Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 99


__ADS_3

"Maaf ma aku...." Angel menggenggam jemari tangan Dion menyela pembicaraannya yang hendak pamit. Namun Angel menoleh menatap Karina.


"Ma, bagaimana kalau kita mampir ke rumah Vio? Aku belum mengunjungi keponakanku setelah lahir. Kau mau menemani kami kan Dion?" pinta Angel beralih menatap Dion dengan tatapan memohon.


Karina sontak juga menatap Karina dengan menggelengkan kepalanya saat Dion menatapnya meminta pendapat.


"Aku... aku harus..."


"Kumohon Dion, hanya mengantar, setelah kami sampai, kau bisa meninggalkan kami disana nanti." pinta Angel memotong ucapan Dion.


Dion ingin menolak, dia pun juga harus pulang untuk mengantar pesanan istrinya saat mampir pulang untuk makan siang. Apalagi sejak tadi ponselnya berdering panggilan dari istrinya. Dion merejectnya dengan mengirimkan pesan kalau saat ini sedang bersama Angel. Dan syukurlah istrinya tak menghubunginya lagi, mungkin istrinya memakluminya.


Namun hati seorang bagaimana bisa tenang saat membayangkan suaminya sedang berduaan dengan mantan kekasihnya yang notabene sekarang menjadi kakak iparnya. Vio tak berpikir jernih jika Angel juga ditemani mamanya juga. Kecemburuan sudah mendominasi seorang wanita yang baru menjadi seorang ibu dua bulan ini.


Vio mencoba meredam perasaannya dan mencoba percaya kalau suaminya akan baik-baik saja. Hingga putranya Rey menangis terus tanpa bisa didiamkan. Seolah tahu kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja.


Pengasuh yang sudah dipekerjakannya sampai mengambil alih gendongan putra majikannya itu karena tak seperti biasanya nyonya majikannya itu gelisah seperti hari ini. Pengasuh itu tak berani bertanya.


"Nyonya, istirahatlah jika anda lelah, aku akan mencoba menghibur putra anda!" saran pengasuh itu.


"Ah... ya? Aku tak apa, berikan putraku?" elak Vio.


"Anda sedang tidak baik-baik saja. Redakan dulu kegelisahan anda. Kasihan putra anda. Ikatan batin seorang ibu dan anak itu sangat kuat." hibur pengasuh itu yang memang sudah berumur setengah baya.


"Maaf, bibi... terima kasih." jawab Vio mendesah pelan. Dia mencoba membuang kecemasannya dengan menuju kamar mandi mencuci mukanya.


Ting tong ting tong


Bunyi tombol pintu rumah Vio berbunyi. Vio segera berlari sebelum bibi pengasuh membukanya karena sedang sibuk menenangkan sang anak.


"Biar aku saja bi." sela Vio saat bibi hendak menuju pintu.


"Baik nyonya."


Cklek


"Ya." Vio membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


"Hai..." sapa Angel melambaikan tangannya menatap Vio tersenyum.


"Hai, kak..." Vio memeluk kakaknya, pandangan Vio beralih pada sosok di belakang Angel. Vio hendak menyebut suaminya namun segera disela Karina.


"Sayang..." sapa Karina tersenyum bahagia.


"Mama...ayo masuk ma, kak!" ajak Vio masuk ke dalam diikuti Angel, Karina dan Dion yang sejak tadi hanya diam saja.


Dion menatap sorot mata kesedihan pada istrinya. Dion tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Namun bukan sekarang dia harus bertanya.


"Dimana putramu? Aku belum melihat putranya setelah dilahirkan." tanya Angel antusias.


"Dia di ruang tengah dengan bibi." jawab Vio mencoba menekan kegugupannya.


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Karina begitu mereka sampai di ruang tengah tempat putranya diasuh.


"Aku baik ma." jawab Vio memeluk tubuh Karina.


Dengan menatap tajam ke arah Dion yang berada di belakang Karina mengatupkan kedua tangannya di dada memohon maaf pada istrinya. Namun istrinya tak menggubrisnya. Dia ngambek dengan suaminya. Sementara Angel sedang menggoda putra kecil Vio.


Karina masuk ke dapur membuatkan camilan dan minuman untuk mereka semua. Meski Vio melarangnya tapi Karina tak menghiraukannya. Dan Vio masuk ke kamarnya diikuti Dion tanpa sepengetahuan Angel.


"Bolehkah?" jawab Angel balik bertanya dengan antusias.


"Tentu." jawab bibi.


"Bantu aku bibi!" pinta Angel menyiapkan tangannya untuk menggendong bayi.


Bibi meletakkan perlahan di tangan Angel dengan sangat hati-hati. Angel menimang-nimangnya dengan sangat antusias dan mengajak bicara bayi itu seolah dapat merespon ucapannya.


"Non, saya tinggal ke toilet dulu sebentar ya?" pinta bibi pada Angel.


"Iya bi." tak lama bayi itu tertidur dan Angel meletakkan si kecil ke dalam box bayi besar yang ada di kamar sebelah ruang keluarga tengah. Angel menelusuri rumah Vio setelah meletakkan bayi Vio.


**


"Kau marah sama mas?" pinta Dion memelas melihat istrinya mendiamkannya dengan ketus. Vio pura-pura sibuk di kamarnya tak menghiraukan suaminya.

__ADS_1


"Kumohon sayang, jangan seperti ini! Kau tahu aku tak tahan jika kau diamkan aku seperti ini." pinta Dion memelas sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Sampai kapan kita harus menyembunyikan hubungan kita pada kak Angel mas?" lirih Vio dalam dekapan suaminya.


"Aku pun juga ingin segera mengatakannya tapi mama melarangku. Aku tak sanggup menolak permintaan mama." ucap Dion menghela nafas panjang. Vio membalikkan tubuhnya menghadap Dion.


"Tapi sampai kapan mas, aku tak mau kucing-kucingan seperti ini? Aku pun juga tak mau mencurigai dan mencemburuimu terus-menerus. Kita harus segera mengatakannya pada kak Angel kalau kita adalah suami istri." ucap Vio.


Pluk...


Paper bag yang dibawa Angel yang hendak diberikan pada adiknya Vio terjatuh di ambang pintu kamar Vio yang setengah terbuka. Dion dan Vio sontak menoleh ke arah suara dan mendapati Angel yang menatap mereka kecewa dan benci.


"Ah, entah kenapa aku seperti orang bodoh saja disini." ucap Angel langsung meninggalkan rumah Vio menuju mobil keluarganya yang terparkir di halaman rumah Vio.


"Kita pulang pak!" seru Angel saat sopir tak segera berjalan.


"Tapi nona, nyonya..."


"Jalan!" bentak Angel membuat sopir ketakutan dan langsung tancap gas meninggalkan halaman rumah Vio.


"Kak Angel!" seru Vio yang tak sempat keburu mobil keluarganya meninggalkan halaman rumahnya.


"Dia sudah pergi?" tanya Dion panik mendekap tubuh istrinya yang merasa bersalah karena kakaknya harus mendengar kenyataan tentang hubungannya dengan Dion.


"Ada apa nak?" tanya Karina keheranan melihat Dion dan Vio berlarian, seketika Karina menatap mobil keluarganya tak ada di halaman tempatnya yang tadi diparkir.


"Kemana mobil keluarga kita?" tanya Karina lagi.


"Ma, ikuti kakak ma, dia tak sengaja mendengar percakapan kami tentang hubungan kami. Pasti kakak merasa tak dianggap karena belum mengetahui hubungan kami sebenarnya." ucap Vio cemas.


"Tentu." jawab Karina.


"Sayang, aku antar mama sebentar." Vio mengangguk, tak lupa mengecup bibir istrinya sekilas seolah meminta semangat agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2