
Karina berjalan menuju lift setelah menyerahkan bekal makanan itu pada Noah yang sengaja dibuatnya untuk dimakan berdua nanti jika Derian tak sedang sibuk sebagai permintaan maafnya padanya tentang perihal salah paham kemarin. Karina pun menyadari jika dirinya juga bersalah tidak pamit pada Derian dan menghibur Reno di tempat umum yang merupakan seorang mantan suaminya.
Saat pintu lift terbuka lantai tujuannya sampai. Karina melangkah dengan menghela nafas mendengar suasana hati Derian masih belum membaik dengan bukti dirinya meneriaki pegawainya yang belum tentu salah dan dicari-cari kesalahan mereka hanya karena suasana hatinya buruk.
"Bu guru!"panggilan Angel, muridnya di tempat kerjanya dulu menghampirinya bersama Putri dan di belakang mereka ada Adelia mama kedua gadis kecil itu.
"Bu gulu habis ketemu papa ya?"tanya Putri si bungsu.
Karina yang kebingungan menjawab kelagapan ingin menjawab apa.
"Boleh kita bicara?"sela Adelia membantu Karina yang kebingungan.
"Baiklah."jawab Karina tersenyum pada kedua gadis itu dan pergi ke bangku taman halaman gedung kantor itu.
"Anak-anak tunggu di sofa disana ya?Mama mau bicara dengan Bu guru kalian dulu. Setelah itu kita temui papa."ucap Adelia memberikan penekanan pada kata 'papa' di hadapan Karina. Karina mencelos mendengar kata-kata Adelia, seolah sindiran keras padanya. Adelia pun mengikuti tempat Karina duduk.
"Anda ingin bicara apa?"tanya Karina tak sabar karena lama Adelia tak memulai pembicaraan.
"Sekarang kau tau kan? Semoga, seorang guru dari anak-anakku pasti tau apa yang diinginkan oleh mereka? Mereka hanya mau berkumpul dengan kedua orang tua kandung mereka tanpa orang lain."tegas Adelia menyindir Karina telak.
"Apa maksudmu?" Karina menoleh menatap Adelia.
"Jangan berpura-pura tidak tau apa maksud ucapanku. Seharusnya kau tau diri untuk segera menjauhi suamiku. Jangan berpikir untuk merebut papa dari anak-anakku, kau tak ingin mereka membencimu karena mengambil papa mereka bukan?" tegas Adelia penuh penekanan ikut menoleh menatap Karina tajam.
Dering ponsel Karina memecah ketegangan di antara mereka. Karina melirik ponselnya, Derian menghubunginya.
"Kurasa kau sudah tau apa yang mesti dilakukan? Bahwa seorang suami tetap akan kembali pada anak-anaknya dan istri sahnya." sindir Adelia meninggalkan Karina yang berdiri terpaku di tempatnya.
"..."
"Ya?"
"..."
"Aku sedang menunggu taksi online."
"..."
"Kau sepertinya sedang sibuk?Aku tak mau mengganggumu."
"..."
"Tidak usah lanjutkan saja pekerjaanmu."
Suara sapaan kedua putri Derian terdengar riang di seberang telpon, membuat perasaan Karina seperti tercubit tak akan sanggup menghilangkan keriangan kedua gadis itu.
__ADS_1
"..."
"Baiklah."jawab Karina menutup ponselnya.
Bagaimanapun akhirnya dia tetaplah orang ketiga yang masuk di tengah keluarga Derian. Terlepas masalah yang menimpa rumah tangga mereka, mereka pasti tak akan mampu membuat kedua putrinya bersedih, apalagi jika mereka tau gurunyalah yang membuat kedua orang tuanya berpisah pasti hati mereka akan hancur dan mereka akan hilang kepercayaan penilaian baik terhadap orang dewasa.
***
"Papa, kapan kita jalan-jalan bersama lagi?sekarang kan mama sering di rumah. Kita jalan-jalan bersama yuk!"rengek Angel saat mereka perjalanan pulang mengantar mereka pulang ke rumah.
"Tidak sekarang sayang, papa harus kerja." jawab Derian tak bersemangat tetap tersenyum agar tak membuat anak-anaknya kecewa.
"Ayolah pa..ayolah..."rengek Putri ikut-ikutan.
"Mungkin akhir pekan nak, papa sekarang kan harus kerja."ucap Adelia lembut mencoba membantu Derian menjawab keinginan kedua putrinya. Derian hanya melirik tajam dan dingin pada Adelia masih tetap fokus pada kemudi. Meski kau mengatakan itu aku tak sudi harus bersama denganmu lagi, munafik. batin Derian.
"Benar pa."
"Benar ma."
Jawab keduanya antusias.
"Hore."
"Hore."
***
Derian menurunkan kedua putrinya dari mobilnya setelah sampai di rumah. Keduanya langsung dibawa bibi pengasuh ke kamarnya setelah pamitan pada Derian tak lupa cipika-cipiki pada papa mereka.
"Jangan berharap aku percaya."ucap Derian tegas setelah kedua putrinya masuk ke kamar mereka.
"Apa salah jika aku berubah mas?"ucap Adelia memelas menunjukkan isakan tangisnya berharap dapat meluluhkan hati suaminya.
"Berubah? Kau sungguh berubah?" ucap Derian tertawa mengejek menatap Adelia yang entah dari mana air matanya itu keluar.
"Kau kira aku tak tau, kau masih menemui kekasihmu?"ucap Derian telak tepat sasaran. Adelia langsung salah tingkah merasa dirinya terpergok suaminya.
"Kau juga masih menemui kekasihmu?"teriak Adelia ganti mematahkan argumen Derian yang ingin menjatuhkannya. Adelia memang masih sering bertemu dengan kekasihnya itu, kekasihnya itu selalu minta uang lebih padanya saat uangnya habis.
Jika Adelia tidak menurutinya, dia mengancam akan membeberkan semuanya pada Derian tentang kebusukannya selama ini dan itu akan berakhir perceraiannya dengan Derian tanpa mendapatkan sepeserpun dari pernikahannya nanti. Adelia memang menikahi Derian karena harta, ingin mengeruk kekayaan Derian dengan berpura-pura mencintai Derian tapi saat bertemu kekasihnya lagi. Adelia terjerat lagi dengan kekasihnya dan juga memaksa Adelia untuk memenuhi hasrat kekasihnya itu jika ingin rahasianya aman.
"Aku sudah mengajukan perceraian baik-baik padamu. Kau tak mau. Aku juga sudah minta persetujuan padamu untuk menikah lagi jika kau tak bersedia bercerai. Dan sekarang aku hanya bisa terpaksa menikahinya siri karena kau selalu mengulur-ulur waktu dengan perceraian kita. Dan toh meski aku mempunyai istri dua aku masih bisa mencukupi kebutuhan kalian. Dan gugatan perceraian kali ini, akan kupastikan kau tak dapat apapun jika kau ingin mempersulitnya." kata Derian dengan penuh ancaman.
Menatap Adelia dengan dingin dan tajam seolah menghujam tubuh Adelia hingga membuat Adelia gemetar-gemetar menahan kesal dan amarahnya tak bisa menyangkal apapun di hadapan Derian.
__ADS_1
"Brengsek...Shit...Sial..."umpat Adelia kesal setelah Derian berlalu pergi meninggalkan rumahnya.
**
"Karina..."sapa Reno melihat Karina menarik kopernya berjalan di trotoar hendak duduk di bangku halte bus.
"Mas Reno."jawab Karina tak jadi duduk. Reno menatap koper Karina.
"Kau.... mau pergi?"tanya Reno menatap koper Karina heran.
"Ah ini, tadi aku membereskan barang - barangku di rumah dinasku. Aku mau memindahkannya."jawab Karina gugup segera bisa dikontrol.
"Ah kebetulan bertemu disini. Tadi aku sudah mencoba menghubungi ponselmu tapi sepertinya kau tak mengangkatnya..."
"Ah, maaf... aku mode diam jadi mungkin aku tak mendengarnya. Maaf.."ucap Karina tersenyum, sambil mengambil ponselnya di tas kecilnya.
"Ah tak apa, aku hanya ingin mengambil sesuatu barang yang tertinggal di rumah lama. Aku mau meminjam kunci rumah."kata Reno ragu.
"Ah tentu..."Karina mencari-cari kunci rumah lamanya yang diberikan Reno sebagai kompensasi perceraian mereka.
"Lebih baik kau ikut saja, jadi kau bisa langsung membawa kuncinya kembali."tawar Reno.
"Baiklah."jawab Karina sambil menarik kopernya.
"Biar kubawakan... !"tawar Reno sambil mengelus perutnya sendiri memberi kode tentang keadaan Karina yang hamil.
"Terima kasih." jawab Karina mengalah mengerti maksud Reno.
"Dion... sudah sembuh?"tanya Karina saat berjalan bersisian menuju rumah lama mereka.
"Sudah, dia sudah pulang ke rumah. Jahitannya sudah mengering. Tinggal pemulihan saja."
"Syukurlah..."
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.