
Brakk...
"Mama." seru Vio yang sudah diturunkan Dion tepat di depan kamar Karina, memaksa masuk kamar dengan setengah dipaksa.
Vio nyelonong masuk ke dalam kamar Karina, terlihat bi Ani yang sudah selesai mengobati dahi Karina yang tak sengaja terkena lemparan barang oleh Angel yang tiba-tiba histeris.
"Mama terluka?" tanya Vio cemas duduk di sisi ranjang Karina diikuti Dion dan bi Ani pamit untuk keluar kamar meneruskan pekerjaannya.
"Mama tak apa. Hanya luka kecil." jawab Karina tersenyum lembut menutupi luka yang tidak hanya kecil itu.
"Mama yakin hanya luka kecil? Bagaimana kalau kita periksakan ke rumah sakit?" saran Vio cemas.
"Sungguh. Mama tak apa. Sudah diobati bi Ani." jawab Karina tersenyum. Karina menoleh menatap Dion yang hanya diam menyimak.
"Kau tak ke kantor nak?" tanya Karina beralih menatap Dion.
"Sebentar lagi mas, setelah melihat keadaan mama yang katanya terluka." jawab Dion tersenyum.
"Sudah tak apa, berangkatlah ke kantor! Pasti kau sibuk kan?" ucap Karina tersenyum juga.
"Tentu ma. Sayang aku..." belum selesai Dion pamit pada istrinya suara benda pecah belah jatuh terdengar dari kamar tak jauh dari kamar Karina.
Prank...
"Angel..." ketiganya spontan menoleh ke arah suara.
"Kak Angel?" tanya Vio, mereka segera berlari menghampiri kamar Angel yang sudah ada dua pelayan yang sedang mengantar makanan yang selalu ditolak oleh Angel.
__ADS_1
Karina refleks menangis menutup mulutnya, melihat keadaan Angel yang tidak baik-baik saja. Dengan kamar berantakan dan semua barang berserakan. Angel terduduk lemas di sofa tak jauh dari jendela, menatap kosong ke depan setelah menolak makanan dengan tepisan tangannya.
"Kak Angel..." lirih Vio. Dion menatap shock dengan keadaan Angel yang semakin kurus.
Wajahnya berantakan, terlihat tak bersemangat dan kurang terawat. Dion merasa miris melihat keadaan Angel. Kehilangan orang yang dicintainya sungguh membuat seseorang hilang akal dan kewarasannya.
"Kakakmu sedang hamil."
"Apa?" jawab Vio terkejut, spontan menoleh menatap Karina bersamaan dengan Dion.
"Mama bingung bagaimana menyampaikannya, apalagi dokter menyarankannya untuk banyak makan makanan yang bergizi demi janinnya. Mama belum bisa mengatakan karena Angel selalu mengamuk setiap didekati. Mama takut terjadi sesuatu pada janinnya. Setidaknya dia harus makan untuk janin yang ada di perutnya." ucap Karina menangis sesenggukan.
"Akan kucoba." ucap Dion, melepas jasnya, memberikan pada istrinya.
Dia perlahan mendekat membawa sepiring makanan yang dibawakan pelayan tadi. Dion duduk di sebelah sofa yang diduduki angel.
"Kakak harus makan kan. Apalagi... ada malaikat kecil di perut kakak." bujuk Dion sambil menyendokkan makanan mulai menyuapi, Angel masih terdiam, tak merespon. Dion mendekatkan suapannya ke mulut Angel perlahan berharap bisa diterima.
"Kak Al akan sedih jika melihat keadaan kakak seperti ini. Apalagi ada malaikat kecil kakak, dia pasti akan kecewa jika dia pulang malaikat kecilnya tak diurus dengan baik." bujuk Dion lagi.
"Dia... meninggalkanku... Dia... melupakanku." lirih Angel tak berpaling terus menatap kosong keluar jendela tersenyum getir sudah mau merespon ucapan Dion.
Karina dan Vio yang masih berdiri di dekat pintu tersenyum senang, Angel mau merespon ucapan Dion.
"Dia tak meninggalkan kakak, dia hanya sedang pergi sebentar, mungkin menenangkan hatinya. Dan dia akan muncul di depan kakak mengejutkan kakak dan memberikan suatu kejutan. Dan dia pun pasti akan terkejut juga jika dia tahu kalau malaikat kecil kalian yang sedang tumbuh di perut kakak." bujuk Dion lagi dan suapannya pun diterima oleh Angel.
"Benarkah?" Angel menoleh menatap Dion lekat penuh harap.
__ADS_1
"Tentu. Dan kakak harus merawat diri kakak dan malaikat kecil kakak sampai kak Al kembali." ucap Dion.
"Kapan? Sampai kapan harus menunggunya?" tanya Angel masih menatap Dion lekat.
"Kurasa sampai kakak kembali sehat. Kak Al pasti kecewa melihat kondisi kakak seperti ini." ucap Dion menatap Angel dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah ingin menunjukkan kepada Angel keadaan buruknya.
Angel mengikuti arah pandang Dion, dia juga berhenti menatap perutnya, mengelusnya perlahan, seolah menyesali entah apa itu.
"Hiks...hiks... kau benar. Aku harus tetap bertahan untuk menunggunya dan merawat malaikat kecil kami." lirih Angel mengelus perutnya.
"Sekarang kakak makan dulu dan setelah ini rawatlah diri kakak." Angel mengangguk tersenyum senang.
Karina dan Vio yang melihat interaksi mereka sejak tadi sungguh terharu karena senang, bujukan Dion bisa merubah Angel, atau karena dia adik Al walau hanya adik tiri atau karena Dion dulu pernah mengisi hati Angel meski belum sepenuhnya menerima, tapi perhatian Dion seolah mengingatkan hubungan mereka dulu.
Entah kenapa Vio merasa sedikit takut melihat keadaan kakaknya lebih baiknya karena bujukan dari suaminya. Tapi Vio segera menepis perasaan buruknya itu. Dia percaya pada suaminya, bahwa kini dia hanya mencintainya.
Setelah makan, Angel meminta tolong pada Karina untuk membantu dirinya. Karina tentu senang sekali, karena Angel sudah mulai membuka hatinya. Karina mendampingi Angel mengurus dirinya.
Mandi, berpakaian, berhias berdua melakukannya membantu Angel. Kini keduanya sudah duduk di sofa kamar Angel berhadapan di sofa panjang. Di sofa tunggal terdapat Vio yang senyum-senyum sendiri melihat tingkah kedua wanita beda usia itu.
Vio ikut bahagia melihat perubahan yang terjadi pada kakaknya. Sedang Dion, dia pamit pergi ke kantor. Meski sudah terlambat, tapi Dion tetap berangkat demi keprofesionalannya.
TBC
.
.
__ADS_1
.