
"Papa..."panggil Angel lemah saat melihat Derian hendak keluar kamar tempat perawatan putrinya.
"Sayang... kau sudah bangun?Mau makan?" hibur Adelia saat melihat putrinya sadar.
"Papa..." panggil Angel lagi karena Derian tak segera mendekatinya.
Derian berbalik mendekati ranjang Angel di sisi ranjang lain tempat Adelia berada.
"Ya sayang?"tanya Derian mengusap rambut Angel, mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar lebih jelas suara Angel.
"Papa...jangan...pergi..."ucap Angel lirih terbata-bata.
"Papa tak akan pergi. Papa akan tetap disini. Menemanimu. Ok?"hibur Derian duduk di kursi dekat ranjang, masih menggenggam jemari tangan Angel yang diinfus, sedang jemari Angel lainnya digenggam Adelia.
"Angel lapar pa?"
"Angel mau makan?Biar papa suapin?" Adelia menyerahkan tempat makanan yang disiapkan rumah sakit. Sebenarnya Derian tak sudi berada di tempat yang sama, berada dekat dengan Adelia. Tapi demi putrinya, Derian menurunkan sedikit egonya dengan harapan Adelia tau untuk segera meninggalkan ruangan itu.
Derian menyuapi Angel dengan telaten.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dia lupa untuk menghubungi Karina, bergegas dia mengambil ponselnya dan sialnya ponselnya mati. Derian hendak beranjak meninggalkan ruangan Angel sebentar mengambil pengisi dayanya di mobil. Tapi tangannya digenggam erat Angel berharap papanya tak meninggalkan barang sedetikpun.
Derian menghela nafas berat, mengalah untuk tetap duduk kembali di kursi dekat ranjang Angel. Adelia sudah kembali pulang ke rumah karena merasa dia tak dihiraukan disitu oleh putrinya ataupun oleh suaminya.
Adelia menghentakkan kakinya kesal saat sudah keluar dari gerbang depan rumah sakit.
"Brengsek... bahkan putrikupun tak memperdulikan aku?Yang dicari mereka selalu papa.. papa..dan papa mereka."umpat Adelia kesal. Adelia melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.
Pukul 2 pagi, Derian tersentak membuka matanya perlahan, dirinya terlelap pulas sambil masih duduk di kursi samping ranjang dengan jemari tangan Angel masih dalam genggamannya. Menatap jam dinding sudah hampir pagi, teringat kalau ponselnya mati.
Bahkan dirinya belum menghubungi Karina sama sekali. Derian melepaskan pegangan tangannya perlahan berharap Angel tak bangun saat dilepaskan.
Derian segera berlari ke tempat parkir mobilnya berada, mencari-cari pengisi dayanya. Sudah dicari kemanapun tak ada dimana-mana, dia teringat tadi meninggalkannya di meja kantornya.
"Shit..."Derian mengumpat kesal, segera lari ke bagian informasi rumah sakit berharap ada salah satu perawat memiliki pengisi daya.
__ADS_1
Dirinya sungguh tak nyaman, firasat buruknya dikira sudah berakhir atas kecelakaan yang terjadi pada putrinya, tapi entah kenapa setelah kata-kata dokter mengatakan tak terjadi masalah serius Derian bernafas lega berharap firasat buruknya akan segera hilang. Tapi sampai saat ini dirinya seperti merasa ada sesuatu yang mengganjal dan dia belum tau apa itu.
"Maaf sus, bisa pinjam pengisi dayanya, ponselku mati dan pengisi dayaku ketinggalan di rumah?"harap Derian. Para perawat itu malah melongo, terpesona pada ketampanan Derian hingga tak mendengar apapun perkataan Derian. Derian mencoba berbicara lagi.
"Ah tentu... silahkan!"jawab salah satu perawat itu mengulurkan pengisi daya colokan.
"Terima kasih."jawab Derian tersenyum manis membuat para perawat meleleh kesenangan.
Derian segera berlari kecil menuju kamar tempat putrinya dirawat. Menyolokkan pengisi daya itu menancapkan di ponselnya, diletakkan di meja menunggu mengisi beberapa hingga bisa dinyalakan.
Saat ponsel dinyalakan terdapat 25 panggilan tak terjawab dari Noah, tapi tak ada satupun panggilan dari Karina. Kecemasan dan ketakutan mulai merasuki Derian. Ditekannya nomer Noah tak diangkat hingga panggilan kedua, saat panggilan ke tiga Noah yang baru tertidur beberapa jam lalu mengumpat kesal.
Dia sudah menebak siapa yang berani menghubungi dirinya saat waktu hampir pagi kalau bukan tuannya yang sejak siang tadi tak bisa dihubungi. Tuannya tak mengatakan apapun hanya dia harus ke rumah sakit, tak menjelaskan siapa,kenapa, dan apa yang sedang terjadi.
Noah juga sudah menebak saat melihat pengisi daya tuannya tergeletak di meja kerjanya. Noah menghela nafas panjang sebelum mengangkat panggilan tuannya.
"Ya tuan?"
"..."
"Saya sudah pulang pukul 11 tadi."
"..."
"..."
"Apa tuan yakin saya harus datang ke apartemen anda jam segini?" Noah hanya menjerit kesal dalam hati tak berani merealisasikan jeritan hatinya apalagi dalam situasi yang agak 'panas' ini.
"..."
"Bukan. Maksud saya mungkin nona Karina sedang tidur. Saya takut mengganggu."
"..."
"Baiklah, besok pagi sekali saya akan datang ke apartemen anda."ponsel ditutup Noah kembali tidur, matanya sudah tidak bisa diajak kompromi.
__ADS_1
Sebentar saja dia sudah terlelap kembali dengan ponsel masih menempel di telinganya. Pekerjaannya hari ini saat tuannya tak ada disisinya pasti membuatnya lembur semalaman, mungkin tak akan selesai jika dirinya tak menghentikannya. Tapi semua itu sepadan dengan gaji yang diterimanya, melebihi batas kewajaran tuannya memberikannya.
Derian kembali mendekat ke arah ranjang melihat pergerakan Angel yang terbangun.
"Kau butuh sesuatu sayang?"tanya Derian mendekati putrinya.
"Haus pa?"lirih Angel, segera diberinya air yang sudah disiapkan di meja samping ranjang ruang perawatannya.
**
Jam 5 pagi Noah sudah berlarian di lorong rumah sakit, tuannya menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit membawa baju ganti serta laptop dan notebook kerjanya.
Mendadak Derian menerima panggilan darurat dari klien pentingnya di Sing*pur* yang mengatakan ingin mengadakan meeting mendadak tentang proyek kerja mereka dalam satu jam lagi. Karena setelah itu mereka mau mengunjungi beberapa anak perusahaan yang ikut juga bekerja sama dalam proyek tersebut.
"Apa kau sudah datang ke apartemenku?" tanya Derian saat Noah datang menyodorkan setelah jas formalnya untuk ganti baju.
"Belum tuan?"
"Apa maksudmu belum?Aku menyuruhmu pagi-pagi sekali untuk melihat Karina di apartemenku?" teriak Derian marah mengurungkan niatnya untuk mandi dan ganti baju.
"Anda menyuruh saya segera datang kesini sekalian dengan membawa baju ganti anda karena anda akan meeting secara online dengan klien anda." jawab Noah tak mau disalahkan, dia sudah berusaha membuat kebutuhan tuannya itu terpenuhi sebagai mana mestinya meski terlalu banyak masalah yang tidak sedikit yang dihadapi oleh tuannya.
Derian tak bisa membantah pernyataan Noah yang kesemuanya adalah benar, kadang semua masalah dapat diatasi dengan lancar meski dirinya repot atau enggan untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
"Baiklah.Kau tunggui putriku dulu!Aku mau mandi dan ganti baju dulu sebentar untuk melakukan meeting bersama nanti dan semoga tak ada kendala apapun." ucap Derian berlalu pergi ke kamar mandi membersihkan diri.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.