
Sakit Karina membuat Derian lupa dengan masalah Angel dan melupakan sejenak pekerjaannya, semua sudah dihendel oleh Noah, sekretarisnya yang sangat berkompeten. Dia selalu berjaga di sisi istrinya merawatnya dengan telaten.
Bahkan sudah seharian penuh istrinya tak bangun sama sekali hanya sering kali mengigau tentang putrinya Angel. Dokter keluarga yang memeriksanya mengatakan, dia terlalu banyak pikiran yang membuatnya stres. Jadi harus banyak istirahat dan tidur yang cukup. Bahkan dia harus diinfus untuk mengisi asupan makanan yang tidak bisa masuk dalam tubuhnya.
Karina membuka matanya perlahan, dirasa tangannya seperti kebas karena tertindih sesuatu yang ternyata tubuh suaminya memeluknya dengan erat di sisi tubuhnya yang tidak dipasang infus.
Derian merasakan pergerakan pada tubuhnya dan sontak membuatnya terbangun.
"Kau sudah bangun sayang?" tanya Derian langsung duduk, menatap istrinya cemas sekaligus lega melihat istrinya sadar.
"Maaf..." jawaban Karina membuat Derian semakin cemas dan refleks membuatnya mendekap erat tubuh istrinya.
"Kau membuatku cemas, kau bahkan tak bangun selama dua hari. Aku sangat takut sekali." bisik suaminya lirih sedikit lebay.
Kini Derian menyuapi istrinya bubur, setelah beberapa hari ini tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Derian memaksa untuk makan.
Tok tok tok
Suara pintu kamarnya diketuk, Derian yang sedang sibuk menyuapi istrinya berdecak kesal.
"Masuk!" teriaknya, membuat Karina sontak mengelus lengan suaminya untuk ditenangkan. Derian langsung tersenyum kembali saat melihat istrinya mencoba mereda emosinya.
Salah seorang pelayan rumahnya masuk ke dalam kamar setelah instruksi majikannya yang mengizinkannya masuk.
"Ada apa?" seru Derian tak suka dan lagi-lagi Karina mengelus lengan suaminya lembut membuat agar suaminya tak mengeluarkan teriakan.
"Ada tamu yang datang mencari tuan besar?" jawab pelayan itu takut-takut dan gugup.
"Siapa?" Pelayan itu tak langsung menjawab, dia malah beralih menatap Karina, seolah ragu untuk mengatakan boleh atau tidak dia menjawabnya, karena peringatan ucapan tuan besarnya itu dua hari lalu.
"*Jangan pernah ada yang membahas cerita Angel dan Dion, kalian mengerti? Aku tak mau selama istriku sakit, ada yang menyebutkan kedua anak itu, kalian mengerti!" teriak Derian saat nyonya besar mereka ketahuan sakit tanpa satupun pelayan yang tahu.
"Baik tuan." jawab para pelayan itu yang sengaja dikumpulkannya pagi hari setelah kepanikan semua orang saat semalam teriakan tuan besarnya menggelegar memenuhi ruang keluarga itu*.
Derian yang seolah mengerti maksud pelayannya itu.
__ADS_1
"Suruh bi Ani kemari!" titah Derian tanpa menunggu jawaban pelayan itu.
"Baik tuan." pelayan itu langsung undur diri setelah menundukkan kepalanya dan berlalu pergi dari kamar majikannya itu.
Suasana ruang tamu rumah mewah Derian masih sama seperti biasanya. Tapi aura dari kedua orang yang sudah duduk di sofa ruang tamu itu semakin memanas. Derian mencoba bersabar dan menunggu keinginan bocah ini datang menemuinya.
Setelah beberapa waktu tak bertemu bocah itu terlihat berbeda, tubuh yang semakin tinggi wajah yang nyaris sempurna tanpa cela membuat Derian sedikit lebih bangga dan senang. Senyum seringainya muncul karena masih lama keduanya sama-sama dalam keheningan belum ada yang berbicara satu patah katapun.
Dion duduk di sofa itu menatap Derian dengan sorot mata penuh keyakinan meski dadanya terasa berdegup kencang karena gugup berhadapan dengan orang nomor satu di Aftano corporation. Orang nomor satu yang disegani begitu banyak orang.
Auranya memang tidak main-main begitu berwibawa, berkharisma dan sedikit menakutkan. Karena Dion sudah sering berhadapan dengannya Dion sudah sedikit tahu banyak bagaimana orang itu. Tapi ketakutan masih saja dirasakan saat berhadapan dengannya. Dion mencoba menekan perasaan takutnya demi memperjuangkan cintanya.
"Katakan!" seru Derian mulai bicara.
"I.. iya tuan." Derian mengernyitkan dahi tak suka, tapi tak menunjukkannya.
"Ada apa?" tanya Derian lagi.
Tiba-tiba Dion berdiri dan menggeser tubuhnya di sebelah sofa yang terdapat sebuah ruang kosong. Dia berlutut di hadapan Derian.
Derian merasa dia pantas untuk melakukannya. Derian menatapnya lekat masih menunggu kelanjutan ucapan bocah itu. Merasa tak ada jawaban atau penolakan respon dari Derian, Dion meneruskan ucapannya.
"Saya telah meniduri putri anda." suara singkat Dion berikutnya ini mampu membuat Derian langsung menarik kerah baju Dion yang sontak membuat Dion terkejut dan takut. Wajahnya langsung pias melihat aura kemarahan yang berlebihan dari sorot mata Derian.
Dion menelan ludahnya kasar merasa kesulitan bernafas, dadanya seperti tercekik dan kata-katanya langsung tercekat di tenggorokannya melihat kemarahan Derian tidak main-main dan malah sama dengan rumor yang didengarnya. Derian memang tak pernah main-main terhadap orang yang benar-benar salah.
"Kalau sampai hal itu benar-benar terjadi, kau pasti tak akan masih hidup hari ini." geram Derian dengan sorot mata mengintimidasi menekankan di setiap kata-katanya.
Derian melepas kerah baju Dion dengan sedikit hentakan yang tak berani apa-apa bagi tubuh Dion. Derian kembali duduk di sofa yang didudukinya tadi menunggu ucapan selanjutnya darinya. Dion berpikir lagi, dari ucapan yang dikatakan Derian seolah tahu kalau dirinya memang masih belum melakukannya sampai tahap akhir.
"Saya datang kemari hari ini ingin mempertanggungjawabkan perbuatan saya. Saya ingin melamar Angel putri anda untuk menjadi istri saya." ucap Dion tegas dan jelas. Derian menatap Dion lekat masih belum menjawab pernyataan Dion.
"Kau..."
"Ya tuan."
__ADS_1
"Kau sudah punya kartu tanda penduduk?"
"I.. iya... sudah tuan?"
"Kau tau berapa umurmu?"
"Tahu tuan."
"Dan kau juga tahu berapa umur putriku?"
"Iya tuan."
"Apa kau yakin dengan keinginanmu?"
"Iya."
"Kau yakin keputusanmu ini tidak akan mempengaruhi dirimu di masa depan?" Derian menatapnya Dion penuh intimidasi.
"Tidak. Saya sudah meyakinkan diri saya beberapa hari ini. Dan ini adalah keputusan yakin saya." jawab Dion tegas menatap kembali Derian mencoba menghilangkan kegugupannya dan ketakutan dari aura Derian. Derian menghela nafas panjang.
"Bukannya kau sudah melamar putriku?" pertanyaan Derian membuat Dion terkejut, dia langsung menetralkan degup jantungnya.
"Saya ingin meminta restu dari anda."
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏🙏
.
.
__ADS_1
.