Perselingkuhan

Perselingkuhan
Extra part 5


__ADS_3

Seminggu kemudian setelah Angel bercerita tentang Dion yang tiap hari menguntitnya. Angel memilih untuk tidak masuk sekolah, Karina tak mau memaksanya karena histeria teriakan Angel seperti ketakutan.


**


"Kenapa murung nak?"tanya Reno saat menjemput putranya siang ini, beberapa hari ini dirinya memang tak bisa menjemput putranya karena urusan kantor yang sedang mengurus pembukaan cabang barunya. Dion hanya dijemput sopirnya.


Bibi pengasuh memang pernah bercerita kalau Dion beberapa hari terakhir ini sering murung. Awalnya Reno begitu tak menggubrisnya, mungkin sedang bertengkar dengan teman sekolahnya. Namanya anak-anak kalau sedang bertengkar pasti akan segera akur kembali.


Begitu yang dipikirkan Reno, tapi bibi pengasuhnya pagi tadi mengatakan lagi hal yang sama lagi kalau Dion masih tetap murung. Reno menjadi penasaran apa yang menyebabkan putranya ini murung.


Hingga siang ini setelah urusannya selesai Reno berniat menjemput Dion sendiri ke sekolahnya. Dan benar Dion masih tetap murung.


"Kau tak apa sayang?" tanya Reno melihat putranya murung.


"Tak apa."jawab Dion singkat sambil menatap ke luar jendela mobil malas.


Dia menghela nafas berat, seolah-olah masalahnya sangatlah berat. Reno tertawa kecil melihat kelakuan putranya yang seperti orang dewasa saja.


Sesampainya di rumah Dion masih terlihat cemberut dan tak bersemangat. Reno semakin dibuat penasaran dan memutuskan untuk mengikuti putranya ke kamarnya untuk mengganti seragam sekolah.


"Boleh papa tau ada apa dengan jagoan papa?" tanya Reno setelah Dion selesai mengganti seragamnya dan duduk di tepi ranjang kamar Dion.


Dion tak bersemangat menjawab dan duduk di samping Reno di tepi ranjang itu juga menundukkan kepalanya terlihat bersedih.


"Kak Angel tak masuk sekolah."jawabnya lesu masih tak bersemangat.


"Dia...."pancing Reno pura-pura tak tau siapa yang dimaksud putranya.


"Dia gadis yang kusukai."seru Dion terpancing perkataan Reno.


Dion segera menutup mulutnya. Terdapat senyum tipis di bibir Reno.

__ADS_1


"Lalu? Mungkin dia sakit?"pancing Reno lagi.


"Sepertinya dia menghindariku."jawab Dion masih lesu dan terlihat sedih.


"Kenapa dia menghindarimu? Pasti kau berbuat kesalahan sampai membuat dia menghindarimu? Eh, bagaimana kau tau dia tak masuk sekolah karena menghindarimu?" tanya Reno panjang lebar memancing anaknya supaya menceritakan semuanya padanya.


"Sudah lebih dari seminggu dia tak masuk, sejak terakhir kali bertemu dengan papa saat itu. Kalaupun sakit, apa selama itu dia sakit. Dia pasti tak masuk karena tak mau bertemu denganku." keluh Dion menghela nafas berat.


Reno tersenyum melongo, Dion termasuk anak yang pintar. Tak memiliki ibu membuatnya harus terpaksa dewasa belum saatnya, sekarang dia bercerita seolah-olah dirinya pria dewasa yang sedang memiliki banyak masalah. Apalagi helaan nafasnya membuat Reno semakin ingin mengorek seberapa besarnya anak ini dewasa belum saatnya.


"Kalau ternyata dia sakit beneran bagaimana?" tanya Reno mencoba menghibur Dion masih tersenyum geleng-geleng kepala dengan sikap putranya ini.


"Ah... entahlah.."sesaat Dion tersentak terkejut dengan perkataan Reno dan reflek menatap Reno dan kembali murung menundukkan wajahnya lagi.


"Apa kau melakukan kesalahan yang begitu besar sehingga membuatnya ingin menghindarimu?" tanya Reno berusaha memancing lagi.


"Aku menyukainya, apa salah jika aku menyatakan perasaanku?" bela Dion. Reno tersenyum lucu.


"Benarkan? Papa setuju kan? Lalu dimana salahku pa?" tanya Dion memelas.


"Sebentar.... Kau tak memaksanya untuk menerima perasaanmu kan?"tanya Reno memancing Dion untuk jujur.


Dan Dion terdiam, karena itulah yang dilakukannya. Setelah menyatakan perasaannya pada Angel, dirinya selalu membuntuti kemanapun Angel pergi. Saat ditanya kenapa dia membututi karena sekarang Angel adalah pacarnya.


Awalnya Angel dan teman-temannya menertawakan dirinya karena Angel tak merasa bilang iya akan perasaan Dion, sehingga bukan berarti Angel menerima perasaannya dan otomatis menjadi pacar.


Tapi bagi Dion itu lain cerita, baginya setelah pernyataan suka itu, Dion sudah menganggap Angel sebagai pacarnya dan Dion memutuskan untuk membututi Angel kemanapun dia pergi di dalam sekolah meski Angel dan teman-temannya merasa risih dan keberatan.


Tapi memang dasar Dion yang sangat keras kepala dia tak mempedulikan tolakan dan usiran Angel, dia tetap mengikuti langkah Angel kemanapun dia berada. Angel lama-lama jengah dan sangat risih. Dan membuatnya ketakutan akan sikap Dion.


Sehari dua hari dia bisa menghindari Dion dengan berlari cepat ke tempat yang tidak mungkin dijangkau Dion. Tapi Angel salah, Dion selalu bisa melakukan berbagai cara apapun untuk selalu dekat dengan Angel. Hingga Angel terakhir berteriak saat niat Dion ingin main ke rumahnya.

__ADS_1


Reno menepuk punggung putranya lembut.


"Caramu salah nak?"ucap Reno setelah mendengar cerita putranya yang membuatnya ingin tertawa tapi segera ditahannya tak mau membuat putranya tersinggung. Dion menoleh ke arah papanya dan menghela nafas panjang.


"Menyukai seseorang, kita harus tau apa dia juga menyukai kita. Kalau kita memang menyukainya bukan dengan cara memaksanya, asal orang yang kita sukai bahagia, kita pasti akan ikut bahagia." jelas Reno menerawang jauh ke depan, seolah kenangan demi kenangan dirinya dulu saat bersama Karina terlintas kembali di kepalanya.


Dia sungguh menyesal saat dulu mengkhianati kepercayaan cinta Karina padanya. Tapi Reno segera tersadar tak mau banyak larut dalam pikirannya. Sekarang ada putranya Dion yang harus menjadi fokus utamanya. Meski Dion bukan putra kandungnya tapi dalam akta sahnya dia adalah papanya.


"Seharusnya kau mendekatinya terlebih dulu sebagai teman, sahabat yang selalu ada untuknya setelah itu buat dia menyukaimu selama kau mendekatinya sebagai teman. Baru kau buat dia untuk juga menyukaimu." jelas Reno.


"Aku ingin selalu bersamanya."sela Dion.


"Tapi bukan kau harus memaksanya seperti itu sayang? Kau harus melakukannya dengan baik-baik dan dengan perlahan. Kalau kau tergesa-gesa seperti ini. Lihatlah! Dia malah menjauhimu bahkan menghindarimu. Apa kau ingin seperti ini?" ucap Reno tegas. Dion hanya menggeleng lemah masih tetap menunduk.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita ke rumahnya?" ajak Reno menghibur putranya.


"Kenapa?"tanya Dion polos.


"Tentu saja menjenguknya, kau bilang dia izin sakit. Kita lihat, mungkin dia sakit beneran. Dan kau harus minta maaf padanya, agar dia tak membencimu. Dan kau pun harus mendekatinya perlahan mungkin menjadi temannya dulu, tapi dengan catatan jangan terlalu menempel pada seorang perempuan. Perempuan tak suka pada pria yang suka menempel, beri dia sedikit ruang. Lama-lama dia akan tau kalau kau melakukan semua itu karena tulus. Bukan karena maksud apapun." jelas Reno menatap putranya yang kembali bersemangat sambil mengusak rambut Dion.


"Benarkah? Apa papa mau mengantarku ke rumahnya?" ucap Dion antusias dengan mata yang berbinar-binar senang.


"Tentu." jawab Reno mengangguk mengiyakan ajakan putranya.


Mohon dukungan terus ya 🙏🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2