
Dion membanting pintu mobil kasar dan kesal segera berlari ke kamar. Melepas jaket dan seluruh pakaiannya. Masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya. Dia berdiri di bawah guyuran shower di kamar mandi berusaha meredam amarahnya.
Dia tak mau berteriak pada Reno. Bagaimanapun nakalnya dirinya dia masih sadar akan etika bersikap terhadap orang tua walaupun bukan orang tua kandungnya.
Flashback on
"Kau akan menginap disini kan Dion?" ucap Irene saat mereka sedang ngobrol di ruang keluarga rumah Irene dan Revan.
Dion yang tak tahu menahu rencana menginap itu tersentak kaget. Spontan mendongak menatap wajah Irene memastikan pendengarannya salah. Dirinya yang sejak tadi diajak ngobrol dengan Amel, gadis kecil yang sangat cerewet yang katanya adik kandungnya itu.
Dia tak begitu memperhatikan obrolan para orang tua karena Amel terus saja merecoki berbagai macam pertanyaan apa saja. Dan seolah gadis itu benar-benar tak mau lepas dari dirinya, karena setelah makan siang, dia terus saja menempel di lengan Dion meski sebenarnya Dion sangat risih tapi tak tega menolak karena menatap mata polos gadis itu yang terlihat begitu berharap akan perhatian seorang kakak.
"Ya?" tanya Dion menatap Irene dan beralih ganti menatap wajah Reno.
Reno yang memang belum mengiyakan ajakan menginap Irene padanya memang belum memutuskan, karena dia juga belum membicarakan dengan Dion langsung. Reno balas menatap Dion dengan raut wajah bersalah.
"Kau akan menginap disini kan?" tanya Irene lagi beralih menatap Reno menuntut penjelasan.
"Kurasa ada salah paham disini. Aku... sama sekali tidak berniat untuk menginap." jawab Dion tegas menatap Irene dan Revan bergantian.
Reno menghela nafas berat, merasa bersalah entah pada siapa. Reno yang tak mau memaksakan pada Dion dan Reno yang merasa bersalah karena keinginan Irene.
"Apa maksudmu nak?" tanya Irene kecewa.
"Aku memang bersedia bertemu dan berkunjung di tempat kalian. Tapi maaf, aku akan tetap pulang dengan papa." jawabnya menatap Reno menegaskan kata papa sambil menatap Reno lekat dan dingin. Reno balik menatap Dion sekilas dan segera membuang pandangannya pada Irene.
"Sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya Dion belum menyetujui ajakan menginap yang kau katakan padaku di telpon, kupikir akan lebih baik jika kau menanyakan sendiri pada Dion sendiri." Dion menatap Reno tajam.
"Dan maaf, aku menolaknya. Mungkin untuk sekarang." tegas Dion menambahkan.
Irene dan Revan tampak kecewa mendengar penuturan penolakan Dion. Meski dengan nada sopan Dion mengucapkannya tapi terdapat penekanan penolakan yang terasa yang seolah sebenarnya Dion tak menginginkan bertemu mereka.
"Apa kau tak mau bertemu kami?" tanya Irene menatap Dion lekat dengan nada lembut.
Dion teringat lagi percakapan Reno dan Irene tentang tuduhan yang dilontarkan ibu kandungnya ini saat bicara dengan Reno. Dion tak mau jawabannya nanti malah semakin menyudutkan dan menyalahkan Reno. Sehingga dirinya harus mengendalikan dirinya untuk tidak terbawa emosi, sehingga dapat menimbulkan hal-hal yang mungkin tidak diinginkan.
"Bukan seperti itu, aku sibuk, apalagi ini mendekati semester akhir kuliahku." jawab Dion mencoba mencari celah lolos yang mungkin bisa diterima alasannya.
__ADS_1
Dion memang sibuk tapi tak begitu membuatnya harus segera melakukan semua tugasnya sekarang. Karena otak jenius Dion bisa melakukannya meski mendadak dan hasilnya memang tidak akan mengecewakan.
"Baiklah. Kalau memang karena tentang pendidikanmu kami tak akan memaksa. Dan kami harap suatu hari kau bisa menginap disini dan bisa bertemu keluarga yang lain. Benar kan pa?" jelas Irene sambil menatap Revan yang duduk di sampingnya.
"Tentu." jawab Revan singkat. Dion hanya diam tak menjawab, mengiyakan atau menolak.
Dia memang tak berniat mengakrabkan diri dengan keluarga kandungnya yang baginya orang asing. Dion bersedia bertemu mereka hanya karena formalitas dan hanya karena menghormati Reno bukan karena memang benar-benar ingin bertemu bahkan mengenal mereka.
Setelah berbincang cukup lama dan hari semakin sore, Dion melirik Reno memberikan kode untuk segera pamit. Reno menghela nafas panjang. Begitu rumit mengerti tentang Dion. Dia yang hanya ayah asuh yang merawat Dion tak enak hati pamit karena terlihat dirinyalah yang malah tak enak hati.
Mereka sudah dalam perjalanan pulang di dalam mobil mereka. Dion semakin sebal saja saat melihat tatapan Irene terhadap Reno penuh amarah, seolah dapat membuat lubang di tubuh Reno.
Perkataan pamit yang diucapkan Reno membuat Irene merasa keberatan, tapi Dion terus memaksakan untuk segera pulang karena tak mau lama-lama bersama orang tua kandungnya yang masih asing baginya.
"Apa maksud papa tadi?" Dion melirik Reno yang sedang fokus menyetir dengan nada tak suka.
"Maksud yang mana?" jawab Reno santai menghindar meski dia paham apa yang ditanyakan oleh putranya.
"Menginap?" ucap Dion penuh penekanan pada satu katanya.
"Oh itu, kau sudah mendengar jawabannya tadi." jawab Reno.
"Kau ingin papa bicara apa? Kau tau bagaimana kenyataan itu. Apa yang bisa papa lakukan?" jawab Reno menyerah tak tahu lagi apa yang harus dijelaskan lagi pada Dion. Dion menghela nafas kasar.
Dan mobilpun memasuki halaman rumah Reno saat jam menunjukkan pukul 7 malam.
Flashback off
"Aaarggg...." teriak Dion di dalam kamar mandinya yang dirinya masih di bawah guyuran shower.
Dion segera keluar dari kamar mandi memakai pakaian bersihnya. Mengambil dompet, ponsel dan kunci motornya. Panggilan Reno tak dihiraukannya dari ruang keluarga.
Dion melajukan motornya dengan kecepatan sedang, tak punya tujuan hendak kemana. Yang jelas dirinya ingin melepaskan semua bebannya sejenak. Tak terasa motornya tiba di halte bus dekat rumah Angel.
Dion berhenti di seberang jalan halte bus, berharap Angel turun dari bus setelah pulang magangnya, meskipun harapannya mustahil karena ini akhir pekan. Setelah Angel magang dia tak pernah bertemu lagi di kampus meski Dion mengamatinya secara sembunyi-sembunyi.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Dion menunggu di seberang jalan. Bus berhenti di halte itu. Dion yang hendak pergi meninggalkan tempatnya tak sengaja melihat Angel berada di dalam bus itu yang duduk di pinggir jendela bersama seorang pria yang dikenali Dion sebagai kak Al, pria yang pernah dekat dengan Angel, pria yang mengakhiri hubungan mereka dan membuat Angel bersedih kala itu.
__ADS_1
Tangan Dion mengepal melihat interaksi akrab keduanya saat Angel hendak turun dari bus. Seolah-olah hubungan mereka dulu kini terjalin kembali. Wajah Dion memerah menahan amarah.
Setelah bus berlalu, Angel berjalan menuju rumahnya. Dion segera mengejar Angel dan memarkirkan motornya tepat di depan Angel berjalan. Angel yang terkejut mengira orang jahat menjadi tersenyum cerah saat helm itu dibuka menampilkan sosok Dion, pria yang harus terpaksa putus hubungan dengannya karena keinginan papanya Derian. Meski begitu terkadang Dion menghampiri beberapa waktu.
"Dion." ucap Angel senang. Dion turun mendekati Angel.
Jalan yang hari itu lengang dan sudah mulai sepi, meski malam belum terlalu larut tapi daerah perumahan itu memang sepi. Dan Dion berhenti tepat daerah pertokoan sehingga hanya dinding tak bersuara yang ada di sepanjang jalan menuju rumah Angel.
"Kau baru pulang?" tanya Dion dengan nada serak menahan amarahnya. Dion mendekat, tubuh Angel mundur ke belakang hingga membentur tembok. Merasa heran dengan sikap Dion yang terlihat tak seperti biasanya.
"Aku harus lembur, makhlum karyawan magang." jawab Angel mencoba tersenyum menghibur Dion yang mulai semakin mendekatinya tanpa jarak. Wajah mereka tepat berjarak tujuh centi saja. Angel yang dadanya semakin berdebar kencang saat Dion menempelkan tubuhnya pada dirinya.
"Aku merindukanmu..." bisik Dion di telinga Angel yang langsung merinding membuat wajahnya memerah malu.
Dion menatap Angel lekat mengusap sudut bibir Angel dan mencium bibir Angel liar dan kasar. Lenguhan Angel yang membuat mulutnya terbuka membuat lidah Dion menyeruak masuk ke dalam mulut Angel dan mengobrak-abrik mulut itu dengan kasar dan liar.
Bayangan Angel berduaan dengan Al tadi semakin membuat dada Dion bergemuruh kencang menahan kecemburuannya. Angel mencoba mendorong dada Angel agar menjauh nyatanya tak berhasil, Angel pun juga menikmati ciuman itu tapi entah kenapa ciuman hari itu berbeda dengan sebelumnya.
Jika sebelumnya sangat lembut tapi sekarang sangat kasar dan liar. Meski Angel juga menyukai semua ciuman Dion bagaimanapun perlakuannya. Saat dirasa nafas mereka sama-sama menipis, Dion terpaksa melepasnya.
Dia menempelkan keningnya dengan kening Angel dengan nafas ngos-ngosan memburu dari keduanya. Angel yang menatap wajah Dion tak seperti biasanya memeluk tubuh itu.
"Ada apa?" tanya Angel berbisik lirih dalam pelukan dada bidang Dion. Dion balas pelukan itu terasa hangat dan menenangkannya.
Seketika kecemburuannya dan kemarahannya serta emosi tentang kejadian di rumah orang tua kandungnya tadi langsung hilang sirna dari dadanya.
"Memang hanya kakak yang bisa menenangkan hatiku." jawab Dion ikut berbisik lirih juga.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏🙏
.
__ADS_1
.
.