab salah satu perawat dengan menekan tombol yang ada di samping ranjang.

__ADS_1


Tak sampai sepuluh menit, dokter datang yang heran karena setahunya pasien di ruang VVIP itu sudah kosong beberapa saat lalu.


"Ada apa?" tanya dokter itu menatap sekeliling kamar, ada dua perawat dan seorang pria serta seorang wanita yang tertidur di ranjang.


"Dia pingsan dok, begitu masuk kamar ini." jelas salah satu perawat.


"Tolong periksa kondisinya dok!" seru Didi merasa cemas dan bersalah. Dokter langsung bergerak cepat memeriksa Angel yang wajahnya memucat dan terlihat lemah serta raut wajah kecemasan tergambar di wajah wanita yang pingsan itu.


"Tubuhnya lemah, sepertinya dia sangat memaksakan dirinya hingga kelelahan dan tidak mempedulikan kondisinya. Sus, tolong diinfus, dia butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisi tubuhnya." jelas dokter itu menatap Didi dan tersenyum.


"Terima kasih dok."


"Mari ikut ke ruangan saya untuk saya berikan resep obatnya dan harus segera diminum." ucap dokter itu yang membuat Didi hanya mengangguk mengiyakan mengikuti dokter itu.


**


Setibanya di ruangan dokter, dokter menanyakan perihal tentang pasien pingsan itu. Dan Didi pun menjelaskan mulai dari awal sampai akhir Angel pingsan itu. Didi berharap dokter itu mengetahui sesuatu karena juga bekerja di rumah sakit itu.


"Ah, apa pasien pagi tadi ya?" ucap dokter itu.


"Dokter tahu sesuatu?" tanya Didi antusias.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2