
Angel segera keluar dari mobil sebelum pelayan membukakan pintu untuknya setelah Karina memarkirkan mobilnya di garasi. Karina mengikuti langkah Angel yang terlihat masih kesal dengan kejadian di sekolah tadi, sapaan para pelayan di rumah tak digubrisnya.
Angel langsung berlari ke kamarnya mengunci pintu kamar. Angel sudah minta izin untuk punya kamar sendiri dan segala keperluannya sudah disiapkan sendiri tanpa bantuan bibi pengasuh. Hanya sesekali Karina mengeceknya berharap tak ada kesalahan saat putrinya itu lepas dari pengawasan pengasuh. Dan ternyata Angel benar-benar bisa bersikap mandiri lebih baik dari pada anak di usianya.
"Tolong bantu anak-anak bi?"pinta Karina, dirinya beranjak ke dapur menyiapkan makan siang untuknya dan semua keluarganya apalagi suaminya bilang akan makan siang di rumah.
"Iya nyonya..."jawab bibi pengasuh.
Bibi pengasuh tinggal dua orang, satu mengurus Arthur yang juga sudah tidur di kamar sendiri. Bagaimana pun juga biarpun Anthur masih anak-anak, dia tetaplah laki-laki. Akan lebih baik kebiasaan perbedaan jenis kelamin diajarkan sejak kecil.
Dan satu pengasuh untuk Vio dan Putri, mereka tak keberatan meski berada satu kamar yang sama, demi memudahkan bibi pengasuh mengurus mereka bersamaan.
"Ayo... anak-anak, kita makan siang dulu."seru Karina memanggil semua anaknya yang sedang bermain di kamar bermain.
Suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah Karina. Dirinya segera berlari ke depan menyambut kedatangan suaminya.
"Sayang ..."sapa Karina menatap Derian yang berwajah kusut.
Karina mengambil jas suaminya yang tersampir di lengannya tak berani bertanya. Derian mengendurkan dasinya mencoba mengontrol agar tak emosi, meeting akhir bulan dengan para karyawan berjalan tidak lancar, diketahuinya banyak terjadi tindak korupsi. Derian berteriak kesal di ruang meeting tadi meminta Noah untuk menyelidiki tindak korupsi itu.
"Mau mandi atau makan dulu?"tanya Karina lembut, Karina tau suasana hati suaminya sedang buruk.
Saat melewati meja makan Karina meminta bi Ani untuk membantu anak-anak makan terlebih dahulu. Bi Ani yang sudah hapal majikannya tak banyak bertanya hanya mengangguk mengiyakan.
"Akan kusiapkan air hangat untuk membuat tubuhmu relaks."ucap Karina lembut tapi pergelangan tangannya ditarik Derian hingga membentur dada bidang Derian. Karina hanya menurut mengeratkan dekapan tubuh suaminya.
"Aku menginginkanmu." bisiknya mengecupi seluruh wajah Karina intens.
Suasana hatinya memang buruk saat di kantor, Derian perlu melampiaskannya. Dan hanya pada istrinya Karina, Derian bisa meredam emosi amarahnya. Karina tak ingin menolak, dia hanya mengikuti dan menikmati sentuhan lembut suaminya. Hingga desahan keduanya terdengar membuat mereka berteriak nikmat.
__ADS_1
Untung saja kamar utama mereka kedap suara, Derian memang sengaja membuatnya seperti itu untuk membuat kegiatan percintaan mereka tak ada gangguan atau didengar orang lain.
Tak lama hanya beberapa jam percintaan panas itu terjadi, itu sedikit banyak membuat Derian lebih baik. Sungguh istrinya bisa menjadi obatnya menghilangkan mood buruknya.
**
"Papa..."sapa keempat anaknya bersamaan saat Derian tiba di meja makan duduk di tempatnya.
"Kalian nggak nakal kan?"tanya Derian basa-basi melihat keempat anaknya bersemangat.
"Nggak pa..."jawab mereka serentak, kecuali Angel masih cemberut meminta perhatian Derian.
Karina menyenggol lengan suaminya setelah menyerahkan makanan yang sudah disiapkan untuk suaminya. Karina menunjuk pada Angel dengan dagunya. Derian menatap Angel yang tak seperti biasanya, seperti menunggu untuk ditanyai tentang masalahnya.
"Tidak terjadi apapun kan di sekolah kalian?" tanya Derian melirik pada Angel yang semakin cemberut, bibirnya sengaja dibuat secemberut mungkin.
"Kau ada masalah di sekolahmu sayang?" tanya Derian menatap Angel lekat yang tidak ikut menjawab pertanyaannya.
"Dion menguntit kak Angel."jawab Putri yang menjawab pertanyaan Derian.
Derian dan Karina saling menatap terkejut dengan perkataan Putri. Angel menatap tajam kearah Putri, padahal Angel sudah mengatakan padanya untuk tidak bicara apapun pada orang tua mereka.
"Sayang... Apa maksud adikmu?" tanya Derian lagi butuh penjelasan sambil meneruskan makannya, seolah tak begitu peduli dengan masalah Angel. Angel hanya diam.
"Aku sudah selesai makan."pamitnya beranjak meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
Panggilan papanya tak dihiraukan sama sekali.
"Aku akan coba bicara padanya nanti." ucap Karina menenangkan emosi Derian sambil mengelus lengan suaminya. Derian hanya menghela nafas.
__ADS_1
"Anak-anak cepat habiskan makannya dan tidur siang sebentar ya?"ucap Karina memecah keheningan yang membuat anak-anaknya agak sedikit takut dengan teriakan papanya sejenak.
Memang anak-anaknya ketakutan saat Derian sudah berteriak. Apalagi saat emosi Derian sedang buruk, Karina berkali-kali menasehati untuk tidak sering berteriak di dekat anak-anaknya demi mental mereka.
Seolah itu semua sudah membekas pada diri anak-anaknya, bagaimanapun Karina menjelaskan untuk tidak terlalu takut pada papanya, takutlah karena kalian menghormatinya, bukan takut karena kemarahannya. Tapi terlalu lamanya Karina koma membuat ketakutan anak-anaknya sudah melekat pada diri mereka, mungkin agak sulit dihilangkan.
Tok tok tok
"Ini mama sayang? Boleh mama masuk?" tanya Karina mengetuk pintu kamar Angel setelah selesai makan siang dan mengantar suaminya sampai depan pintu masuk rumah.
Angel membuka pintu perlahan, membukanya lebih lebar mengizinkan Karina masuk.
Karina masuk ke dalam kamar dan duduk di ranjang Angel.
"Duduk sini!"ajak Karina menepuk ranjang di samping dirinya duduk. Angel menurut dan duduk di sisi Karina di tepi ranjang.
"Kau yakin tak mau cerita sama mama?" tanya Karina sambil mengelus rambut Angel yang sudah mulai panjang tapi terawat sehingga lembut saat dibelai Karina. Angel masih diam, tak menjawab.
"Apa mama, masih belum pantas menjadi mamamu?" keluh Karina pura-pura sedih dengan menundukkan wajahnya. Angel langsung memeluk Karina dari samping.
"Maaf ma, bukan itu maksud Angel."jawab Angel akhirnya.
Mohon dukungannya 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1