
Derian terduduk di kursi ruang kerjanya dengan Noah sekretaris terpercayanya berdiri di depannya dengan terdiam juga dengan tablet berada di tangannya. Setelah penjelasan Derian tentang informasi yang didapatkannya dari pulau B. Derian meminta Noah menyelidiki semuanya.
"Lakukan apapun untuk menemukannya Noah!" pinta Derian lemah.
Mungkin karena melihat istrinya yang ikut bersedih juga melihat keadaan putrinya membuat Derian lemah. Derian paling tidak bisa melihat istrinya bersedih dalam waktu yang lama.
Istrinya memang sungguh perasa dan mudah terharu. Jika sudah seperti ini Derian mau tak mau akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencarinya ke ujung dunia sekalipun demi menemukan menantunya.
"Baik tuan." jawab Noah.
"Ada sesuatu lagi yang mau kau sampaikan?" menatap Noah yang menatapnya dalam dan tidak segera beranjak dari tempatnya.
Derian tahu betul sekretarisnya itu. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi, informasi yang dicarinya selalu akurat dan benar. Itulah sebabnya Derian sangat mempercayai Noah. Dan kabar apapun tak luput dari perhatiannya.
"Ini tentang...." Noah menggantung kalimatnya.
"Katakan!" desak Derian menatap Noah lekat.
"Nona Vio." jawab Noah sudah merasakan hawa dingin dari tuannya itu.
"Ada apa dengan Vio?" tanya Derian memicing menebak sesuatu yang mungkin hal buruk terjadi juga pada putri kecilnya itu.
Vio putri kembarnya, putrinya dengan istri tercintanya, jika dia ditanya siapa putri kesayangannya, Derian akan mengatakannya bahwa Vio lah putri kesayangannya. Putrinya yang setelah lulus sekolah menengah melanjutkan pendidikannya di London.
Karena kecerdasan dan kejeniusannya dia mendapatkan beasiswa untuk sekolah di sana. Apalagi dia mendapatkan predikat siswa jenius dengan lompat kelas setahun lebih cepat serta penghargaan yang diperolehnya di Oxford university karena menciptakan sebuah aplikasi pencegah peretas.
Tapi Derian tak pernah menunjukkan rasa sayangnya itu di hadapan semua anak-anaknya, Derian tak mau membuat putri lainnya mengalami kecemburuan perlakuannya pada anak-anaknya. Mungkin hanya pada Arthur dia lebih overprotektif, karena Arthur satu-satunya putranya yang mungkin akan menjadi penerusnya kelak.
"Nona Vio telah menikah."
"APA?" teriak Derian emosi hingga dia berdiri dari tempat duduknya menatap Noah tajam dan dingin.
__ADS_1
Noah hanya mampu menelan ludahnya kasar. Tatapan intimidasi dan kemarahan tuannya sejak dulu mampu membuatnya tak berkutik, meski sejak dulu dia sudah terlalu sering menghadapinya tapi dirinya masih belum terbiasa terhadap tatapan kemarahan tuannya itu.
Noah, kini sudah memiliki putra yang sedang menyelesaikan kuliahnya yang digadang-gadang akan meneruskan pekerjaan papanya sebagai sekretaris yang mendampingi putra Derian kelak yaitu Arthur.
Noah menikah dengan salah satu asisten sekretaris kala itu mereka jatuh cinta meski semua itu tak luput campur tangan Karina istri tuannya. Kini istrinya tengah konsentrasi mengurus putrinya yang sudah mulai masuk sekolah menengah atas.
"Siapa pria brengsek yang berani menikahinya tanpa persetujuan dan restu dariku?" seru Derian mulai mengeluarkan kata-kata yang dinaikan beberapa oktaf.
"Itu..."
"Jelaskan semuanya Noah!" bentak Derian emosi.
"Dion adalah suaminya. Mereka menikah dua hari lalu tepatnya saat tuan dan nyonya sedang ke pulau B." jelas Noah mengatakan secara detail kisah cinta mereka, minus kehamilan putri majikannya itu.
Mendengar kabar mendadaknya pernikahan itu saja sudah begitu marahnya. Apalagi jika dia tahu tentang alasan mereka secepatnya menikah.
"Brengsek..." Derian meremas tablet Noah yang berisi informasi tentang putrinya dan Dion putra Reno yang menikah secara diam-diam, lengkap dimana, kapan mereka menikah dan tinggal serta siapa saja yang sudah mengetahui pernikahan mereka.
Entah kenapa hal itu membuat Derian merasa terkhianati oleh putri kecilnya itu. Dia sebagai papa kandungnya bisa melewatkan hal sepenting itu.
"Nona Vio sedang tak ada di apartemen, dia sedang pulang ke rumah mengunjungi nyonya Karina. Sedang Dion sedang ikut rapat pemegang saham di Perusahaan Reno yang akan mengumumkan Dion sebagai penerusnya sekaligus sebagai IT andalan di perusahaan itu." jelas Noah yang membuat Derian mengurungkan niatnya untuk pergi, dia kembali lagi duduk di kursinya, menghela nafas berat dan panjang. Memijat pelipisnya mencoba menenangkan dirinya.
"Apa pendapatmu tentang semua ini Noah?" tanya Derian lirih masih didengar Noah.
"Mungkin ada alasan kuat yang membuat mereka melaksanakan pernikahan secepatnya." jawab Noah hati-hati.
"Brengsek, dia tak mendapatkan kakaknya sekarang malah menikahi adiknya, putriku diam-diam." umpat Derian kesal.
"Mereka sudah mengenal sejak kuliah di London. Dan ...."
"Apa?" Derian menoleh menatap Noah.
__ADS_1
"Bahkan penghargaan yang didapatkan nona Vio itu hasil kerja sama dengannya." ucap Noah.
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya saat bertemu dan bersama di London, keduanya tak saling tahu kalau keluarganya saling terkait." jelas Noah lagi.
"Haaah... tetap saja aku tak suka, bagaimana mungkin aku bisa kecolongan terhadap hubungan mereka. Dan kau... bukannya aku menyuruhmu untuk mengawasi putriku disana?" bentak Derian menunjuk Noah.
"Tuan bilang akan mempercayakan nona Vio terhadap sepupunya tuan Dave disana." ucap Noah membela dirinya.
"Shit... Dave brengsek itu juga, dia tak mengatakan apapun, dia hanya bilang putriku baik-baik saja. Kurasa mereka sekongkol. Sial..." umpat Derian berdiri dari duduknya menatap jendela kaca yang ada di belakang kursinya.
**
"Ma." sapa Vio saat dia melihat Karina duduk di ruang keluarga rumahnya.
"Sayang." sapa Karina balik merentangkan kedua tangannya membuat Vio berhambur memeluk tubuh Karina.
"Bagaimana keadaan kakak ma?" tanya Vio sedih dengan tatapan sendu. Karina hanya menggeleng.
"Dia seperti orang yang kehilangan semangat. Bahkan kakakmu..." Karina tak melanjutkan ucapannya dia malah menangis bersedih mengingat kondisi Angel pagi ini masih banyak melamun menerawang jauh keluar jendela dengan tatapan mata kosong menyorotkan perasaan rindu pada suaminya yang kini entah dimana.
"Aku akan melihatnya sebentar ma." ucap Vio yang diangguki Karina. Vio beranjak dari tempatnya menuju kamar kakaknya Angel.
Vio membuka sedikit pintu kamar kakaknya. Mendekati ranjang menatap Angel yang sedang tertidur pulas seperti tanpa beban, tapi wajah tirus kakaknya yang tampak tak membuatnya lepas dari wajah cemas. Vio menatap trenyuh Angel dengan tatapan penuh rasa sedih. Perasaannya campur aduk melihat kesedihan yang tampak di dalam wajah pulas tidur kakaknya. Air matanya tanpa sadar menetes di pipinya.
"Semoga kakak di berikan kekuatan." bisik Vio lirih.
TBC.
.
__ADS_1
.
.