Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 51


__ADS_3

"Bi, panggilkan Angel! Ada Al di depan." ucap Karina masih sibuk menyiapkan sarapan.


"Iya nyonya." jawab bi Ani yang segera berlalu pergi ke kamar nona majikannya.


"Mari nak, ikut sarapan!" ajak Karina setelah selesai menyiapkan di meja makan dan menghampiri Al yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Kami mau sarapan di luar ma, hari ini kami mendapat jatah untuk kunjungan proyek yang di luar kota " sela Angel yang muncul dari dalam menghampiri Karina dengan menggelayut manja di lengan Karina.


Al tersenyum manis menatap kedekatan calon istrinya dan calon mertuanya.


"Baiklah, tapi tetap jangan lupa makan! Ok?" ucap Karina tersenyum lembut.


"Ok mama." jawab Angel memeluk Karina dari samping tubuhnya.


"Baik tante, kami pamit dulu." pamit Al menunduk sopan.


"Da ma, kami berangkat." pamit Angel mengecup pipi kiri dan kanan Karina.


Karina tersenyum senang melihat kebahagiaan dari keduanya dan entah kenapa bayang-bayang Dion terlintas di benaknya dan dia pun segera menepisnya dan masuk ke dalam menuju meja makan yang sudah ditunggu kedua anaknya.


**


"Bersyukurlah kau sudah ditunjukkan, kalau dia pria yang tidak baik untukmu. Jangan terlalu mencintai seseorang karena jika dilukai pasti sangat sakit sekali." ucap Bas yang sesaat berpikir kalau kata-kata itu harusnya ditujukan padanya.


"Hiks... hiks... hiks..." hanya suara isakan yang terdengar dari mulut sahabatnya.


"Mandilah! Atau kau mau mandi di apartemenmu? Aku harus pergi ke bawah sebentar, ada sesuatu yang harus kulakukan." ucap Bas pergi meninggalkan Vivi agar dia punya ruang untuk berpikir kembali.


Bas tak berani menasihati terlalu dalam, karena dirinya bukan orang yang pantas untuk mengucapkannya.


"Honey, open the door! Please?" seru Marco menggendor pintu apartemen Vivi saat Bas keluar dari apartemennya mendapati pria bule yang telah mengkhianati sahabatnya.


Seketika Marco langsung menoleh menatap Bas yang muncul dari pintu apartemennya. Bas menatap Marco geram saat mengingat apa yang dilakukan pria dihadapannya ini telah menyakiti sahabatnya hingga dia mabuk dan menangis pagi ini.


Vivi sahabatnya bukanlah gadis seperti kebanyakan gadis yang cengeng. Dia adalah gadis yang kuat, apapun yang menyakitinya tak membuatnya kesakitan ataupun menangis. Dan baru kali ini gadis itu menangis padanya selama mereka bersahabat.

__ADS_1


Flashback on


"Hai, how do you do?" sapa Vivi kala itu saat dirinya duduk sendiri di bawah pohon kampus itu.


Bas menatap gadis nyentrik dan unik ini lekat. Berpikir heran kenapa dengannya hingga gadis itu berani menyapanya. Selama Bas kuliah di Oxford university, dia tak mau berteman dekat dengan siapapun.


Dia lebih memilih diam dan menyendiri saat banyak orang yang mendekatinya meminta berteman atau sekedar berkenalan dengannya.


"Oh, I'm sorry. Am i disturb you?" ucap Vivi lagi sok kenal.


"Do we know each other?" jawab Bas.


"Sorry, I just wanted to get acquainted. I see you are like an Indonesian. And I am the same. I thought we could be friends. Because I just entered college here." ucap Vivi dan ikut duduk di sebelah bangku yang diduduki Bas. Vivi menghela nafas.


"Aku capek bicara seperti ini, aku ingin mencari teman yang bisa mengerti bicaraku." ucap Vivi pada dirinya sendiri. Bas langsung menoleh menatap Vivi heran.


Dia sebenarnya juga rindu bicara dengan bahasanya yang nyaman. Tapi mau tak mau dia harus menyesuaikan dengan lingkungannya sekarang.


"Aku juga sama." jawab Bas dan Vivi sontak menoleh menatap Bas tersenyum senang.


"Aku Di... Bas, Bastian." jawab Bas menerima uluran jemari tangan Vivi. Dia pun tersenyum senang.


"Kita teman?"


"Teman." Mereka pun tertawa bersama.


Flashback off


Bas meninggalkan Marco yang masih dengan setia menggedor pintu dan merengek memanggil nama sahabatnya dan dia tak peduli sama sekali dengannya dan berlalu meninggalkannya. Toh dia juga tak bertanya padanya.


Bas memang tak mau basa-basi, dia hanya bersikap seperti dirinya sendiri saat hanya bersama sahabatnya itu. Dengan orang lain dia akan jadi dingin dan wajah datar. Dia tak berminat untuk bergaul dengan orang-orang yang mungkin munafik. Tapi pada Vivi keduanya bersikap apa adanya bukan ada apanya.


*


Hingga tak lebih dari tiga puluh menit, Marco sudah berganti menggendor pintu apartemennya. Dan Bas sudah dapat menebak, kalau pria bule ini tak sengaja melihat Vivi yang mungkin hendak keluar untuk kembali ke apartemennya.

__ADS_1


"Hei, Bas, Vivi is in your apartment, why didn't you tell me?" seru Marco setengah berteriak.


"Why?"


"Why? You know I slammed the door to her apartment. But you didn't say she was in your apartment?" seru Marco semakin kencang berbicara.


"That's because she doesn't want you to know where she is." jawab Bas enteng berlalu melewati Marco.


"Dammit, what do you mean by hiding it?" maki Marco menarik kerah Bas emosi.


"I will not allow you to meet her because you have hurt her." ucap Bas sarkas menghentakkan tangan Marco dari kerah bajunya.


"Bas, please let me see her. I have to explain to her. It's not what it looks like." jelas Marco memelas.


Bas menatap mata pria bule itu terlihat serius. Bas menghela nafas, dia berpikir bahwa Vivi harus menemui pria ini untuk menyelesaikan masalah mereka baik-baik.


"Okay. But I don't promise she will see you." ucap Bas.


"OK. I won't give up." jawab Marco. Bas masuk ke dalam meninggalkan Marco di luar.


Bas menatap sekeliling kamarnya, tak melihat Vivi di manapun. Bas menuju kamarnya dan Vivi menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut miliknya bersembunyi.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2