
Siang itu sopir rumah lama Derian bersiap untuk menjemput Angel, hari itu Putri tak ikut ke sekolah. Dia memilih bermain di rumah bersama bibi pengasuhnya. Saat ditanya bibi kenapa dia tak mau ke sekolah, dia mengatakan karena tak ada Bu guru Karin, itulah sebabnya sekarang Putri tak pernah ikut ke sekolah kakaknya.
Setibanya di sekolah, semua murid sudah tidak ada di tempatnya. Pak sopir mencoba bertanya pada satpam sekolah itu, tapi satpam itu menyuruhnya untuk bertanya pada salah satu guru yang mengajar di dalam.
"Permisi Bu?"sapa pak sopir pada Ajeng, guru yang mengajar Angel.
"Ya pak?"jawab Ajeng.
"Apa non Angel sudah keluar kelas?"tanya pak sopir.
"Ah sebentar saya lihat di tempat anak-anak dititipkan."jawab Ajeng menuju ruang sebelah tempat penitipan anak setelah pulang sekolah tidak sempat dijemput atau orang tuanya repot.
"Nyari Angel to Bu?"tanya Mita saat melihat sopir Angel duduk di kursi depan meja Ajeng.
"Iya, ibu tau?"
"Ah, tadi mamanya menjemputnya untuk diajak makan sebentar dan katanya sudah minta izin papanya Angel?"
"Ibunya Angel?"
"Siapa namanya Bu?"tanya Ajeng membuat pak sopir ikut mendekati mereka.
"Bu Adelia."jawab Mita.
"Oh ya sudah Bu, terima kasih."jawab pak sopir membungkuk sopan segera meninggalkan sekolah itu untuk pulang.
Sesampainya di rumah bi Ani bertanya pada sopir itu kenapa pulang sendiri.
"Mana non Angel pak?"tanya bi Ani.
"Tadi katanya bu Adelia menjemputnya untuk diajak makan. Dan sudah izin tuan."jawab pak sopir.
"Kamu yakin pak?"tanya bi Ani tak yakin.
Setahunya Adelia bukan orang yang suka memperhatikan putrinya. Sehingga bi Ani sedikit ragu.
"Yakin bi, tadi katanya sudah pamit juga pada guru di sekolahnya."
"Lebih baik aku menghubungi tuan, takutnya kalau bu Adelia tak minta izin dulu pada tuan. Dan yang disalahkan kita tak mau memberitahu tuan."ucap bi Ani yang diangguki pak sopir. Bi Ani mengambil ponselnya dan menghubungi Derian.
"Tuan?"
__ADS_1
"..."
"Anu tuan?Non Angel tidak ada si sekolahnya tuan?"
"..."
"Tadi waktu pak sopir menjemput, non Angel sudah tidak ada tuan?"
"..."
"Non Putri, akhir-akhir ini gak pernah ikut ke sekolah tuan?"
"..."
"Kata guru di sekolah bu Adelia menjemputnya mengajaknya makan tuan?"
"..."
"Ya tuan."jawab bi Ani gugup mendengar suara tuannya yang diseberang setengah berteriak.
"..."
**
"Bagaimana kalau kita makan di luar dulu?" tanya Derian dalam perjalanan setelah puas menuntaskan hasratnya pada Karina. Seperti mendapatkan angin segar di siang hari, wajah Derian dipenuhi senyuman.
"Di rumah saja, aku sudah merindukan si kembar." jawab Karina. Wajah Derian berubah masam, cemburu mendengar perkataan Karina.
"Apa kau hanya ingin menghabiskan waktu bersama si kembar?" tanya Derian menatap Karina cemberut.
"Kita belum pernah meninggalkan mereka di rumah sendiri?" elak Karina.
"Di rumah ada pengasuh? Juga banyak pelayan, kenapa kau berpikir meninggalkan mereka sendiri?"tanya Derian tak mau mengalah, itulah kenapa dia tak mau berbagi istrinya, bahkan dengan anak-anaknya.
Baginya Karina adalah miliknya, hanya harus bersamanya.
"Tapi mereka masih bayi, masih kecil. Mereka juga anak-anak kita, anak-anakmu juga. Bagaimana kau berpikir untuk melepaskan tanggung jawab kepada pengasuh? Ini pengalaman pertamaku setelah sekian lama menunggu untuk punya anak dan aku tak mau melewatkan tumbuh kembang anak-anakku sedetikpun. Aku akan mengurus mereka sendiri walaupun dibantu dengan pengasuh, aku tak akan lepas begitu saja untuk tidak ikut mengurus anak-anak."jelas Karina.
"Lalu, aku?"jawab Derian dingin.
"Ya?... hahaha..." Karina tertawa melihat tingkah kekanakan Derian tak menjawab pertanyaan Derian hanya tertawa lucu mendengar keposesifan Derian.
__ADS_1
"Sayang ..."seru Derian bingung melihat Karina tertawa.
"Selama ini hanya itukah yang kau khawatirkan?" goda Karina masih tertawa sambil menutup mulutnya.
"Kau bilang hanya? Apa kau pikir perasaanku main-main?"tanya Derian tak suka, karena Karina meremehkan perasaannya.
Derian semakin cemberut, wajahnya berubah dingin masih fokus menyetir. Karina menghentikan tawanya melihat Derian sudah berganti suasana.
"Sayang..."panggil Karina menyentuh jemari tangan Derian yang menggenggam erat kemudi, tapi ditepisnya masih tersinggung dengan tawa Karina.
"Sayang..." rayu Karina lagi masih berusaha menyentuh jemari tangannya. Kali ini tak ditepis tapi masih terlihat dingin dan datar, tak menoleh ke arah Karina.
"Kau marah?"rayu Karina. Derian masih tak bergeming.
"Benarkah, kau marah?"tanya Karina lagi dengan sedikit rayuan dan mukanya yang dibuat memelas mungkin.
"Maaf..."ucap Karina menarik jemari tangan Derian ke pipinya, mengecup punggung dan telapak tangan Derian bergantian.
"Maafkan aku..."melas Karina. Derian hanya menoleh sebentar, tapi terus fokus ke jalanan.
Pura-pura masih cemberut tapi hatinya mulai berbunga-bunga melihat keromantisan Karina.
"Meski aku begitu memperhatikan anak-anak, bagiku kaulah segalanya bagiku. Kaulah yang kuutamakan dari yang lainnya." ucap Karina masih meletakkan jemari tangan Derian ke pipinya dan dirinya memejamkan mata menikmati belaian tangan Derian.
"Kuharap kau mengerti, aku mencemaskan anak kita, bukan orang lain, jika bukan anak kita, q tak akan seperti itu. Bagaimanapun juga mereka adalah buah cinta kita, bukti cinta kita."ucap Karina lembut, membuat Derian tersentuh dan terharu.
"Maaf, itu karena aku terlalu mencintaimu." jawab Derian menoleh menatap Karina membelai pipi Karina. Untungnya mereka sedang berhenti di lampu merah.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1