Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 49


__ADS_3

"Bas..." pria yang dipanggil menoleh.


"Bagaimana penemuannya, kapan dirilis?"


"Sore nanti, aku sedang menyempurnakannya sebentar."


"Biar kubantu."


"Tentu. Kita kan sama-sama membuatnya."


"Aku hanya memberi ide, kau yang mengembangkannya."


"Kalau tak ada ide, bagaimana aku bisa mengembangkannya, ini akan jadi milik kita." ujarnya.


"Tentu." Mereka masuk ruangan tempat mereka mengembangkan penemuannya.


Kedua insan yang berbeda jenis kelamin itu tengah konsentrasi mengutak-atik komputer mereka. Suara bising apapun tak dapat mengganggu keduanya jika sedang konsentrasi mengerjakan pekerjaannya.


**


"Maaf, lama menunggu kak." ucap gadis itu tersenyum kecil.


"Tak masalah. Aku juga baru datang." jawabnya. Gadis itu duduk di depan meja berhadapan dengan pria itu. Keduanya saling tersenyum dan sesaat kemudian pesanan mereka datang.


"Kakak sudah memesan?" tanya gadis itu.


"Seperti biasanya?" jawabnya membuat gadis itu tersenyum senang.


"Kakak selalu tahu apa yang aku mau." jawab gadis itu.


Mereka makan pesanan mereka. Pria itu mengulurkan suatu kotak kecil setelah mereka selesai makan.


"Apa ini kak?" tanya gadis itu penasaran meski dia sudah menebak.


Tiba-tiba pria itu berlutut di hadapan gadis itu dengan menggenggam kotak di tangan kirinya dan jemari gadis itu di tangan kanannya.


"Maukah kau menikah denganku?" ucap pria itu.


Gadis itu terkejut akan mendapatkan lamaran dari pria yang sudah jadi kekasihnya dua tahun terakhir ini. Gadis itu tak percaya hingga tanpa sadar menutup mulutnya.


"Terima."


"Terima."


Sorak sorai dan tepuk tangan dalam cafe yang lumayan ramai itu semakin membuat gadis itu tersenyum senang, pria yang sudah masuk hatinya lebih lama sebelum mereka pacaran membuat hatinya bahagia.


Dia membuktikan ucapannya agar mengatakan hubungan mereka di depan banyak orang sebagai bukti kalau kali ini dia benar-benar serius.

__ADS_1


"Ya, aku mau." jawab gadis itu mengangguk mengulurkan jemarinya untuk dipasang cincin itu.


"Terima kasih."


"Yee...."


"Suit ... suit ...."


Sorak dan tepuk tangan kembali terdengar saat melihat sepasang kekasih itu berpelukan setelah pria itu menyematkan cincin itu di jemari tangannya.


**


"Honey, when did you end?" seru seorang pria bule di luar ruangan tempat kedua insan itu sedang serius dengan pekerjaannya.


"Wait a minute." jawab gadis itu tanpa menoleh masih fokus pada komputernya.


Pria itu berdecak kesal, sudah tiga kali dia bertanya dan menunggu hampir satu jam di luar ruangan yang lumayan gelap itu, demi menghindari cahaya masuk dan membuat silau saat komputer mereka menyala.


"Yes." seru sang gadis telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Bas, ayo pergi, kau sudah selesai?" gadis itu mendekati meja pria yang dipanggil bas itu.


"Sebentar lagi." gadis itu tetap berdiri di belakangnya, menyimak pekerjaan pria itu.


"Ok." seru Bas dengan wajah berbinar-binar telah menyelesaikan pekerjaannya.


Gadis itu menoleh, menggeleng tak percaya, kekasihnya yang baru beberapa bulan dipacarinya itu sungguh tak sabar.


"Pergilah! Aku bisa pulang sendiri." ucap Bas merasa bersalah pada kekasih gadis itu.


"Ayolah! Kita janji akan makan siang bersama tadi." ucap gadis itu.


"Aku tak mau jadi obat nyamuk kalian." ucap Bas terkekeh bersama keluar ruangan mereka.


"Hai honey, you long." seru pria itu cemberut.


"Sorry honey, we're working on work due out later in the afternoon." jawab gadis itu.


"You're always busy. When are we going on a date?" ucap pria bule yang menjadi kekasih gadis itu.


"Sorry bro." ucap Bas mendapat tatapan dari pria bule itu.


"Ok, Vi. Aku akan pulang sendiri saja. Kau harus membujuk kekasihmu ini." ucap Bas meninggalkan mereka.


"Hei Bas..." seru gadis itu yang langsung ditarik kekasihnya pergi.


**

__ADS_1


"Kapan kakak membawaku ke rumah orang tuamu?" tanya gadis itu setelah seminggu lamaran itu.


"Besok hari minggu, kau sudah siap bertemu orang tuaku?" tanya pria itu.


"Entahlah, tapi aku harus siap." ucap gadis itu.


Mereka pun pulang bersama, hari ini hari terakhir mereka lembur di kantor tempat mereka bekerja. Pria itu tak melepaskan genggaman erat jemari gadis itu. Gadis itu hanya tersenyum senang dan bahagia karena perhatian kekasihnya.


"Kakak juga turun?" tanya gadis itu keheranan.


"Aku ingin menemui orang tuamu, minta izin pada mereka jika besok aku akan mengajakmu bertemu dengan orang tuaku." ucap pria itu.


"Kakak yakin?" jawab gadis itu antusias, ini kali ketiga kekasihnya bertemu orang tuanya sejak mereka pacaran.


Dan orang tuanya sangat merestui hubungan kami tanpa memandang statusnya yang bukan dari keluarga yang kaya sepertinya. Asal gadis itu suka orang tuanya akan merestuinya dengan siapapun itu, asal pria itu benar-benar mencintainya dengan tulus tanpa memandang harta keluarganya.


"Ayo!" tarikan tangan gadis itu diikuti oleh pria itu dengan senyum bahagia.


Ini bukan pertama kalinya dia bertemu calon mertuanya, tapi entah kenapa dia selalu gugup jika akan menemuinya.


"Aku pulang." seru gadis itu.


"Sayang, kau sudah pulang." ucap perempuan setengah baya yang masih cantik meski banyak uban dan keriput di tubuhnya tapi tak membuatnya terlihat tua. Malah seperti wanita matang yang belum pantas dipanggil nenek karena terlihat lebih muda dari umurnya.


"Mama." ucap gadis itu memeluk tubuh Karina dengan erat.


"Sepertinya kau sedang bahagia." ucap Karina memeluk tubuh putri sulungnya.


"Mama selalu tahu tentang diriku."


"Karena aku mamamu."


"Ayo kak masuk!" ajak pria itu yang hanya menatap keakraban kedua wanita beda usia itu seperti keakraban dengan temannya saja.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2