Perselingkuhan

Perselingkuhan
Reno Sebastian


__ADS_3

Acara pernikahan putranya mengingatkan dirinya pada pernikahannya dulu. Mewah juga indah, cantik dan tampan, begitulah yang dirasakannya dahulu saat bersanding di pelaminan berdua dengan mantan istrinya Karina. Ya, Karina yang kini juga didandani seperti pengantin namuna bukan sebagai pengantin tapi sebagai orang tua pengantin.


Wajah cantik Karina mengingatkan pada pernikahannya dulu, masih tetap sama cantik. Namun bukan dirinya yang menjadi pendamping orang tua itu, tapi sebagai suaminya yang sekarang. Mereka saling tersenyum bahagia. Seolah mengejek dirinya yang kini masih sendiri terlihat seperti orang bodoh. Masih mencintai mantan istrinya yang sudah menjadi milik orang lain.


*Seandainya seandainya, kesalahan yang kulakukan tak sefatal itu, kami pasti masih berdampingan sebagai sepasang suami istri meski anak kami nanti hanya anak adopsi, ah tidak, belum tentu Karina dapat menerima dirinya yang mandul ini, lama kelamaan dia pasti juga akan menuntut memiliki anak darah dagingnya sendiri. Seandainya aku mengikuti apa kata Karina dulu untuk periksa ke dokter bersama mungkin dokter dan Tuhan akan membantu kami untuk memiliki keturunan sendiri.


Pasalnya Karina bukan orang sejahat dan sepicik dirinya yang akan meninggalkan pasangannya karena kekurangan, Karina pasti akan tetap mencintainya meski kami berdua dulu berusaha untuk mencari apapun solusi untuk memiliki anak kami sendiri entah itu bayi tabung atau pengobatan alternatif. Dan kami akan bahagia sampai maut memisahkan.


Tapi semua itu hanya seandainya, semua sudah terlambat. Karina mantan istrinya kini sudah bahagia dengan suaminya yang sekarang. Yang juga begitu sangat mencintainya tanpa memandang statusnya. Bahkan saking begitu mencintainya apapun akan dilakukannya untuk mantan istrinya itu bahagia. Sekarang meski aku tak bisa memilikinya aku sudah bahagia karena melihatnya bahagia. Dan bersama lelaki yang lebih tulus mencintainya daripada aku*. batin Reno duduk di kursi barisan paling depan dan pandangan matanya tak lepas dari Karina yang terlihat sibuk mengalami tamu undangan yang tiada habisnya.


Ya, Reno hanya bisa duduk diam di kursi tamu, karena orang tua pendamping putranya diserahkan kepada orang tua kandungnya. Awalnya Dion tak terima namun Reno memberikan penjelasan pada Dion dengan hati-hati hingga Dion mau mengerti meski terpaksa setuju. Reno tersenyum getir putranya bisa mengerti dirinya.


Selain Reno bukan ayah kandungnya, Reno sendiri bingung siapa yang akan menjadi pendampingnya nanti jika dirinya yang menjadi pendamping orang tua pria, sedang dirinya tak memiliki pasangan. Reno hanya menginginkan mantan istrinya tak mau yang lain.


Dirinya rela menjadi duda sampai mati untuk menebus kesalahan-kesalahan di masa lalunya, toh tak ada seorang wanita pun yang mampu menggerakkan hatinya selain mantan istrinya itu.


Bruk...


"Maaf tuan, aku tak melihat...maaf." ucap wanita itu merasa bersalah karena telah menumpahkan minumannya pada jas Reno.

__ADS_1


"Tak apa, aku yang salah tak melihat anda datang." jawab Reno mengusap jasnya yang basah dan kotor oleh minuman namun hanya sedikit.


"Maaf sekali lagi maaf." ucap wanita setengah baya itu.


Meski tak terlalu cantik, dia terlihat anggun dan tatapan mata cemasnya menghangatkan. Wanita itu mengambil tisu dalam tasnya mengusap jas Reno yang basah tepat di dadanya.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih." Reno menolak niat baik wanita itu segera menghindar untuk ke toilet membersihkan jasnya.


Wanita itu sedikit terdiam, dia seperti mengenali pria itu, dulu, dulu sekali namun dia lupa dimana. Diapun tak memikirkan lagi dan ikut berbaur bersama tamu undangan yang lain.


Setelah tak lebih lima belas menit, Reno pun kembali ke ballroom acara pernikahan putranya. Dia mengambil segelas minuman dingin untuk mendinginkan otaknya yang masih saja terpesona dengan kecantikan mantan istrinya. Dan kini masih saja tatapannya tak lepas dari mantan istrinya tersebut.


"Tak apa, sungguh tidak apa-apa." jawab Reno merasa tak nyaman pada wanita yang entah sengaja atau tidak menumpahkan minuman padanya tadi.


Pandangan matanya kini terganggu saat sedang asyiknya dirinya tengah menatap wajah cantik mantan istrinya. Saat wanita itu terus saja nyerocos yang tidak dipedulikan sama sekali oleh Reno. Reno tersentak melihat Karina tiba-tiba terduduk dengan wajah pucatnya. Dan seketika pula Derian dengan sigap berbalik menatap Karina dengan raut wajah cemas.


Dan Reno melihat mereka bicara dan melihat Derian tiba-tiba membopong Karina yang terlihat lemah. Raut wajah Reno terlihat cemas dan panik. Ingin dia mendekat bertanya apa yang terjadi pada Karina namun senyum Derian mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ah, mereka masih sangat mesra saja. batin Reno tersenyum getir dengan kesimpulan yang diambilnya saat melihat senyuman di bibir Derian saat membopong istrinya.


Wanita yang sejak tadi ngoceh-ngoceh yang dirinya sudah tahu tidak dihiraukan kini dia mengingat siapa Reno. Ah, benar. Tuan Reno, dia adalah mantan suami bu Karin, dulu dia sering datang ke sekolah berkunjung dan mengantar jemput bu Karin. batin wanita itu yang ternyata bu Mita rekan kerja sesama guru dulu di sekolah yang sama dengan Karina.

__ADS_1


Bu Mita hanya tersenyum simpul, Ternyata tua. Reno masih begitu mencintai Bu Karin. batin Mita.


Reno bergegas meninggalkan ballroom hotel tempat acara pernikahan putranya dengan perasaan campur aduk. Raut wajahnya tak terbaca, entahlah.


"Tuan Reno." sapa Mita yang mengikuti Reno melangkah meninggalkan gedung hotel. Reno sontak menoleh pada suara yang mengenali dirinya.


"Anda..."


"Ah, saya Mita, anda pasti tak ingat siapa saya dulu. Saya dulu..."


"Maaf, saya harus pergi!" sela Reno tak mau basa-basi dan langsung masuk ke dalam mobilnya meninggalkan gedung itu.


.


.


.


Maafkan typo

__ADS_1


__ADS_2