
'Sedang apa sayang?' isi pesan Dion yang membuatnya tersenyum sendiri membaca kata sayang pada pesannya.
Angel mengambil ponselnya menatap layar ponselnya terkejut, demi membaca pesan Dion yang dikirim padanya apalagi fokusnya pada kata 'sayang'.
'Mengerjakan tugas, 10 menit lagi mungkin?' balas Angel pada pesannya.
'Mau kubantu?' Dion tersenyum.
'Ya, meskipun kau jenius, aku juga tidak bodoh juga kan?' Angel tersenyum senang.
'Besok jadi kan?' Dion tersenyum.
'Tentu.'
'Apa aku harus menjemput di depan rumahmu?'
'JANGAN.' Dion mengernyitkan dahi membaca pesan Angel yang tercetak kapital semua.
'Ada masalah?' balas pesan itu.
'Jemput aku besok di tempat biasa, akan kuceritakan besok saat bertemu.' pesan Angel, ditambah emoticon senyuman.
'Baiklah, sayang.' Angel tersenyum malu-malu membaca pesan itu.
'Selamat malam.'
'Malam. Mimpi aku ya sayang.' Angel hanya tersenyum menggelengkan kepalanya malu.
**
"Dimana ini?" tanya Angel setelah mereka tempat tujuan kencan mereka.
Hari itu akhir pekan. Angel mengiyakan ajakan kencan Dion untuk pertama kalinya menjadi kekasihnya. Ajakan Bryan di telpon ditolak langsung oleh Angel karena terlanjur berjanji pada Dion. Angel juga tak mengharapkan ajakan Bryan, kini dia punya alasan untuk menolak Bryan.
Mereka berdiri di sebuah kebun luas berhawa dingin. Seperti pegunungan di dataran tinggi. Tempat wisata para pasangan kekasih atau tempat para pemuda-pemudi menghabiskan waktu mereka. Tidak lebih dari satu jam tempatnya jika ditempuh dengan naik sepeda motor.
Tapi, kalau naik mobil pasti akan macet jalanan, apalagi akhir pekan. Dion menuntun Angel untuk duduk di batu pinggir tempat yang masih lumayan aman dan sepi belum banyak terjamah oleh manusia. Tempat itu memang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan tempat wisata sekalian mencuci mata para pemuda pemudi atau warga masyarakat yang ingin refreshing di akhir pekannya.
"Bukit Seduri." jawab Dion, membuat Angel menoleh menatap Dion lekat. Dion balas menatap, meraih jemari tangan Angel untuk digenggam erat olehnya.
__ADS_1
"Indahnya..." seru Angel kembali menatap ke bawah tebing yang masih lumayan aman karena pagar pembatas yang memang sengaja dibuat untuk pengamanan.
"Kau suka." bisik Dion lirih, mendekap tubuh Angel dari belakang. Entah kenapa Angel ikut menikmati dekapan yang begitu menghangatkannya.
Dion menyerukkan kepalanya pada leher Angel mencari kehangatan. Angel dibuat merinding atas perlakuan romantis Dion. Dion menghela nafas panjang. Dan Angel menyadari hal itu, dia hanya diam menunggu Dion bercerita jika memang ada masalah. Angel mengusak rambut Dion, tapi tak ada reaksi dari Dion. Malah semakin menghela nafasnya lagi.
"Aku merindukanmu." bisik Dion.
"Baru kemarin kita bertemu." tersenyum geli Angel merasakan hembusan nafas Dion menerpa tengkuknya.
"Kak." Dion mendongak meski dagunya masih menempel di bahu Angel. Yang sontak membuat Angel bertanya-tanya, setelah mereka jadian, Dion jarang memanggilnya kak, jika tidak ada hal serius yang ingin disampaikan padanya.
"Ya?" jawab Angel masih pada posisi yang sama.
"Aku gugup?"
"Gugup... tentang apa?"
"Orang tua kandungku mendesakku lagi ingin bertemu denganku?" curhat Dion masih di posisi yang sama. Angel sontak menoleh berbalik menatap wajah Dion yang terlihat banyak pikiran. Angel membelai pipi Dion lembut.
"Bukannya kau dulu sudah berniat untuk bertemu mereka. Berarti kau sudah bertemu dengan mereka sekali kan?" tanya Angel lembut. Dion balas menatap Angel lekat.
Keduanya hanyut dalam permainan bibir dan lidah mereka. Hingga nafas mereka semakin tipis, Dion melepas ciumannya. Menatap Angel intens, matanya yang sudah berkabut gairah tak ingin bertindak lebih, Dion memeluk tubuh Angel penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu, sejak dulu, sekarang dan selamanya. Sangat mencintaimu..." bisik Dion parau menahan hasratnya yang sudah tak terbendung lagi.
Bahkan sesuatu di bawah tubuhnya terasa sesak yang mungkin dirasakan Angel juga yang menghimpit di bawah tubuhnya. Dion mencoba menetralkan hasratnya menyerukkan kepalanya ke leher Angel tanpa melakukan apapun hanya menghirup aroma tubuh Angel yang membuatnya tenang.
"Aku juga." jawab Angel di dalam pelukan Dion.
Mereka duduk di bangku dekat pagar tebing tadi. Dion yang sudah bisa mengendalikan dirinya dan sekaligus menenangkan hatinya yang tadi mulai sedikit sesak karena memikirkan tentang ucapan Reno kemarin. Angel pun hanya diam menunggu Dion berbicara dengan meletakkan kepalanya di bahu Dion yang dirinya juga meletakkan kepalanya pada kepala Angel bersandar sedemikian rupa.
"Keluarga kandungku ingin aku menemui mereka lagi. Tempo hari aku tak jadi menemui mereka karena aku terkena sakit demam dan dirawat saat itu." Angel hanya diam tak berkomentar menunggu lanjutan cerita Dion.
"Entah kenapa aku tak mau bertemu mereka. Aku sudah nyaman dengan papa Reno." cerita Dion lagi.
"Bagaimanapun aku masih di bawah umur, masih dalam pengawasan orang tua dan harus menuruti apa keinginan mereka selama itu tentang hal kebaikan." Lanjut Dion lagi.
"Menurutmu apa yang harus kulakukan?" tanya Dion mengakhiri ceritanya. Angel masih diam, diapun ikut berpikir apa yang mesti harus dilakukan Dion.
__ADS_1
Mungkin Angel bukan merupakan putri kandung Derian dan Karina. Tapi, itu karena kedua orang tuanya yang sekarang lebih menyayanginya lebih dari orang tua kandungnya. Bahkan orang tuanya yang sekarang rela mendaftarkan namanya menjadi satu kartu keluarga meski dia tak berhak.
Karena jelas-jelas orang tua kandungnya bukan orang yang baik. Jadi dengan mudah orang tuanya sekarang mengadopsinya agar benar-benar menjadi anggota keluarganya yang sebenarnya.
Angel mendongak menatap Dion lembut.
"Kau yakin ingin mendengarkan pendapatku?" tanya Angel. Dion hanya mengangguk.
"Dion..." Dion menatap Angel lekat.
"Mungkin aku juga bukan anak kandung orang tuaku yang sekarang. Tapi mereka tetap menganggapku sebagai anak kandungnya. Karena mereka juga tau kalau orang tua kandungku bukan orang baik. Dan kurasa papamu benar, kau sebaiknya bertemu mereka terlebih dahulu. Setelah itu baru memutuskan untuk langkah selanjutnya." jelas Angel yang tak dijawab Dion masih menunggu perkataan Angel selanjutnya.
"Belum bertemu bukan berarti tidak baik. Tidak mau mendesakmu sejak dulu karena mungkin mereka pikir saat melihatmu saat ini kau sudah bahagia dengan keluarga papamu sekarang. Dan mungkin tak ingin mengganggu kebahagiaanmu saat ini. Apalagi mereka juga tau papamu tak berusaha punya anak lain selain dirimu. Itu artinya kau diperlakukan sangat baik oleh papamu sekarang. Jadi, hanya sekedar ingin bertemu, kurasa tak masalah." jelas Angel mengakhiri perkataannya.
Cup
Dion mengecup bibir Angel sekilas.
Cup
Mengecup lagi. Angel hanya pasrah sambil tersenyum manis.
Cup... ciuman itu kembali dalam dan lama.
"Kakak selalu bisa memberikan solusi terbaik untukku." ucap Dion setelah melepas ciumannya panjangnya.
"Terima kasih... Aku mencintaimu." Dion semakin tersenyum lebar mendapat ungkapan perasaan cinta dari orang yang selama ini diharapkan cintanya. Dia mencium Angel lebih dalam lagi.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.