Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 76


__ADS_3

"Bagaimana keadaan putriku dok?" tanya Karina pada dokter yang merawat Angel.


"Putri anda hanya kelelahan, saya harap dia mau beristirahat dengan cukup." jelas dokter yang setelah itu pamit dari kamar Angel dirawat.


Karina masuk ke dalam ruang perawatan, terlihat Angel terbaring dengan tubuh lemahnya. Masih memejamkan mata, karena kelelahannya.


Sementara Derian bertemu Didi yang menunggui Angel yang pingsan dari kemarin sore, dia berinisiatif menghubungi keluarga Angel yang diketahui sebagai pemilik hotel tempatnya bekerja. Dan disinilah dirinya sekarang.


Derian dengan sorot mata tajam dan dingin menakutkan menatap para pekerja yang berhubungan dengan hilangnya menantunya. Tak terkecuali Didi yang diminta memberikan penjelasan apa yang terjadi mulai awal sampai hari itu.


"Bukannya fasilitas hotel disini lengkap dan dua puluh empat jam?" seru Derian emosi, menatap semua pegawainya satu persatu yang tentu saja menunduk ketakutan merasakan aura tajam dan dingin dari sang pemilik hotel. Didi pun merasa bersalah karena dirinya sebagai kepala keamanan di hotel itu.


"Maafkan saya tuan, atas keteledoran saya." jawab Didi tegas.


"Kau... kau kan kepala keamanan. Bagaimana bisa kecolongan seperti itu. Kau penanggung jawab keamanan hotel ini. Sekarang jelaskan apa yang terjadi. Dengan detail." seru Derian tegas.


"Yang lainnya cari informasi apapun yang mengarah pada menantu saya." seru Derian lagi menunjuk pegawai lain, dan tinggallah Didi dengan Derian di ruang pimpinan pemilik hotel.


"Berdasarkan informasi dari dokter. Ada yang menolong seorang laki-laki yang kira-kira masih muda saat saya tunjukkan foto tuan muda, mereka meyakinkan kalau itu adalah tuan muda. Dokter bilang seseorang membawanya ke Jakarta untuk dilakukan perawatan lebih lanjut karena pasien terluka parah hingga koma." jelas Didi saat dirinya kemarin di beri penjelasan dokter.


"Kau yakin dia menantuku?" tanya Derian sudah tak berteriak lagi.


"Saya yakin tuan. Karena hanya pasien itu yang menjadi korban kecelakaan saat di depan restoran." jawab Didi lagi.


"Lalu, kenapa mereka tak menghubungi keluarga kami. Pasti Al mempunyai identitas atau ponsel atau..."


"Ah, dompetnya jatuh di sekitar TKP kecelakaan, dan seseorang di sekitar restoran sudah memberikan pada nona Angel." jelas Didi menyela.


"Sial..." umpat Derian menggebrak meja. Didi terkejut melihat kemarahan pemilik hotel itu.


"Lalu, kau sudah tanya tentang identitas penabrak yang membawa menantuku, apa yang dikatakan dokter?" tanya Derian lagi tak sabaran.

__ADS_1


"Mereka tak meninggalkan data akurat, hanya membayar tagihan rumah sakit dengan uang tunai. Sepertinya dia dari orang yang terpandang juga." jelas Didi sesuai perkataan dokter tadi.


"Sial... lalu kemana lagi kita mencarinya." ucap Derian frustasi.


"Tapi dokter bilang, kalau mereka akan menuju ibu kota, karena disana peralatan mereka lebih lengkap. Dan selama dua hari ini tidak ada penerbangan ke luar negeri membawa orang koma, walaupun itu pesawat pribadi. Kemungkinan tujuan ibu kota." jelas Didi.


"Tapi tak adakah penjelasan lain yang lebih spesifik?" tanya Derian.


"Untuk sementara hanya itu informasi yang saya dapatkan tuan." sesal Didi terdiam.


"Selidiki terus, kau bisa pergi. Aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang diperlukan." ucap Derian.


"Baik tuan, saya permisi undur diri." jawab Didi meninggalkan ruangan itu. Derian menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan itu.


Angel membuka matanya perlahan, mengerjap, melihat sekeliling ruangan. Entah apa yang terjadi, yang diingatnya kemarin dirinya pingsan saat mengetahui ruang perawatan VVIP kamar terakhir yang dibukanya kosong. Saat mengingat kembali suaminya hilang entah kemana, Angel kembali menangis menumpahkan air matanya.


"Sayang, bersabarlah!" hibur Karina yang sejak tadi duduk di sisi ranjang putrinya. Angel beralih menatap Karina yang terlihat bersedih.


"Mama... kak Al menghilang ma, kak Al hilang, dia pergi meninggalkanku ma..." ucap Angel bersedih sambil terus menangis, air mata terus mengalir sejak tadi membuat dadanya sesak.


"Tapi kemana dia ma, kemana? Dia tega sekali meninggalkanku sendiri ma." ucap Angel sesenggukan dalam pelukan Karina.


Karina tak tahu harus menjawab apa terus mengusap punggung putrinya. Dirinya juga bingung bagaimana hal ini bisa terjadi dalam pernikahan mereka yang baru beberapa hari.


"Percayalah pada suamimu nak, doakan dia baik-baik saja dimanapun dia berada." hibur Karina, membuat Angel semakin tersedu tangisannya.


Cklek


Suara pintu ruang perawatan Angel dibuka, muncul Derian dengan wajah frustasi. Dia juga bingung menjelaskan kepada putrinya tentang kabar yang didapatnya.


"Papa ..." seru Angel, Derian langsung menghambur memeluk putrinya yang terlihat sangat bersedih dan lemah itu.

__ADS_1


"Sabar nak, papa akan berusaha sebisa mungkin menemukan suamimu." jelas Derian. Karina ikut bersedih dan menangis mendengar ucapan suaminya yang tak memberikan baik.


"Kak Al meninggalkanku pa, dia pergi..." ucap Angel dalam pelukannya.


"Tidak nak, berdoa suamimu baik-baik saja."


"Apa yang papa temukan?" tanya Karina menatap Derian intens. Derian melepas pelukannya, menatap Angel dengan wajah yang kacau dan kusut serta lingkaran mata hitam pertanda kurangnya istirahat dirinya sejak kemarin.


"Istirahatlah nak, kata dokter kau harus banyak istirahat. Tubuhmu lemah, jangan memaksakan dirimu. Papa akan kerahkan seluruh orang papa untuk mencari suamimu. Walau sampai ke ujung dunia sekalipun." ucap Derian mengecup kening putrinya sayang.


"Papa..." Angel memeluk Derian lagi, dengan berderai air mata yang sejak tadi tak pernah berhenti mengalir. Hingga karena kelelahan tangisannya, Angel terlelap lagi.


"Apa tak ada kabar lagi?" tanya Karina pada suaminya yang kini tengah duduk di sofa ruang perawatan itu, bersisian dengan tangan Karina melingkar di lengan Derian mesra.


"Kita harus kembali ke ibu kota." ucap Derian.


"Apa?"


"Menurut informasi, seseorang membawa tubuh Al yang koma untuk dicarikan rumah sakit ibu kota yang peralatannya lebih lengkap." jelas Derian.


"Apa? Al koma?" ucap Karina terkejut sontak menutup mulutnya. Derian hanya mengangguk.


"Lalu, bagaimana keadaannya? Tapi bagaimana kau tahu?" tanya Karina mendesak menatap suaminya lekat.


"Didi, kepala keamanan bertemu dokter yang sempat merawat Al saat sekarat di rumah sakit ini." ucap Derian menatap istrinya lekat.


"Astaga, semoga Al baik-baik saja." ucap Karina menutup mulutnya lagi karena lagi-lagi dia dikejutkan kabar itu.


TBC


Maafkan typo.

__ADS_1


.


.


__ADS_2