Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 15


__ADS_3

Dion merasa tubuhnya lemas, entah kenapa hari ini malas untuknya bangun dari tempat tidurnya. Dion menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Dan kenapa udara pagi itu sangat dingin. Wajah Dion serasa terbakar. Hingga pukul 8 pagi, Reno menatap heran meja makan hanya ada dirinya.


"Dimana Dion bi?" tanya Reno melihat PRT rumahnya melintas di ruang makan.


"Sejak pagi den Dion belum keluar kamarnya tuan?" jawab PRT paruh baya itu sopan.


"Belum keluar? Apa dia lupa tujuannya hari ini? Dia tak berniat membatalkan niatnya kan?" gumam Reno.


"Coba kau lihat bi?" titah Reno melanjutkan membaca laporan perusahaannya lewat tabletnya.


"Iya tuan." jawab PRT itu berlalu ke kamar putra majikannya.


Setengah jam Reno menunggu masih belum ada tanda-tanda Dion turun. Reno menuju kamar Dion. Bersisipan dengan PRT rumahnya.


"Saya ketuk pintunya nggak dibuka tuan? Terus nggak ada sahutan juga dari dalam kamar. Pintunya juga dikunci dari dalam tuan." jelas PRT itu cemas.


"Coba ambil kunci cadangan bi!" titah Reno berjalan menuju kamar Dion.


Tok tok tok


"Dion, buka pintunya! Kau tak lupa kalau kita punya rencana hari ini kan?" ucap Reno berseru kencang agar didengar putranya.


"Ini tuan kunci cadangannya." ucap PRT itu menyerahkan kunci cadangan pintu seluruh rumah.


Reno mencari kuncinya dan membuka pintu itu. Reno masuk ke dalam kamar melihat sekeliling, kamar yang tak terlalu berantakan untuk seorang anak laki-laki. Beralih menatap ranjang melihat pergerakan kecil sesuatu di dalam selimut itu. Bibi juga mengikuti dari belakang melihat situasi.


"Dion, kau tak apa?" tanya Reno membuka selimut Dion dan melihat Dion menggigil. Reno menyentuh dahi Dion dengan punggung tangannya dan sangat panas sekali.


"Bi, hubungi dokter, sekarang!" seru Reno cemas, membuka selimut Dion. Melihat putranya gemetar menggigil dengan gigi bergemelatuk seperti menahan rasa sakit.


"Iya tuan." PRT itu langsung berlari ke lantai bawah mengambil telpon rumah menghubungi dokter keluarga majikannya.


Reno mengusap kening Dion yang dibasahi keringat, melepas bajunya menggantinya dengan baju yang lebih kering. Sekujur tubuhnya berkeringat dan basah.


Tak lama, dokter keluarga datang memeriksa keadaan Dion dengan teliti.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Reno sedikit panik meski bisa dikuasainya.

__ADS_1


"Putra tuan demam, mungkin kecapean. Tapi sepertinya kondisi emosinya sedang tidak stabil. Seperti mengalami stres berat." jelas dokter itu.


"Stres? Apa maksudmu dok? Apa anak sekecil ini bisa stres?" seru Reno emosi, entah kenapa mendengar penjelasan dokter membuatnya emosi.


"Mungkin ada masalah yang membuatnya berpikir keras dalam beberapa hari ini?" tanya dokter itu tersenyum ramah melihat kecemasan pada pria yang sudah tak lagi muda itu.


"Ah, begitukah?" jawab Reno paham maksud dokter. Mungkinkah masalah bertemu dengan orang tua kandungnya membuat berpikir keras? batin Reno miris.


Dokter pun pamit setelah menyerahkan resep itu pada PRT rumah itu dan menebusnya di apotik terdekat.


Segitu tak maunya kamu bertemu dengan kedua orang tua kandungmu? batin Reno mengelus pucuk rambut Dion penuh kasih. Reno menghela nafas panjang, berlalu dari kamar putranya setelah menyuapi dan meminumkan obat dari resep dokter tadi.


Ponsel Reno berdering, Reno sudah menebak panggilan dari siapa itu.


"Halo." ucap Reno menjawab panggilan itu.


"..."


"Dia sedang sakit. Dan maaf, kami terpaksa menunda untuk menemui kalian." jelas Reno yang dijawab dengan nada sengit.


"..."


"..."


"Terserah kau percaya atau tidak, Dion sakit karena terlalu keras berpikir tentang fakta yang harus diketahuinya. Mungkin dia terbebani dengan fakta ini." jelas Reno, suara di seberang terdiam.


"Kalau dia sudah membaik aku akan mengantarnya menemuimu." ucap Reno lagi melanjutkan ucapannya karena tak kunjung mendapat jawaban dari seberang. Dan langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari lawan telponnya.


**


Keluarga Derian termasuk anak-anaknya sudah bersiap untuk menyambut tamu mereka. Persiapan makan siang juga sudah terhidang sempurna tanpa kurang suatu apapun.


Anak-anak menunggu dengan sangat bosan, berharap tamu dan acara segera berakhir. Meski Derian tunduk dan patuh pada istrinya karena terlalu mencintainya. Anak-anak tetaplah segan dan sedikit takut jika papanya membuat keputusan. Selain menurutinya mereka tak punya pilihan lain.


"Tuan Atmaja, selamat datang." sambut Derian tersenyum ramah menyambut tamu istimewa yang ditunggunya sudah tiba beserta kedua putra dan putrinya.


Tuan Atmaja sudah lumayan umurnya. Dengan memiliki dua putra dan satu putrinya. Putra pertama sudah berkeluarga dan memilih untuk mengurus cabang mereka di pinggiran kota. Sedang perusahaannya yang di kota mungkin akan diurus putra keduanya sesudah wisuda kuliahnya tahun depan.

__ADS_1


Bahkan putra keduanya sudah sedikit banyak mulai belajar mewarisi pekerjaan papanya.


"Terima kasih tuan, Bagaimana kabar anda?" jawab Atmaja balik bertanya.


"Baik.. sungguh baik. Semoga anda pun sama." jawab Derian tersenyum ramah, saling sapa dan saling bersalaman dan pelukan lelaki.


Begitu juga nyonya Atmaja dan Karina tak ketinggalan untuk saling sapa dan saling bertukar kabar. Sedang putri bungsu Atmaja mendekati Putri yang merupakan teman satu sekolah mereka, meski tak terlalu akrab tapi saling mengetahui jika mereka satu sekolah.


Dan putra kedua Atmaja mendekati Angel yang sangat seolah tak berminat dengan pertemuan ini. Dia bahkan sedang bertukar pesan dengan Al yang katanya urusan mereka disana terpaksa dibatalkan karena orang yang ingin ditemui tak jadi datang karena sakit.


"Apa kabar?" sapa putra kedua Atmaja setelah berada di hadapan Angel. Angel yang tak begitu berminat pada pertemuan itu mendongak tanpa semangat menatap sosok pria yang berdiri di hadapannya.


"Kak Bryan?" ucap Angel terkejut sontak dia berdiri dari duduknya.


"Perkenalkan Bryan Putra Atmaja." ucap Bryan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Angel menatap uluran tangan itu, ragu untuk menerima uluran tangan itu. Demi memenuhi dan menghormati papanya di depan keluarga mereka Angel terpaksa menerima uluran tangan itu berjabat tangan, tapi tangan Angel tak segera dilepaskannya.


"Bisa lepaskan tangan saya?" ucap Angel tersenyum pura-pura ramah.


"Ah, maaf." goda Bryan, mereka semua duduk di sofa ruang tamu keluarga Derian.


Anak-anak saling diam. Hanya para orang tua yang saling berbicara. Bryan terus menerus menatap Angel lekat, melihat dengan teliti setiap sudut tubuh Angel. Angel yang merasa diperhatikan Bryan dengan mata seolah-olah menelanjanginya merasa risih dan sebal.


"Bagaimana kalau kita makan siang sekarang sebelum melanjutkan obrolan kita?" ajak Derian setelah istrinya memberikan kode.


"Tentu. Mari!" jawab Atmaja yang diiyakannya dan mereka semua duduk di kursi masing-masing.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2