
"Oh ya. Ayo!" Dion menarik jemari tangan Vivi meninggalkan tempat itu.
Para tamu yang berpapasan dengan mereka menyapa Dion tapi tak digubrisnya. Dion terus menggandeng jemari tangan Vivi menuju seseorang.
"Bas, kau mau membawaku kemana?" tanya Vivi lirih mencoba melepas pegangan tangan Dion.
Tapi Dion tak menghiraukannya hanya menarik ke tujuan tanpa melepaskan tautan jemarinya dari jemari Vivi. Selain menurutinya Vivi tak tau lagi bagaimana cara menolak pegangan jemari tangan Dion.
"Pa.." panggil Dion menepuk punggung Reno yang terlihat sibuk ngobrol dengan salah satu rekan bisnisnya.
"Ah, Dion." jawab Reno berbalik menatap Dion yang menepuk punggungnya.
"Ada yang ingin kukenalkan dengan papa." ucap Dion tersenyum sumringah.
"Bas, kumohon jangan sekarang, lakukan lain kali saja kumohon!" ucap Vivi lirih masih membujuk Dion.
Tapi Dion seakan menulikan telinganya tidak menggubris ucapan Vivi. Reno beralih menoleh gadis yang dipegang Dion di sampingnya. Menatap dari atas ke bawah dan bawah ke atas, entah kenapa dia terlihat familiar dengan wajah gadis yang malu-malu ini.
Tatapan Reno berhenti pada perut gadis yang pernah diceritakan Dion sedang hamil anaknya. Reno terbelalak melihat perut gadis itu, seperti orang hamil. Gadis yang katanya hanya berjarak kurang lebih satu tahun dengan Dion itu tak terlihat sama sekali, dengan tubuh imut dan masih terlihat anak-anak.
"Halo, Reno." sapa Reno mengulurkan jemari tangannya mengajak berjabat tangan saat Dion menepuk pundak Reno kesal karena memperhatikan dengan seksama tubuh Vivi. Dion sangat tak suka itu. Vivi menerima uluran tangan itu dengan senyum terpaksa.
"Vivi." balas Vivi tersenyum manis hingga membuatnya tersentak saat mengingat senyum itu, dulu sekali, dia juga pernah melihat senyum manis malu-malu itu.
"Pa." Dion berseru lagi pada papanya. Reno sekali lagi tersentak mendengar seruan tak suka dari Dion.
Reno segera melepas jabatan tangannya itu dan menatap Dion yang berwajah kesal padanya hingga memelototinya. Reno hanya mengedikkan bahu masa bodoh.
__ADS_1
"Dia..." Reno menunjuk Vivi tapi menatap Dion menuntun penjelasan.
"Kekasihku. Kami akan segera menikah." jawab Dion yakin.
"Bas..." ucap Vivi menatap wajah Dion yang membuat Dion tetap tak menghiraukan protesan Vivi.
Reno yang terkejut nama panggilan Dion yang lain dari pada yang lainnya hanya tersenyum senang. Itu adalah nama kesayangan yang diberikan kekasihnya untuk Dion. Itulah sedikit yang diceritakan Dion padanya setelah Dion bercerita tentang kekasihnya yang melarikan diri darinya.
"Ah, oh ya, siapa nama orang tuamu?" tanya Reno beralih menatap Vivi tersenyum kebapakan.
Vivi bingung harus menjawab apa karena dia menginginkan membicarakan hal ini dulu secara pribadi pada Dion sebelum para orang tua tahu tentang hubungan mereka. Vivi beralih menatap Dion meminta pendapat. Dion hanya tersenyum senang.
"Tuan, biarkan saya bicara sebentar dengan Bas ah maksud saya Dion." jawab Vivi salah tingkah. Terlihat wajahnya yang memerah karena gugup.
"Tentu." jawab Reno beralih menatap Dion. Vivi menarik jemari tangan Dion membawanya ke tempat yang tidak ada siapapun.
Dan Vivi membawanya masuk ke sebuah ruangan yang diyakini tempat peristirahatan untuk tamu undangan. Dan beruntungnya disitu sedang tidak ada seseorang. Vivi segera menutup pintu ruangan itu, karena dia merasa ada yang membututi mereka.
Padahal Dion ingin memperkenalkan pada semua yang dikenalnya disana karena kemungkinan Vivi untuk melarikan diri tidak akan terjadi.
"Sstt..." Vivi menutup bibir Dion dengan jemari tangannya yang bebas.
Karena jemari tangannya yang digenggam Dion tak dilepaskannya sama sekali. Vivi mendorong tubuh Dion bersembunyi lagi di antara kelambu yang ada di ruangan istirahat itu.
"Kemana mereka, aku tadi melihat mereka masuk kemari." ucap seorang wanita yang diyakini Vivi membututi mereka tadi.
Vivi semakin menyumpal mulut Dion saat Dion ingin melepas jemari tangannya dari mulutnya. Tapi Vivi malah semakin membuat mulut Dion tak bisa bergerak, tubuh Vivi juga menghimpitnya. Dion spontan meraih pinggang Vivi posesif.
__ADS_1
Vivi melotot merasakan gerakan jemari tangan Dion yang mengelus punggungnya. Dion tak menghiraukan pelototan mata Vivi, dia malah semakin intens mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Vivi, hingga Dion menghentikan saat merasakan perut buncit Vivi menyentuh 'adik kecilnya' yang spontan ikut terbangun hanya karena sentuhan dengan Vivi. Pasalnya Vivi hanya sebatas bahunya saat berdiri berdekatan dengan tubuhnya.
"Ah, aku pasti salah lihat." ucap wanita tadi yang segera meninggalkan ruangan itu.
Vivi menarik nafas lega dan melepaskan sumpalan pada mulut Dion. Saat Vivi hendak menjauhi tubuh Dion, dengan cepat Dion menarik pinggang Vivi kembali menempel padanya.
"Lepaskan Bas, kumohon!" ucap Vivi mencoba mendorong tubuh Dion, berdekatan dengan tubuh Dion membuat dada Vivi berdetak kencang dan semakin berdebar-debar saja. Wajahnya semakin memerah karena merasakan sesuatu di bawah tubuh Dion menegang.
"Tidak akan, kau harus tanggung jawab." ucap Dion membelai wajah Vivi yang memerah, tersenyum seringai menatap Vivi lembut.
"A...ap maksudmu?" tanya Vivi gugup meski sebenarnya dirinya tahu apa maksud dari ucapan Dion.
"Cukup dengan ini saja." ucap Dion serak menahan hasratnya sambil mengusap bibir mungil Vivi yang dirindukannya.
"I..itu..." Dion tanpa aba-aba melu**mat bibi Vivi, menghi**sap, mengecup bibir itu lama. Karena hormon kehamilannya membuat Vivi ikut menikmati dan mengimbangi ciuman Dion.
Akal sehatnya menolak tapi tubuhnya menikmati. Bagaimanapun hormon kehamilannya membuatnya menginginkan lebih dari sekedar ciumannya. Tangan Dion yang mulai bergerilya di dadanya hanya membuat Vivi mendesah kenikmatan tanpa mampu menolaknya.
Ciuman Dion turun ke leher Vivi yang membuat tubuh Vivi meleleh hendak terjatuh dan segera ditahan Dion, tapi ciumannya terus menjelajahi leher Vivi hingga turun ke dada Vivi. Gaun Vivi yang longgar mempermudah dion untuk menelusuri dada Vivi.
Vivi yang melenguh menikmati hal itu seakan kehilangan akal pikirannya. Vivi malah membenamkan kepala Dion yang bermain pada kedua pu**ting dadanya bergantian.
Desahan-desahan seksi keluar dari mulut Vivi, membuat Dion semakin bersemangat untuk meladeni keinginan hasrat keduanya yang semakin besar.
TBC
.
__ADS_1
.
.