
"Kemana kita?" tanya Vio saat dalam mobil Dion perjalanan entah kemana Dion membawanya.
"Kau akan tahu nanti." jawab Dion tersenyum lembut sambil mengecup punggung tangan Vio yang sejak tadi digenggamnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan, untung saja saat itu sudah lewat jam kantor sehingga jalanan tak begitu macet dan lancar.
Dion memarkirkan mobilnya di halaman parkir gedung mewah dan besar meski tak semewah dan sebesar gedung kantor orang tua Vio.
"Ini dimana?" tanya Vio lagi penasaran sambil melihat sekeliling gedung kantor yang lumayan tinggi itu.
Dion turun dan tak lupa membukakan pintu mobil untuk Vio dan mengulurkan tangannya untuk membantu Vio keluar dari dalam mobil. Vio yang masih fokus memandang gedung di depannya itu tersentak saat menoleh ke arah pintu melihat tangan Dion terulur padanya membantunya untuk keluar, seketika perasaan Vio menghangat diperlakukan begitu lembut dan romantis.
Vio tersenyum senang menerima uluran tangan Dion dan beranjak keluar dari dalam mobil. Batinnya masih ragu antara percaya sepenuhnya terhadap pernyataan cinta dari Dion, pasalnya pria ini pernah mencintai seorang gadis sejak kecil yang tak lain tak bukan adalah kakaknya sendiri.
Meski mereka bukan saudara kandung, mamanya selalu mengajarkan anak-anaknya untuk saling menyayangi. Tapi setelah kakaknya menikah, entah kebetulan atau karena apa, kini pria itu mengatakan jika dia mencintainya dan sudah lama menyerah terhadap cinta kakaknya dan sudah melupakannya.
Vio tak mau berpikir larut-larut baginya sekarang lari darinya pun percuma. Vio akan mencoba menerima cinta Dion yang katanya sekarang hanya untuknya, kalaupun Dion belum benar-benar melupakan kakaknya, dia akan berusaha membuat Dion mencintainya hingga lupa dengan perasaan cinta masa lalu.
"Ayo!" ajak Dion menarik jemari tangan Vio memasuki gedung kantor, para karyawan dan resepsionis yang berpapasan dengan Dion langsung membungkukkan badan memberi hormat karena mereka tahu siapa pemuda ini yang diketahui mereka sebagai putra pemilik perusahaan gedung kantor itu. Ya, Dion mengajak Vio menemui Reno papa angkatnya.
"Bas, bisakah kita menunda pertemuan ini?" pinta Vio memelas mencoba melepas pegangan tangan Dion. Dion pun berbalik tapi tetap berjalan dan menarik jemari tangan Vio.
"Tidak." jawab Dion tegas.
"Aku belum siap, kumohon!" pinta Vio lagi. Dion tak menjawab lagi pertanda dirinya tak mau dibantah lagi.
"Aku benar-benar belum siap Bas, bahkan aku belum mempersiapkan penampilanku." pinta Vio lagi beralasan. Dion berhenti sebentar menatap Vio dari ujung kaki sampai ujung kepala.
__ADS_1
"Perfect ... " ucap Dion menarik kembali jemari tangan Vio dengan tersenyum senang.
"Tidak, biarkan aku mempersiapkan diri dulu." pinta Vio lagi. Dion menarik jemari tangan Vio saat pintu lift terbuka, mereka pun memasuki pintu lift yang kebetulan hanya ada mereka berdua.
"Kenapa? Kemarin saat di pernikahan kau sudah bertemu dengannya. Apalagi yang ingin kau persiapkan?" ucap Dion mulai tak sabaran.
"Kemarin kebetulan dan sekarang memang disengaja, setidaknya biarkan aku berpakaian sedikit sopan dan formal." ucap Vio mencari alasan.
"Kau tak perlu menunjukkan seperti apa dirimu. Kau hanya perlu menunjukkan apa adanya dirimu, seperti sekarang. Toh, untuk apa kau harus berdandan di hadapan papaku?" ucap Dion menatap curiga pada Vio.
"Setidaknya aku harus menghormatinya sebagai ayah mertua, betulkan?" alasan Vio. Namun hal itu tetap tak mengubah pendirian Dion untuk mempertemukannya dengan papanya.
"Diamlah! Kau sudah cukup cantik seperti ini. Dan aku suka." ucap Dion menangkup kedua pipi Vio dan mencium bibirnya mesra dan di saat bersamaan pintu lift terbuka tepat di lantai ruangan Reno dan dia sedang berdiri di depan lift hendak masuk lift.
Reno yang memang sengaja menunggu lift tiba berdiri di depan pintu lift dengan beberapa direksi pemegang saham perusahaannya setelah meetingnya tadi. Mereka berencana makan siang bersama setelah meeting tadi. Setelah menunggu cukup lama di depan pintu lift.
Membuat Dion ikut tersentak tapi segera dikendalikannya dirinya. Sedang Vio merasa malu dan berdiri di belakang tubuh Dion tersipu.
"Ehm... Kita lanjutkan lain kali untuk makan siangnya, ada sesuatu yang harus saya urus." ucap Reno kepada para pemegang saham yang ikut antri di depan lift tadi.
"Tentu." jawab salah satu dari mereka yang sudah mengetahui siapa pemuda di dalam lift yang sedang beradegan mesra itu yang adalah penerus Reno, putranya.
**
Reno menghela nafas panjang, merasa sedikit malu dengan perlakuan Dion yang tanpa malu berciuman panas dengan kekasihnya di dalam lift.
"Kau tahu ada cctv disana?" tanya tanya Reno memecah keheningan setelah lebih dari lima belas menit mereka bertiga di ruangan Reno.
__ADS_1
"Aku tahu." jawab Dion tanpa malu.
"Lalu?" tanya Reno lagi menatap Dion tajam.
"Kami tak akan mengulanginya lagi." jawab Dion masa bodo, toh dia melakukan dengan orang yang dicintainya.
Reno lagi-lagi menghela nafasnya. Tak sanggup emosi karena teringat Dion buka. seseorang yang suka mengumbar kemesraan selama ini. Jadinya Reno melupakan masalah ini.
"Ada apa?" tanya Reno menatap keduanya bergantian. Kini mereka sudah dipersilahkan duduk di sofa ruang kerja Reno.
Dion menatap Reno yakin, sedang Vio banyak menunduk karena merasa masih malu dengan kejadian di lift tadi. Sehingga dia hanya diam menyimak percakapan diantara keduanya sejak tadi, tanpa berani ikut bicara atau menyela pembicaraan keduanya yang notabene tentang mereka berdua.
"Pa..."
"Ya?" Reno menatap intens keduanya dan berhenti menatap Dion yang mulai serius.
"Nikahkan kami!" ucap Dion.
"APA?"
TBC
.
.
.
__ADS_1