Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 60


__ADS_3

Derian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, pingsannya Karina membuat Derian kehilangan akal. Mulutnya tak henti-hentinya komat-kamit untuk berdoa untuk keselamatan Karina dan bayinya.


Setahunya tak ada rumah sakit di jalan menuju rumah Karina, karena terlalu terpelosok desanya. Seingatnya hanya sebuah klinik di kiri jalan sebelum masuk ke desa tetangga yang ditinggali Karina.


Tak henti-hentinya Derian memanggil-manggil nama Karina yang sudah tak sadarkan diri dengan cairan masih keluar dari pahanya.


Setelah kurang lebih satu jam, tibalah Derian di klinik tempat yang biasanya Karina memeriksa keadaan bayinya selama kehamilan.


Perawat sudah siaga saat orang suruhannya diinstruksikan untuk menghubungi rumah sakit yang ternyata hanya klinik yang tak jauh dari rumah Karina. Derian menggendong Karina dengan panik.


Para perawat mendorongnya menuju UGD setelah membaringkan tubuh Karina ke ranjang klinik. Perawat melarang Derian untuk masuk kedalam sementara dokter jaga memeriksa kondisi pasien. Kecemasan dan ketakutan menghantui Derian, kemungkinan buruk untuk kehilangan bayinya membuat Derian semakin merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada mereka. Sesaat dokter keluar dari ruang UGD.


"Keluarga pasien?"seru dokter itu.


"Saya suaminya dok?"jawab Derian mendekati dokter itu.


"Pasien sudah kehilangan banyak cairan dan ketubannya sudah pecah. Kita harus secepatnya melakukan operasi cesar. Apalagi bayi pasien kembar, tak mungkin pasien melahirkan secara normal. Kebetulan ada dokter kandungan yang baru saja selesai menangani pasien melahirkan?Kami butuh persetujuan wali atau suami untuk operasi segera!" jelas dokter itu panjang lebar juga jadi panik.


"Lakukan yang terbaik dok? Tolong selamatkan anak dan istri saya."pinta Derian memelas. Bayi kembar, kami dikaruniai bayi kembar. Syukurlah. batin Derian.


Noah segera datang satu jam kemudian, setelah tuannya menghubungi untuk meminta mengurus segala keperluannya dan istrinya. Derian tak bisa berbuat apapun saat perasaan bersalah karena dirinya Karina menjadi seperti itu.


Derian seperti orang linglung di kursi tunggu klinik itu, terduduk diam dengan pandangan kosong. Dengan mulut masih komat-kamit mendoakan keselamatan anak dan istrinya Karina.

__ADS_1


Sesaat terdengar suara tangisan bayi dari ruang operasi dan tak lama kemudian terdengar suara tangisan lagi. Tangisan dua bayi yang bersahutan membuat garis bibir Derian melengkung tersenyum senang dan bahagia. Derian reflek memeluk Noah yang ada di sisinya.


Bersyukur bayinya tak terjadi apapun, tapi hati Derian masih belum tenang, dokter belum mengabarkan kondisi Karina.


Dokter keluar ruangan, Derian segera mendekatinya menanyakan kabar tentang Karina.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanya Derian tak sabaran.


"Selamat.. anak anda sudah lahir, laki-laki dan perempuan. Dan istri anda sehat, sekarang kami akan memindahkan di ruang perawatan. Anak anda terpaksa kami letakkan dalam inkubator, karena lahir prematur dengan berat badan yang kurang, tapi mereka sehat semua."


"Syukurlah... laki-laki dan perempuan dok?Boleh saya melihat anak dan istri saya sebentar?"pinta Derian memelas.


"Lebih baik menunggu di ruang perawatan, karena sebentar lagi akan dipindahkan."saran dokter itu.


Pikirannya kembali tenang mendengar kabar anak dan istrinya. Meski kedua anaknya masih membutuhkan bantuan di dalam inkubator.


Setelah menemui dokter di ruangan dokter, Derian menuju kamar perawatan Karina. Dia masuk perlahan sedikit takut dengan reaksi Karina nanti. Dibuka pintu kamar ruang perawatan perlahan menatap ranjang melihat Karina tertidur pulas, entah tidur atau hanya memejamkan mata untuk menghindari dirinya.


Derian mendekati ranjang perlahan, menyentuh tangan Karina, menggenggam erat, mengecup punggung tangan yang dirindukannya. Hingga membuat mata Karina terbuka perlahan menatap wajah pria di depannya, wajah suaminya, wajah dari anak-anaknya, wajah dari pria yang dicintainya, wajah yang sangat dirindukannya.


Melihat Derian memejamkan mata hingga meneteskan air mata dengan masih menggenggam tangannya sambil mengecup punggung tangannya lama. Membuat Karina semakin merasa bersalah telah meninggalkannya dulu. Air mata pun juga mengalir di pipinya.


"Maaf..."lirih Karina menyesal. Derian membuka mata mendapati Karina ikut menangis sedih.

__ADS_1


"Tidak, akulah yang seharusnya minta maaf. Aku yakin kau pasti punya alasan." sahut Derian mengusap air mata Karina yang semakin deras mengalir dan semakin kencang pula menangis.


"Maaf... maafkan aku!"ucap Karina lagi di sela tangisnya. Derian mendekat mengecup kening Karina lama, menyalurkan kekuatan pada wanita yang dicintainya itu. Dia tak akan tega melihat wanita ini menangis.


"Maaf... sungguh maafkan aku..."ucap Karina lagi. Derian menggelengkan kepala yakin.


"Aku juga minta maaf tak terlalu peka tentang apa yang membebanimu saat bersamaku. Seharusnya aku tau apa yang kau butuhkan. Pengakuan hubungan kita. Maaf.." Karina semakin terisak hingga tubuhnya bergetar.


Derian membiarkan perasaan Karina terluapkan dan tak henti-hentinya dia mengecup punggung tangan Karina.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2