Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 103


__ADS_3

Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Karina meneriaki Dion saat mobilnya melajukan kencang. Dion terpaksa menurunkan kecepatan karena teriakan sang mama mertua. Kini mereka sedang mengejar mobil keluarga mereka yang disopiri sopir keluarga dengan Angel sebagai penumpang yang dalam kondisi yang sedang marah karena kekecewaan yang dialami dari sang adik, Dion dan juga mamanya.


Di dalam mobil tak henti-hentinya Angel menangis merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia kembali goyah perasaannya pada Dion saat melihat Dion yang kini lebih terlihat tampan, dewasa dan sangat karismatik. Setelah menghilangnya suaminya membuat sedikit banyak rasa shock pada Angel.


Kekecewaan yang merasa ditinggalkan oleh suaminya membuatnya sungguh sangat frustasi dan kedatangan Dion yang membantunya membuatnya sedikit demi sedikit perasaan ditelantarkan oleh suaminya sedikit terobati. Perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan Dion padanya meski dirinya tahu itu hanya dilakukan karena merasa kasihan padanya.


Tapi hati kecil Angel menutup semua itu. Angel memaksakan dirinya untuk membuat dirinya baik-baik saja dengan merasakan perhatian Dion padanya di sela-sela kehamilannya.


Membuat Angel kembali sedikit berharap bahwa dia bisa kembali seperti dulu. Namun hari ini dirinya begitu sakit merasa dikhianati dan dibohongi oleh semua orang seperti orang bodoh saja. Tanpa banyak berpikir dia segera berlari meninggalkan rumah mereka, ya sang adik Vio dan Dion yang ternyata sudah menjadi sepasang suami istri dengan putra mereka yang baru lahir kurang dari tiga bulan lalu.


Angel merasa kecewa kembali, merasa dibuang dan dikhiati lagi oleh orang-orang terdekatnya terutama keluarganya. Di sela-sela itu dia teringat suaminya kembali yang entah sekarang ada dimana, masih hiduplah atau sudah meninggal.


Mobil terparkir apik di halaman rumah keluarga mewah dan besar bak istana milik keluarga Aftano. Angel segera turun dari mobil dengan emosi yang masih memuncak dengan berderai air mata.


Tak berjarak lama, mobil Dion memasuki halaman rumah itu juga dan terparkir di samping mobil yang dikemudikan sopirnya keluarga mereka. Karina turun mendahului Dion.


"Dimana Angel pak?" tanya Karina terburu-buru mendesak sopirnya yang membersihkan bodi mobil dengan kemoceng.


Karena itulah pekerjaan sopir itu jika sudah tak mengantar siapapun. Dia juga selalu stay di dekat mobil jika sewaktu-waktu salah satu majikannya untuk diantar kemampuan tujuannya.


"Tadi nona terburu-buru masuk ke dalam rumah sambil menangis nyonya." jawab sopir itu takut-takut.


Karina langsung masuk rumah diikuti Dion tanpa menjawab sopir tadi. Sopir tadi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tak paham apa yang terjadi dengan semua majikannya itu.


"Hah... orang kaya memang sulit di mengerti." bisik pak sopir meneruskan kembali pekerjaannya.

__ADS_1


"Angel, Angel nak..." seru Karina masih terdengar lembut.


Angel yang baru menapaki tangga terakhir atas masih dengan sesenggukan berbalik menoleh menatap Karina yang ada di bawah tangga. Karina menatap Angel terenyuh dan merasa bersalah.


"Sayang..." panggil Karina lagi memelas mencoba memohon hendak naik. Dion mengikuti di belakangnya belum bicara apapun.


"Kenapa mama setega itu padaku ma? Kenapa?" rintih Angel sambil menangis, suaranya terdengar menyayat hati.


"Sayang, bukan seperti itu nak..." pinta Karina memelas mulai naik ke tangga perlahan.


"Mama tega membohongiku juga, kenapa ma, kenapa? Kenapa hanya aku yang tidak tahu? Aku seperti orang bodoh saja selama ini." rintih Angel masih menangis terisak.


"Bukan begitu nak, kau salah paham.Kami...


"Apa karena aku bukan anak kandung mama dan papa?" tanya Angel yang sangat memilukan. Karina segera menggeleng.


"Bukan nak, bukan seperti itu. Kau juga putri mama, semua sama, sama-sama putri mama. Mama tak pernah membeda-bedakan kalian." elak Karina sebelum Angel salah paham terlalu jauh. Masih berusaha menaiki tangga sedikit demi sedikit perlahan.


"Hiks...hiks.. lalu kenapa ma, kenapa?" saat pijakan teratas, kaki sebelah kiri Angel terlihat tak tepat di pijakan membuat Angel sontak terguling.


"Angel..." seru Karina.


"Kak..." Dion ikut berteriak karena mengikuti Karina dari belakang.


Sebelum melewati tangga terakhir Dion reflek segera menangkap tubuh Angel mencegah jatuh ke bawah lebih jauh. Sebelah tangan Dion dapat meraih pegangan tangga dengan tubuh Angel berada di atasnya. Karina hanya terbengong tak percaya dengan apa yang dia lihat menutup mulutnya terkejut melihat kejadian itu.

__ADS_1


Dion segera menggendong tubuh Angel ke mobil.


"Kita ke rumah sakit sekarang ma." seru Dion membopong tubuh Angel masuk ke dalam mobil.


"I... iya." jawab Karina mengikuti Dion dari belakang. Angel pingsan dan di bawah pahanya keluar darah yang bercampur air yang keruh yang diyakini air ketuban.


"Bangun nak, bangun... buka matamu nak. Maafkan mama. Maaf..." rintih Karina mengusap wajah Angel yang pingsan tak sadarkan diri terdiam tak menjawab apapun.


"Apa masih ada nafas ma?" tanya Dion sambil konsentrasi menyopir menuju rumah sakit.


Mobil melaju dengan cepat, meski merasa beruntung karena lampu lalu lintas tak pernah merah.


Tak sampai setengah jam, mobil terparkir serampangan di depan pintu masuk karena tergesa-gesa dengan bersamaan dengan sebuah mobil juga ikut terparkir di belakang mobil Dion. Perawat yang memang sudah ditelpon Dion sudah menyiapkan brankar untuk menerima pasien bersiap menerima pasien.


Namun perawat itu bingung karena bersamaan dengan itu ada dua pasien yang datang. Namun melihat kondisi rintihan Angel yang dalam keadaan darurat mendahulukan Angel untuk ditolong terlebih dahulu.


"Sakit ma..." rintih Angel yang sudah mulai sadar.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2