
Setelah penolakan Angel perihal lamarannya. Dion menutup dirinya rapat-rapat pada siapapun. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk konsentrasi meneruskan belajarnya. Tawaran beasiswa ke London di Oxford university yang dulu sempat ditolaknya sekarang menawarkan kembali padanya dan Dion menerimanya.
Baginya sudah tidak ada lagi hal yang ingin dipertahankan dalam hidupnya. Dirinya sudah hancur memperjuangkan cinta sejak kecilnya. Kini dia tak ingin mengingat kembali semua itu. Pihak kampus juga sudah memberikan izin padanya untuk ikut pertukaran pelajar ke Oxford university.
Sebenarnya tawaran itu sudah lama diterima Dion karena mendengar kejeniusan Dion. Namun Dion selalu menolak mereka secara halus dengan alasan masalah pribadi, tak hanya sekali dua kali Dion mendapatkan tawaran itu.
Hanya karena berat meninggalkan cinta sejak kecilnya yang dikiranya juga sudah mulai menerimanya tapi ternyata dirinya salah, keseriusannya untuk meminang sang pujaan hati berakhir ditolaknya. Dan Dion memutuskan itulah terakhir kalinya dirinya akan memperjuangkan cintanya.
Setelah itu dia akan melupakan semuanya, baik kenangan-kenangannya maupun cintanya.
Persiapan visa, pasport serta akomodasi sudah siap. Itu semua diurus oleh pihak kampus. Dion hanya terima jadi sekaligus konsentrasi dengan penemuan barunya yang mulai dikenal masyarakat luas.
Itulah sebabnya pihak Oxford university menawarkan kembali beasiswa untuk Dion full dengan akomodasi serta tempat tinggal dan peralatan yang diperlukan selama menjadi mahasiswa Oxford university.
"Kau jadi berangkat?" tanya Reno malam itu saat mereka makan malam bersama.
"Ya. " jawab Dion singkat meneruskan makannya cuek.
"Kau yakin."
"Ya."
"Kau tak akan menyesal?"
"Tidak."
"Baguslah, toh umurmu masih sangat muda." hibur Reno menghela nafas berat.
"Kapan kau berangkat?"
__ADS_1
"Minggu depan." Dion masih tetap cuek sambil terus makan.
"Kau sudah pamit orang tuamu?" Pertanyaan Reno berhasil menghentikan makan Dion, menatap Reno lekat meminta penjelasan.
"Mereka orang tuamu, kau harus pamit. Apalagi kau tidak sebentar disana."
"Aku disana belajar pa, tidak pindah kesana. Suatu hari aku pasti pulang." jawab Dion meninggalkan meja makan.
"Pamitlah!" ucap Reno yang tak dijawab Dion.
Dion berdiri di seberang jalan tak jauh dari jalan, mengamati diam-diam yang masih memenuhi relung hatinya dan sayangnya belahan hatinya itu masih belum siap untuk dinikahinya. Mungkin karena faktor umur yang masih muda dan ingin menggapai impiannya.
Setelah dirinya kemarin pulang dari rumah orangtuanya dan sempat menginap di rumah mereka semalam. Kini Dion berdiri tak jauh darinya melihatnya dia berdiri di halte bus tempat biasa dia berangkat magang. Dion ingin melihatnya untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi jauh.
Entah dia kapan akan kembali. Bisa saja dia menetap disana karena suatu hal, karena kata pihak kampus jika mereka puas dengan hasil penemuan Dion mereka memutuskan untuk merekrutnya disana dan bukan hal yang tidak mungkin akan membuat Dion bisa saja untuk menetap tinggal disana dan hidup disana.
"Apa kakak masih belum berubah pikiran tentang lamaranku?"
"Kakak yakin?" Angel mengangguk lemah.
"Apa kakak sudah tak mencintaiku?" Dion menatap lekat Angel yang tak berani menatapnya seperti merasa bersalah.
"Maaf... aku sendiri tak yakin. Maaf Dion..." jawab Angel lirih.
Setelah bus yang ditumpangi Angel melaju, Dion mengejarnya dan mengikutinya. Dion sudah berdiri tak jauh dari tempat Angel turun.
"Bisa bicara sebentar kak?" pinta Dion sebelum Angel masuk ke dalam kantor. Angel mengangguk, mengikuti Dion masuk ke sebuah cafe di depan kantornya.
"Semoga kakak sukses selalu dan bahagia." ucap Dion pergi meninggalkan cafe itu.
__ADS_1
"Dion..." bisiknya lirih. Angel diam menatap kosong ke depan. Dia juga bimbang dengan dirinya, apa aku mencintainya? batin Angel. Tapi, masih ada banyak hal yang ingin diraihnya.
Angel tak tahu jika saat itu terakhir kalinya dia bertemu dengan pria itu.
Dion mengemasi barang-barangnya untuk mempersiapkan kepergian yang tidak sebentar itu. Kemarin dia sudah menemui gadis yang sudah dicintainya itu berharap dia berubah pikiran untuk menerima lamarannya, sehingga dia tak perlu untuk meneruskan tawaran yang diterimanya itu.
Tapi, harapan tetaplah harapan yang membuat Dion lagi-lagi menelan kekecewaan karena penolakan lagi dari mantan gadis yang dicintainya. Dion bertekad untuk melupakannya disana nanti.
"Kau sudah siap?" tegur Reno melihat Dion masih melamun di kamarnya sudah selesai membawa barang-barangnya.
"Iya pa." Dion sempat tersentak kaget saat papanya menegurnya hingga lamunannya pun buyar.
"Ayo, papa antar sampai bandara." tawar Reno yang diangguki Dion, mengikuti Reno dari belakang menuju mobil papanya.
Sekali lagi dia berbalik menatap rumahnya yang selama ini ditinggali sejak dia umur lima tahun itu. Dion merasa pasti dia akan merindukan rumah itu. Reno memberikan waktu untuk putranya mengenang rumah mereka. Meski Dion bukan putra kandungnya, Reno menyayanginya lebih dari putra kandungnya sendiri.
Keahliannya dalam bidang IT memang sudah tidak diragukannya lagi. Sehingga saat tawaran yang diberikan Dion, Reno terpaksa menyetujui saat Dion menerima tawaran dari pihak kampus Oxford university.
Selain kampus bergengsi, itu kampus yang sangat terkenal di London. Kampus itu juga sudah banyak meluluskan mahasiswa dan mahasiswi berprestasi setiap tahunnya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.