
Menjadi satu-satunya tuan muda dalam keluarga besarnya tak membuat Arthur menjadi sombong. Meski wajahnya terlihat dingin dan tampan. Tak menyurutkan dirinya untuk selalu bersikap biasa pada siapapun. Terkadang dirinya bingung bagaimana mengungkapkan perasaannya pada semua orang.
Dia yang waktu sekolah menengah pertama pernah mengalami pembulian karena fisiknya yang obesitas dalam berat badannya membuatnya untuk melakukan diet mati-matian saat mulai memasuki sekolah menengah atas.
Karena tubuh gendutnya dulu dengan pipi chubby yang menggemaskan kadang membuat kakaknya Angel selalu menggodanya dengan mengusap rambut dan menunjuk perutnya yang obesitas.
Sekolah menengah atas pun dimulai namun dietnya benar-benar gagal, apalagi mamanya selalu memberikan banyak kue-kue manis yang merupakan kesukaan. Mamanya selalu mengatakan jika kelebihan berat badan bukan hal buruk, jika ada orang tidak menyukaimu karena fisikmu, itu artinya orang itu tidak benar-benar menyukaimu.
Sebaliknya jika dia memperlakukan seperti dia memperlakukan sama dengan orang lainnya. Itu artinya dia tidak membeda-bedakan antara teman. Dan carilah teman yang seperti itu, dia adalah teman yang benar-benar tulus mau berteman denganmu tanpa memandang apa milikmu dan apa bentuk tubuh dan wajahmu.
Namun pembulian tetap terjadi saat sekolah menengah atas membuat Arthur benar-benar frustasi dan putus asa bahkan saat mengatakan seberapa besar kekuasaan papanya tak membuat para pembuli itu jera.
Hingga suatu hari papanya yang terpaksa datang ke sekolah atas desakan istrinya terpaksa melaporkan pihak sekolah yang tidak memperhatikan kondisi anaknya membuat kepala sekolah itu berlutut hingga bersujud memohon ampun pada tuan besar Ferderian Zion Aftano meminta untuk dimaafkan dan tidak memperpanjang masalah itu.
Dan tetap menjadi donatur utama sekolah itu. Dan berjanji akan mengusut tuntas tentang pembulian yang mungkin saja terjadi tidak hanya pada putra kesayangannya Arthur.
Hingga memasuki usia kuliah, Arthur yang memang cerdas juga jenius meneruskan kuliahnya di New York berkat beasiswa dari sekolah karena kecerdasannya.
Dan mau tidak mau karena keinginan kuat putranya, Karina terpaksa mengizinkan putra kesayangannya itu untuk melanjutkan pendidikannya ke New York university. Saat itu berat badan Arthur masih bisa dikatakan gendut meski sudah tak obesitas seperti saat sekolah menengah atas.
Namun kerasnya kehidupan di New York membuat pemuda itu mau tak mau melakukan dietnya bukan karena niatnya namun karena tugas dan makan yang sering terlewatkan karena banyaknya tugas sebagai mahasiswa membuat berat badannya turun drastis. Dan tak lupa dengan kebiasaan gym nya yang sudah menjadi rutinitasnya membuat tubuhnya semakin kekar saja.
Meski dirinya tinggal sendiri di kota yang bahkan penduduknya tak pernah tidur itu. Arthur tetap menjunjung tinggi adat ketimuran tempat asal negaranya. Wejangan dan nasehat mamanya selalu terngiang-ngiang di telinganya setiap dia hendak melakukan kesalahan. Meski teman-temannya selalu mengajaknya minum-minum di club malam.
Arthur tak pernah sampai mabuk sekalipun. Dia selalu menahan diri untuk tidak mabuk, karena mabuk adalah malapetaka yang harus sangat dihindari. Karena dia tahu jika mamanya sampai mendengar hal itu, mau tak mau mamanya akan menyusulnya dan akan tinggal bersama dengannya sampai dia lulus. Dan hell... itu adalah sangat buruk.
__ADS_1
Dia tak malu, tapi dia tak mau teman-temannya menjelekkan mamanya orang yang sangat dicintainya dan dihormatinya menjadi bahan ejekan orang, itulah sebabnya dia sungguh menahan diri. Darimana Arthur tahu hal itu, papanya pasti tak akan tinggal diam tanpa meletakkan orang-orangnya untuk mengawasinya dari jauh.
Arthur pernah protes dan menolak namun hal itu percuma karena mustahil melawan papanya apalagi mamanya. Arthur terpaksa menerima dengan catatan awasi dari jauh. Dan jangan mendekat jika tidak benar-benar darurat. Dan jangan mengusik urusan pribadinya.
Masalah cinta, Arthur pernah menyukai seseorang waktu sekolah menengah atas namun pacar yang merupakan cinta pertamanya itu hanya memanfaatkan kekayaannya saja dan dia dijadikan bahan taruhan saja. Sejak itu Arthur tak pernah percaya dan mencintai gadis manapun.
Hanya mamanya yang dicintainya saat ini bukan orang lain. Dia selalu kagum akan perasaan cintanya pada papanya yang selalu saja bertambah setiap harinya pada papanya meski usia mereka tak lagi muda. Itulah yang membuat Arthur iri, semoga dia juga mendapatkan cinta sejati seperti kedua orang tuanya.
Kini dirinya tengah duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja perusahaan Aftano corporation. Meneruskan papanya yang sudah mulai menua dan enggan mengurus perusahaan lagi. Karena ingin menghabiskan waktu bersama istri tercintanya. Arthur selalu iri dan bahagia melihat orang tuanya.
"Tuan muda, meeting dua puluh menit lagi." ucap sekretarisnya Zein yang juga orang kepercayaannya, dia dulu sahabatnya waktu sekolah menengah pertama dan mereka harus berpisah karena keterbatasan biaya saat memasuki sekolah menengah atas dan keluarga Arthur lah yang membiayai sekolahnya hingga kuliah karena ketulusan Zein yang selalu di barisan paling depan saat Arthur dibuli.
Namun tubuh kecilnya yang selalu dipukuli pertama kali saat pembulian itu. Zein tetap tak pernah menyerah untuk melindungi sang tuan muda dari pembulian itu.
"Semua sudah siap tinggal menunggu anda tuan." jawab Zein menunduk.
"Jangan panggil aku tuan, aku tidak setua itu Zein?" protes Arthur.
"Saya tidak bisa tuan." jawab Zein kekeh dengan tampang datarnya meski tidak dingin.
"Zein... Lakukan jika saat kita berdua saja. Tidak ada bantahan." seru Arthur meneruskan menandatangani berkas yang tinggal beberapa.
Zein menutup mulutnya kembali saat mendengar kalimat terakhir tuan mudanya. Jika tuan mudanya sudah bicara tegas seperti itu, Zein tak berani membantah.
"Ayo!" Arthur berdiri dari kursinya menuju ruang meeting.
__ADS_1
"Kau sudah menemukannya?" tanya Arthur lirih hampir tak terdengar tapi masih terdengar Zein yang berjalan disisinya.
"Maaf, Art, aku sudah berusaha." jawab Zein penuh sesal.
"It's okay." jawab Arthur sedikit kecewa dan menghela nafas panjang menepuk pundak Zein yang penuh rasa penyesalan.
.
.
.
Hai, para pembaca. Terima kasih sudah membaca karyaku dan mendukungnya. Terus dukung karyaku. Karya ini akan update awal bulan depan di judul baru. Mohon dukungannya dan ikuti terus ya. 🙏🙏
Kisah tuan muda Aftano penerus Aftano corporation. Semoga kalian suka.🙏
Salam penulis
Arazy
.
.
.
__ADS_1