
Adelia bergerak mondar-mandir di rumah kontrakan kecil itu. Setelah dia memutuskan untuk meninggalkan putrinya di rumah Derian, dia tak tau harus kemana. Orang tuanya bahkan mengusirnya saat mengetahui kenyataan dirinya telah mengkhianati Derian.
Untung Derian tak menuntut banyak hal pada mereka merasa putrinya telah mengkhianatinya terlalu jauh. Adelia menuju rumah kontrakan kekasihnya, ayah kandung Angel. Tentu saja pria itu ikut geram tak terima Adelia diperlakukan seperti sampah, yang habis manis sepah dibuang.
Pria ayah kandung Angel yang bernama Anton itu berang melihat Adelia datang tanpa sepeserpun dari perceraian pernikahannya. Sedang dirinya merelakan anaknya dibawa Adelia karena menginginkan uang yang lebih dari Derian lewat Adelia. Dan kini, Adelia sudah bukan siapa-siapa lagi bagi Derian dan tentu saja uangnya juga tak bisa Adelia berikan lagi dengan mudah seperti sebelumnya.
Anton pergi ke bar langganannya, memesan minuman beralkohol yang bisa membuat dirinya merasa lebih baik. Dia minum-minuman keras sambil berpikir cara untuk mendapatkan uang Derian dengan mudah, yang mungkin untuk sementara sudah tidak bisa lagi memanfaatkan Adelia.
***
"Kita pulang!"tegas Derian setelah lama berdebat dengan Karina.
"Kita memang akan pulang tapi ke rumahku?" jawab Karina tak mau kalah.
Entah kenapa Karina lebih memilih berdebat tanpa mau mengalah lagi pada Derian. Perpisahannya dengan Derian membuatnya semakin berani melawan keinginan Derian yang diktaktor dan posesif.
"Tidak. Kita pulang ke kota. Aku tak mau kau tinggal terpelosok di desa itu lagi."tegas Derian.
"Tapi semua barang-barangku ada disana. Dan lagipula aku juga belum mengurus kepindahanku."
"Aku akan mengurus itu semua."
"Aku akan mengurusnya sendiri, kalau kau mau kembali ke kota, kembalilah sendiri." tegas Karina juga membereskan pakaiannya selama tinggal di klinik.
"Apa maksudmu?"teriak Derian menarik lengan Karina yang memalingkan muka darinya.
"Mengertilah. Banyak hal yang harus kuselesaikan sebelum aku pindah."
"Sudah kukatakan aku yang akan mengurusnya, kau hanya harus membawa tubuhmu."seru Derian lagi mulai emosi.
Karina tak menjawab lagi, jika diteruskan perkataannya mereka pasti akan bertengkar lagi hanya karena hal sepele.
"Kau tak mau ikut denganku?Kau mau meninggalkannku lagi?" lirih Derian setelah lama saling diam, menundukkan kepalanya nada suaranya sudah terdengar sedih dan memprihatinkan. Karina yang awalnya tak memperhatikan, mau tak mau menghentikan gerakannya. Merasa kasihan terhadap perilakunya.
__ADS_1
"Maaf... Bukan maksudku seperti itu."ucap Karina lembut memeluk tubuh tinggi Derian, membenamkan wajahnya di dada bidang Derian, terdengar detak jantungnya yang sangat kencang.
Seperti habis lari maraton saja. Begitu takutkah dan trauma dirimu jika kutinggalkan? batin Karina mengecup dada bidang Derian meski terhalang baju Derian.
Derian membalas pelukan Karina, mengeratkan pelukannya, mengecup rambut Karina lembut.
"Aku sungguh takut, jika tak ada dirimu lagi disisiku?" rintih Derian menahan isakannya.
"Maaf... maafkan aku...Aku janji tak akan meninggalkanmu lagi. Tapi..."Karina menjeda kalimatnya.
"Tapi apa?"tanya Derian tak sabar melepas pelukannya menatap Karina lekat penuh cinta.
"Aku tak mau merusak rumah tanggamu?"
Derian tergelak, tertawa lepas menatap Karina. Karina yang kebingungan melihat reaksi Derian melongo.
"Jadi itu yang kau cemaskan selama ini?" tanya Derian tersenyum senang.
"Aku lupa. Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita di pengadilan agama, tinggal tanda tanganmu saja yang belum. Rencanaku setelah kita tiba di kota aku mau mengajakmu ke pengadilan agama untuk mengambil surat nikah kita."jelas Derian tersenyum senang, perasaan yang sejak tadi menghimpitnya kini terasa sudah terurai.
"Lalu? Adelia?"
"Ceritanya panjang, bisa sampai berhari-hari jika aku bercerita. Yang jelas sekarang kaulah istriku sah satu-satunya."ucap Derian mengecupi seluruh wajah Karina yang masih kebingungan.
Merasa lucu melihat Karina kebingungan, Derian mencium bibir Karina dalam dan Karina membalas ciuman itu. Saling mengecup, mencecap hingga saling bertukar saliva. Merasakan perasaan masing-masing lebih dalam lagi.
Dirasa dadanya sesak, Karina melepas ciuman itu. Keduanya sama-sama ngos-ngosan mengambil nafas.
"Aku mencintaimu...sangat..."ucap Derian lembut dengan wajah berkabut gairah karena hanya karena ciuman mereka.
"Aku juga... sangat mencintaimu."Derian tersenyum lebar mendengar ungkapan manis perasaan Karina hingga dirinya kembali ******* bibir Karina lagi. Karina malah tergelak geli.
"Tapi kumohon, biarkan aku pulang ke rumahku untuk beberapa hari membereskan semua urusanku disini." Derian menggeram, mengontrol emosinya, Karina benar-benar tak mengerti keinginannya mengapa dia tak menginginkan dirinya pulang lagi ke rumahnya di desa.
__ADS_1
"Ada bu Siti yang menemaniku, sementara selesaikan pekerjaanmu yang sudah lama kau tinggalkan disana."
"Sayang..."seru Derian tak sabaran.
"Setelah urusanku selesai kau bisa menjemputku!" hibur Karina mencoba meredam emosi Derian yang mulai muncul di matanya.
"Kau akan meninggalkanku lagi jika aku kembali ke kota?"seru Derian tak suka.
"Aku tak akan kemana-mana, aku janji."ucap Karina sambil mengangkat kedua jarinya membentuk angka dua yang berarti janji.
"Kau berkali-kali janji padaku. Tapi apa?" serunya lagi tak mempan bujukan Karina.
"Kau bisa menyuruh beberapa orangmu untuk mengawasiku."telak Karina membuat Derian salah tingkah.
Derian gugup mengetahui dirinya menyuruh beberapa orang untuk mengawasinya.
Derian menghela nafas panjang, mengalah meski tak rela, apalagi Karina menunjukkan wajah memelas dan pupy eyes nya yang membuat Derian luluh.
"Baiklah, aku percaya kali ini, tapi aku tetap akan menempatkan beberapa orang untuk menjagamu mungkin sekaligus mengawasimu. Aku akan kembali setelah urusanku selesai. Dan urus segera urusanmu, setelah aku datang aku harap tak ada penolakan lagi."ucap Derian akhirnya meski masih terdengar tak rela. Karina tersenyum memeluk Derian, begitupun Derian balas memeluknya erat.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih sudah memberikan dukungan 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1