
"Hei Marco." sapa seseorang saat mereka memasuki cafe langganan mereka di depan kampus.
"Hei, how are you?" balas Marco menyapa, mereka berpelukan ala lelaki.
"I'm fine." jawab pria itu yang bersama dengan seorang wanita mungkin kekasihnya karena mereka juga terlihat mesra.
"Introduce, my girlfriend, Vivi." ucap Marco memperkenalkan kekasihnya pada teman lamanya itu. Vivi mengulurkan jemarinya.
"Vivi."
"Jhon, Jhonatan." ucap pria itu yang sengaja mengedipkan sebelah matanya pada kekasih Marco yang bernama Vivi yang tentu saja tak diketahui Marco. Vivi tak membalas hanya menatap aneh padanya. Ia hanya menduga Jhonatan seorang playboy.
"Your girlfriend?" tanya Marco menunjuk pada gadis yang dirangkul Jhonatan.
"Yes, introduce." jawab Jhon memperkenalkan kekasihnya dan mereka saling berkenalan.
"I must go now, sorry." ucap Jhon menyesal.
"It's okay." jawab Marco, mereka pun duduk dan memesan makanan.
"Honey."
"Yes."
"Aren't you too close to him?"
"Who?"
"Your friend? Bas."
"Hei, he is just my friend, nothing more."
"But you're too close." protes Marco.
"Are you jealous?" Vivi tersenyum.
"Of course. You're my girlfriend." seru Marco.
"Oh cute." ucap Vivi membelai pipi kekasihnya, mengecup bibirnya sekilas.
"He's just my friend, because we're both from the same country. And we are working on the same project." jelas Vivi.
__ADS_1
"I still don't like him, you are like lovers."
"You don't believe me?" ucap Vivi sedih.
"Sorry, that's not what I meant." ucap Marco tak tega melihat kekasihnya bersedih, dia mengecup bibir kekasihnya sekilas.
"Sorry." ucapnya lagi.
"No, I'm the one who should be sorry." ucap Vivi akhirnya.
**
"Saya mau minta izin untuk melamar Angel." ucap Al saat dia sedang berhadapan dengan Karina. Karina menghela nafas.
"Aku tak bisa mengatakan apapun, seharusnya kau bicara pada papanya Angel dan aku, asal putriku iya, aku akan mengatakan iya." jelas karina tersenyum.
"Kapan papa pulang ma?" sela Angel yang juga ikut duduk di sisi Karina.
"Mungkin besok kalau tidak ada yang mendesak." jawab Karina beralih menatap Angel.
"Kita besok kesini lagi kak, jika papa sudah pulang." ucap Angel menatap Al.
"Tentu." jawabnya.
**
Bas dapat mengembangkan ide-idenya sehingga menjadi sebuah aplikasi yang bisa mendeteksi adanya hacker yang mencoba mengambil data-data kita secara ilegal lewat ponsel ataupun lewat komputer dan laptop.
Dengan adanya aplikasi itu otomatis setiap data langsung tersimpan otomatis tanpa bisa dibobol siapapun bahkan hacker terbaik sekalipun. Di dunia ini hanya baru mereka berdua yang bisa membobol aplikasinya itu karena mereka selain mengaktifkan juga bisa menonaktifkannya.
Bas menatap apartemennya yang kosong dan lengang, apartemennya itu merupakan hadiah dari pihak universitas sebagai tanda terima kasih karena membawa nama harum nama universitas. Bas masuk kamarnya dan membersihkan diri di dalam kamar mandi kamarnya.
Setelah dirinya puas berendam dia duduk di meja belajarnya, menatap ponsel lamanya yang masih disimpan tapi tak digunakannya karena dia ingin menghapus semua masa lalunya.
Saat melihat sahabatnya bersama kekasihnya tadi, hatinya tercubit membuatnya ingat akan seseorang di masa lalu yang pernah menghuni hati kecilnya. Bas merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk.
Dini hari apartemen Bas digedor oleh seseorang dengan kencang, membuat tidur Bas jadi sedikit terganggu. Dan terpaksa membuka matanya karena suara teriakan dan gedoran di luar tak juga pergi. Bas terpaksa membuka pintunya.
"Vivi." seru Bas melihat Vivi mabuk dan menggendor pintu apartemennya yang sebenarnya apartemennya berhadapan dengannya.
"Kau salah pintu lagi?" tanya Bas yang dijawab racauan tak jelas karena mabuk.
__ADS_1
"Ayo kuantar ke apartemenmu!" ucap Bas memapah tubuh Vivi untuk menuju pintu apartemen di depannya.
"Berapa password-nya?" tanya Bas yang tak dijawab, tapi malah pingsan di dadanya.
"Oh shit, jangan minum jika kau tak kuat minum." ujar Bas yang tak ditanggapi siapapun.
Meski Bas dan Vivi bersahabat dan bertetangga mereka tetap menjaga privasi masing-masing, apalagi Vivi mempunyai kekasih. Jadi, Bas tak pernah tahu berapa kode password apartemen Vivi. Sehingga sekarang dia bingung mau dibawa kemana Vivi, tak mungkin Bas membawanya ke apartemennya.
Bas masih berusaha membuat Vivi sadar untuk mengetahui kode password apartemen Vivi tapi nyatanya sia-sia. Dan Bas tak mungkin meninggalkan Vivi tidur di luar. Dan dengan sangat terpaksa Bas membawa Vivi masuk ke dalam apartemennya, persetan besok Vivi marah.
**
Vivi perlahan membuka matanya yang berat, kepalanya terasa berdenyut pusing, mungkin efek dia mabuk semalam.
"Kau sudah bangun?" ucap Bas membuyarkan ingatan Vivi karena mabuknya semalam.
Vivi menatap sekeliling ruangan yang memang bermodel sama dengan miliknya karena apartemen mereka adalah sama-sama hadiah dari universitas karena ide-idenya tentang aplikasi yang mereka rilis.
Hanya saja berbeda warna dan suasana, jika di apartemennya terkesan girly tapi di apartemen Bas terkesan maskulin. Vivi bukannya bangun malah terdengar sesenggukan dan isakan tangisnya.
Bas tak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, yang jelas hal buruk telah terjadi pada gadis itu.
Setelah lebih dari lima belas menit, Bas mendekat dan duduk di ranjang. Untungnya hari ini dia tak harus ke universitas karena semua pekerjaannya sudah selesai. Jadi dia masih berlama-lama di apartemennya menunggu Vivi bangun.
"Mandilah! Aku sudah buatkan sup penghilang mabuk." hibur Bas mengusak rambut Vivi.
Mereka memang akrab sangat akrab malah, Bas menganggap Vivi seperti seorang adik meski umur mereka hanya terpaut beberapa bulan lebih muda Vivi.
"Dia mengkhianatiku Bas? Dia berselingkuh, padahal dia bilang mencintaiku. Tapi apa yang dilakukannya, dia berselingkuh dan berhubungan intim dengan wanita lain di depanku. Padahal dia bilang kemarin siang sangat mencintaiku hiks..hikss..hiks..." rintih Vivi di sela tangisnya masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya tak berani membuka wajahnya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.