Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 87


__ADS_3

"Kenapa kita tak mengatakan terus terang padanya?" tanya Dion saat mereka sudah sampai di apartemennya.


"Bukan sekarang mas." jawab Vio mengambil card key menempelkan di pintu apartemen dan terbuka. Mereka pun masuk ke dalam.


"Kapan?" tanya Dion menghentikan langkah istrinya untuk menuju kamar.


"Keadaan kak Angel belum stabil mas, mama bilang dia bisa sewaktu-waktu. Apalagi jika mendengar kabar yang mungkin mengejutkan." jelas Vio masuk ke dalam kamar mereka.


"Sepertinya dia sudah baik-baik saja. Terlihat sudah bisa menerima keadaan dan kenyataan yang terjadi padanya." jawab Dion mengikuti langkah istrinya.


"Dari luar mungkin terlihat seperti itu tapi hatinya masih rapuh mas. Dia hanya terlihat kuat dari luar." jelas Vio mulai membuka pakaiannya untuk mandi.


"Tapi sampai kapan seperti ini. Kurasa hubungan kita yang sebenarnya tak ada hubungan dengan hilangnya kak Al, dan tak mungkin akan mengubah kondisi kakakmu." jelas Dion lagi masih belum menyerah.


"Aku mau mandi dulu mas, baru kusiapkan makan malam." elak Vio masuk kamar mandi meninggalkan suaminya yang masih berdebat dengan hatinya.


'Kau tak tahu sayang, kakakmu sudah menatapku dengan pandangan berbeda, pandangan mata yang pernah kulihat di masa lalu. Dan aku tak mau terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Aku tak mau melakukan kesalahan itu. Karena aku hanya mencintaimu. Tapi bagaimana dengan kakakmu.' batin Dion mengusak wajahnya kasar.


Dion meletakkan jasnya di ranjang cucian beserta seluruh pakaiannya meninggalkan celana boxernya yang sering dipakainya jika di apartemen bersama istrinya. Tak lupa pakaian istrinya yang diletakkan sembarangan tadi.


"Apa yang kau masak?" tanya Dion memeluk tubuh istrinya dari belakang melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


"Sayang, geli..." jawab Vio merasakan kecupan di tengkuknya.


"Jangan terlalu capek. Kita bisa delivery saja. Aku tak mau terjadi sesuatu dengan anak kita." cemas Dion masih sambil mengecupi tengkuk istrinya dan meninggalkan jejak juga.


"Sayang, lepaskan dulu! Bagaimana aku menjawabmu... auw..." Dion menggigit tengkuk istrinya gemas, karena istrinya selalu punya jawaban untuk mengelak dari kata-katanya.


"Sayang... aku mau makan kamu saja." bisik Dion di telinga istrinya sambil menggigit kecil di telinganya.


"Ini masih pagi, apakah semalam belum puas juga, setelah semalam membuatku lelah?" jawab Vio.


"Itu belum cukup. Tubuhmu bagai candu untukku." bisik Dion parau dengan suara serak menahan hasratnya, gairahnya sudah berada di ubun-ubun.


Dibaliknya tubuh istrinya agar menghadapnya setelah mematikan kompor. Istrinya tak menolak atau membalasnya tapi terpatik juga gairah di sorot matanya meski merasakan tubuhnya sangat lelah. Hormon kehamilannya memang sangat membuatnya selalu bergairah saat sentuhan suaminya mulai menjalar di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Suaminya selalu tahu bagaimana membuatnya terbuai meski kelelahan melandanya. Kini keduanya melupakan makan malam mereka dan menuntaskan hasrat mereka di meja makan tanpa mempedulikan yang lainnya. Keduanya mencari kepuasan masing-masing, menyatu menjadi satu.


Dengan perlahan penuh kelembutan dilakukan sang suami agar tak menyakiti buah hatinya yang mungkin akan menerima goncangan yang dahsyat membuat keduanya terlena mereguk kenikmatan dan kepuasan yang tak terhingga.


Prank..


Suara piring jatuh membuat Karina mau tak mau berlari ke kamar Angel begitu juga Putri sang adik, yang baru pulang semalam mengurus bisnis butiknya yang mulai menambah cabang di kota tetangga, sehingga membuatnya jarang pulang ke rumah.


"Sayang..." seru Karina terkejut mendekati Angel yang sedang duduk di sofa hendak memunguti pecahan piring itu yang sudah ditahan para pelayan namun Angel sepertinya memaksa karena merasa bersalah sudah menjatuhkan piring sarapannya yang diminta untuk membawakannya ke kamar.


Karena entah kenapa seminggu ini dia merasa lemas tak bertenaga setelah morning sickness akibat kehamilannya. Sudah beberapa hari lalu dia tak mengalaminya tapi setelah beberapa waktu sudah seminggu ini pula hal itu sering terjadi setiap paginya. Membuat Angel lemah tak bertenaga, dia sudah memaksakan untuk makan tapi langsung dimuntahkan.


"Ma..." lirih Angel yang dipapah Karina menuju ranjangnya untuk berbaring.


"Jangan paksakan dirimu untuk bangun, tubuhmu sangat lemah. Berbaringlah, mama akan menyuapimu." ucap Karina merasa cemas.


"Makasih ma." lirih Angel tak bertenaga.


"Setiap hari seperti ini ma?" tanya Putri yang sejak tadi hanya menyimak ikut mendekati ranjang.


"Kita panggil dokter?" usul Putri.


"Hari ini memang jadwalnya untuk periksa ke dokter." jawab Karina.


"Sebaiknya minta dokter datang ma, kak Angel tidak mungkin ke rumah sakit dengan kondisi tubuhnya sekarang." usul Putri lagi.


"Mama juga berpikir begitu. Baiklah, makan dulu ya sayang!" ucap Karina beralih menatap Angel tersenyum getir.


"Aku mau istirahat saja ma, perutku masih tak enak. Aku takut jika memaksa akan muntah lagi. Hukk.." Angel menutup mulutnya merasakan mual yang mendera lagi, hendak bangun tapi tubuhnya terhuyung hingga mengurungkan niatnya untuk bangun.


"Sayang ..."


"Kak..."


Teriak Karina dan Putri bersamaan dan seketika tubuh Angel melemas dan pingsan. Karina panik dan Putri semakin cemas saja. Dia meraih ponselnya menghubungi dokter kandungan kakaknya. Karina hanya mampu bersedih dan cemas memanggil putrinya berkali-kali berharap masih di beri kesadaran.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kak Angel ma?" seru Vio yang diberi kabar pagi oleh Putri kakaknya yang mengatakan Angel pingsan lagi.


Vio tanpa banyak berpikir, dia segera mandi dan memoles dirinya asal setelah memakai pakaian.


"Ada apa sayang?" tanya Dion pagi melihat istrinya tergesa-gesa.


"Kak Angel pingsan lagi mas, aku mau melihatnya ke rumah mama." jawab Vio.


"Pingsan lagi. Tunggu, aku mengantarmu!" seru Dion beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, dia munculkan kepalanya lagi.


"Tunggu aku!" serunya lagi menatap istrinya lembut namun tegas. Dia tahu istrinya selalu nekat jika dirinya tak menegaskannya. Dan istrinya hanya tersenyum menanggapinya.


Setelah beberapa menit mereka tiba dan keduanya muncul di kamar Angel yang sedang diperiksa oleh dokter kandungan yang biasanya memeriksa Angel.


"Kita tunggu dokter memeriksa." jawab Karina melihat Vio yang sudah sampai bersama Dion yang ikut mendekat.


"Saya terpaksa untuk memberinya infus karena kondisi tubuhnya yang lemah. Sepertinya dia masih belum bisa menerima makanan yang pastinya akan langsung dimuntahkan kembali." jelas dokter itu.


"Iya dok, sudah seminggu ini seperti itu terus." jawab Karina sedih.


"Sepertinya anak itu merindukan ayahnya." ucap dokter itu.


"Ya?" tanya Karina yang kebingungan, bagaimanapun juga mereka belum menemukan jejak-jejak menantunya sudah beberapa bulan ini.


"Untuk saat ini kita lakukan semaksimal mungkin untuk mencegah mual dan muntahnya, akan lebih baik jika dari keluarga ayahnya, mungkin saja bisa menggantikan untuk menyuapinya atau merawatnya mungkin. Pasien terlihat sangat merindukan suaminya meski tak mengatakannya. Dan itu membuatnya stress dan sedikit mempengaruhi kondisi janinnya." jelas dokter itu yang reflek Karina dan Vio menatap Dion, sedang Dion yang paham arti tatapan istrinya dan mama mertuanya hanya menghela nafas berat dan panjang.


Merasa keberatan dalam hatinya meski dirinya tak menolak demi bayi yang sedang bertahan untuk hidup.


"Akan kucoba." jawab Dion menyerah, Karina dan Vio tersenyum. Dokter hanya menatap mereka tak paham dengan arti tatapan mereka.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2