
Sudah seminggu Bas belum bertemu dengan Vivi lagi. Ponselnya tak bisa dihubungi. Ya, terakhir kali Bas bertemu Vivi, Bas belum mengembalikan ponsel miliknya. Melihat penolakan Vivi padanya tentang keikutsertaan bertanggung jawab pada bayi mereka membuat Bas ragu mengembalikan ponselnya.
Bas takut Vivi akan melarikan diri lagi. Dan itu itulah Bas menyita kembali ponselnya. Dengan menyerahkan ponselnya pada Vivi juga. Awalnya Vivi menolak juga ponsel Bas, tapi Bas memaksanya dengan sedikit ancaman tentunya.
Kini Bas mengusak wajahnya kasar, mengacak-acak rambutnya frustasi. Vivi melarikan diri lagi. Ponselnya tak bisa dihubungi juga pelacak lokasi juga tak bisa ditemukan oleh Bas.
"Sial... Kamu kemana Vi? Saat aku benar-benar menyadari perasaanku, Kenapa kau justru malah melarikan diri dariku lagi." ucap Bas frustasi.
Bas mengambil ponsel, dompet dan kunci mobilnya pergi ke perusahaan yang diyakini tempat kerja Vivi. Bas tiba di perusahaan itu menuju meja resepsionis untuk menanyakan seorang karyawati bernama Vivi. Sialnya Bas tak tahu nama lengkap Vivi.
Di kejauhan Dave muncul dari lift melihat sedikit berisik disana. Dave segera menghampiri meja resepsionis.
"Excuse me, what's happening?" tanya Dave menatap petugas resepsionis.
"Sorry sir, someone asked about Miss Vivi, but there is no Vivi in our company.(Maaf pak, ada yang bertanya tentang nona Vivi, tapi tak ada yang namanya Vivi di perusahaan kita.)" jelas resepsionis itu menatap Dave yang merupakan CEO perusahaan mereka. Bas menatap Dave seperti pernah melihat pria bule itu.
"Sir, there must know me. I was Vivi's friend who was across the street.(Tuan, ada pasti tahu saya. Saya teman Vivi yang waktu itu di seberang jalan.)" jelas Bas dengan wajah memelas.
"Ah, I know, you ... Bas, the guy Vio likes." ucap Dave.
"Ah, you are right, you know me?" jawab Bas menatap Dave lega.
"Come follow me!" ucap Dave berjalan menuju sofa dekat resepsionis memang untuk tempat tamu perusahaan itu.
"Thank you." ucap Bas mengikuti Dave duduk di sofa.
"I thought you were too late." ucap Dave memulai pembicaraan.
"What do you mean?" tanya Bas tak sabaran.
"Beforehand, may I know your feelings for Vivi?" tanya Dave.
"What?" jawab Bas balik bertanya.
"Introduce, I'm Vio's cousin. We are like brother and sister." ucap Dave memperkenalkan diri mengulurkan jemari tangannya dan diterima Bas dengan penuh kelegaan.
__ADS_1
Bas sebenarnya mau marah pada pria bule ini karena sepertinya terlalu dekat dengan Vivi. Tapi Bas mencoba menahannya karena berada di tempat umum juga agar dia tahu dimana Vivi tinggal.
"Ah, sure." jawab Bas.
"Vio returned to Indonesia a few days ago." ucap Dave.
"What?" jawab Bas terkejut.
"I think she informed you after your meeting a week ago." ucap Dave lagi.
"You are sure?" tanya Bas meyakinkan.
"Sure.Her older sister wanted to get married and her parents forced her to come home.(Kakak perempuannya mau menikah dan orang tuanya memaksanya untuk pulang.)" jelas Dave santai.
"You know where she lives there?" tanya Bas penuh harap.
"Sorry, I promised her not to reveal the address there. Because she knows you will definitely come to see me.(Maaf, aku sudah berjanji padanya untuk tak mengatakan alamatnya disana. Karena dia tahu kau pasti akan datang menemuiku.)" ucap Dave.
"Please." mohon Bas.
"Sorry, I can only say this. Because I just promised not to say the address and I see you're trying to get serious with her. And I hope you don't disappoint him. She loves you very much.(Maaf, aku hanya bisa mengatakan ini. Karena aku hanya berjanji untuk tak mengatakan alamatnya dan aku lihat kau mencoba serius dengannya. Dan aku harap kau tak mengecewakannya. Dia sangat mencintaimu.)" jelas Dave lagi.
"Go! Look for her, fight for your love. She also loves you a lot.(Pergilah! Carilah dia, perjuangkan cintamu. Dia juga sangat mencintaimu.)" ucap Dave memberi semangat.
"Thank you." jawab Bas penuh semangat dan beranjak meninggalkan Dave.
**
Persiapan pernikahan seminggu lagi sudah disiapkan semuanya. Tinggal menunggu hari-H. Angel dan Al menyelesaikan pekerjaannya di kantor sebelum cuti mereka dua hari lagi. Semakin hari Al semakin perhatian pada calon istrinya itu. Sebelum mereka libur besok, Al mengajak Angel mampir ke apartemennya.
"Masuklah!" ucap Al. Angel masuk ke dalam apartemen Al. Al meletakkan tas kerja dan jasnya, melipat kedua lengan kemejanya masuk ke dapurnya.
"Kau mau makan sesuatu?" tanya Al membuka kulkasnya hanya berisi sedikit bahan makanan.
"Tak ada apapun, hanya beberapa telur dan pasta instan." ucap Angel ikut melongok kulkas di belakang Al yang tentu saja terkejut karena Angel mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
"Kau mengejutkanku, duduklah, aku akan memasakkanmu sesuatu." ucap Al mendorong tubuh Angel untuk duduk di meja makan dekat dapur.
"Bagaimana kalau kita belanja?" ajak Angel.
"Tak perlu. Aku sengaja ingin mengosongkan kulkasq, setelah pulang kerja besok, aku pulang ke rumah orang tuaku untuk mempersiapkan pernikahan kita." jelas Al mulai sibuk di dapurnya.
"Kakak mau pulang?" tanya Angel.
"Tentu saja. Kita akan bertemu saat pernikahan kita." ucap Al tersenyum manis berbalik sebentar demi menatap calon istrinya.
"Itu artinya masih lima hari ke depan." ucap Angel tak suka.
"Empat hari. Besok kita masih bertemu di kantor."
"Aku pasti merindukan kakak." bisik Angel memeluk Al dari belakang.
"Jangan menggodaku. Biarkan aku memasak sebentar. Kita makan dulu." ucap Al masih sibuk memasak meski Angel masih bergelayut di belakang tubuhnya.
Angel malah semakin menggoda Al dari belakang, dia mengecupi tengkuk kekasihnya meski sedikit berjinjit.
"Sayang..." seru Al kegelian. Al mematikan kompornya sebentar dan membalik tubuhnya.
"Jangan menggodaku!" ucap Al mendekap pinggang Angel, mencium bibirnya, melu**mat, menghi**sap dan melesakkan lidahnya ke dalam mulut kekasihnya. Angel hanya mengimbangi ciuman panas dari kekasihnya.
"Duduklah dulu. Tinggal sebentar lagi akan matang. Kita makan malam dulu." ucap Al menahan hasratnya dengan suara seraknya dan matanya sudah berkabut gairah.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.