
"Dion? Ada apa?" tanya Putri saat dirinya hendak keluar rumah dan berpapasan dengan Dion saat hendak menekan bel pintu rumah mewah itu.
"Ah, baguslah. Bisa aku bertemu Vi...Vio?" tanya Dion tampak berpikir melihat Putri sudah rapi dengan pakaian formalnya.
"Dia ada di kamar. Untuk apa kau ingin menemuinya?" tanya Putri curiga.
"Ah, ada sesuatu yang penting yang mau kulakukan? Dan itu menyangkut adikmu." jawab Dion tenang.
"Apa itu?" tanya Putri mengintimidasi penuh kecurigaan.
Dion menatap Putri lekat ingin dia membeberkan semuanya pada teman sekelasnya itu. Tapi dia mengurungkan niatnya, dia ingin memastikan dulu apakah Vio itu adalah Vivi.
"Kau sendiri tampak berpakaian rapi dan formal? Bukannya kau selalu berpakaian santai saat ke butik?" ucap Dion balik tanya, Putri memang seorang designer, dia memutuskan untuk membuka butik dengan bantuan modal dari Derian, hanya modal, selebihnya Putri lah yang mengembangkan sendiri butiknya.
Bahkan tak ada yang tahu Putri pemilik butik yang terkenal di lingkup selebritis dan pejabat. Dia mengandalkan semua pada sahabatnya, dia hanya menjadi designer saja sekaligus mengawasi kinerja pekerjanya. Dan dia selalu berpenampilan casual jika ke butik, tapi hari ini tampak berpakaian formal dan rapi mirip wanita karier kantoran.
"Ah, orang tuaku sedang ke pulau B. Kau tak dengar kabar sesuatu?" tanya Putri memicing. Dion mengerutkan alisnya tak mengerti maksud ucapan Putri, yang penuh intimidasi padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Dion.
"Kak Al menghilang?" ucap Putri.
"Apa? Kak Al? Suami kak Angel? Menghilang?" tanya Dion terkejut sontak memberondong pertanyaan pada Putri.
"Ah, sudahlah, aku harus berangkat sekarang. Aku terpaksa menggantikan orang tuaku selama mereka mencari kak Al. Dan untuk kabar lebih lanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi. Orang tuaku baru berangkat subuh tadi saat dikabari orang hotel tempat mereka menginap untuk bulan madu." jelas Putri meninggalkan Dion sendiri. Dion menatap kosong ke depan, berpikir apa yang terjadi pada Angel, dan kemana kak Al pergi?
"Vio ada di kamarnya. Di lantai dua." ucap Putri lagi hanya mengintip.
__ADS_1
"Ah, terima kasih." jawab Dion beranjak pergi ke kamar yang ditunjuk Putri. Dion merasa gugup, entah karena apa. Kebetulan macam apa ini, batin Dion.
Ya, setelah Dion meretas cctv di hotel tempat terakhir mereka bertemu, Dion menelesuri tempat yang mungkin dikunjungi terakhir Vivi. Dan penelusuran berakhir di rumah besar dan mewah yang tempat dulu sering dikunjunginya. Yang sekarang kunjungannya berbeda gadis dari yang dulu dengan gadis yang sekarang.
Dion sempat terkekeh geli memikirkan kembali hasil telusuran yang diperolehnya ini. Entah kenapa dirinya tak bisa jauh dari keluarga besar yang kaya ini.
Dion sudah berdiri di depan pintu yang diyakini yang dimaksud Putri tadi. Jika Vio adalah benar Vivinya, Dion akan segera mengikatnya sebelum dia berhasil melarikan diri lagi darinya.
Tok tok tok
Pintu diketuk dengan perlahan oleh Dion, menunggu dengan jantung dag dig dug. Dion siap menerima apapun jika Vio menolaknya. Tapi apapun yang terjadi Dion akan tetap memperjuangkan cintanya kini. Meski Vivi menolaknya sekalipun. Dia akan melakukan untuk cintanya juga untuk anaknya yang dikandungnya.
"Masuk bi, aku baru selesai mandi." seru yang di dalam kamar yang mengira bi Ani yang sedang mengantarkan sarapannya.
Gadis itu malas keluar kamar setelah pernikahan kakaknya, selain ingin menyembunyikan kehamilannya, gadis itu ingin menyendiri dulu.
Pintu terbuka, Dion masuk tanpa mengeluarkan suara ingin memastikan bahwa yang ada di depannya ini adalah Vivinya. Gadis itu memang baru selesai mandi, terlihat hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya dari atas dada sampai pertengahan paha yang menampakkan kulit mulusnya.
Dion meneguk ludahnya kasar, sesuatu di bawah tubuhnya terasa sesak menghimpit diantara kakinya. Dion sungguh diuji hasratnya oleh gadis yang diyakininya Vivinya itu. Gadis itu tampak sibuk mencari-cari pakaiannya di lemari, dan tentu saja tubuhnya membelakangi tubuh Dion sehingga gadis itu tak tahu jika yang mengetuk pintu tadi bukan bi Ani.
"Taruh saja di meja bi, sarapanku!" pinta gadis itu masih belum berbalik sibuk mencari pakaiannya.
Dion diam tak menjawab, dia mendekat menghampiri gadis itu dan dengan ragu menyentuh pundaknya sebelum mendekapnya yang mungkin saja dia keliru tentang gadisnya, tapi Dion sudah meyakinkan dirinya kalau gadis ini adalah Vivinya.
"Ada apa....?" gadis itu tak meneruskan kalimatnya saat ada yang menyentuh pundaknya dan membuatnya terpaksa membalikkan tubuhnya yang padahal dirinya belum memakai pakaiannya masih berbalut handuk di tubuhnya serta handuk kecil yang membungkus rambutnya juga yang memperlihatkan leher jenjangnya yang ditatap Dion sampai tubuh bawahnya mengeras.
"Bas..." lirih gadis itu yang ternyata memang Vivi, tidak Vio Violeta si kembar putri Karina.
__ADS_1
Vio sontak menutup mulutnya tak percaya dengan penglihatannya. Dan sontak dirinya menyilangkan kedua tangannya ke arah kedua pundaknya.
"Haaahh...." Dion menghela nafas panjang menatap Vivi lekat.
"Kau...a...apa yang kau..."
"Syukurlah aku tak salah melihatmu." sela Dion memegang kedua lengan atas Vivi. Dion menarik tubuh Vivi ke dalam pelukannya.
"Kenapa kau selalu lari dariku?" bisik Dion lirih di dekat telinga Vivi. Vivi tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Maaf... maaf..."
"Aku mencintaimu, jangan lari lagi dariku." bisik Dion lirih, mengeratkan pelukannya.
Vivi tak membalas pelukannya, tapi dia menyerukkan wajahnya ke dada bidang Dion yang lebar, menikmati dekapan tubuh Dion yang menghangatkan dirinya.
Lama mereka berpelukan, Dion mengecupi leher jenjang Vivi yang sudah menggugah hasratnya sejak tadi, dan perlahan turun ke bahu mulus Vivi yang terbuka.
"Kita harus bicara." ucap Dion melepas pelukannya, dia tak mau menyerang Vivi lagi, kini setelah Dion tahu siapa Vivi, dia akan menyentuhnya saat mereka resmi sebagai suami istri. Vivi merasa kecewa dan sedikit hampa saat Dion melepas pelukannya.
"Pakailah pakaianmu, aku menunggumu di bawah. Dan kali ini aku sudah tahu siapa kamu. Kau tak bisa lari lagi dariku." ucap Dion berbalik keluar kamar Vivi dan turun ke bawah di ruang keluarga menunggu Vivi turun.
TBC
.
.
__ADS_1
.