Perselingkuhan

Perselingkuhan
Dion dan Vio


__ADS_3

Pernikahan meriah yang dijanjikan kedua orang tua Vio akhirnya terjadi. Banyak tamu undangan yang hadir memenuhi undangan keluarga besar Aftano dan juga undangan keluarga besar Sebastian serta tak ketinggalan keluarga besar Mahardika keluarga dari pihak ayah kandung Dion.


Acara yang memang sudah direncanakan oleh Derian untuk putri kesayangannya tak tanggung-tanggung. Bahkan lebih meriah dari pernikahan Angel dahulu. Namun hal itu tidak lekas membuat Angel merasa cemburu atau iri pada saudara angkatnya itu.


Meski begitu Angel malah merasa bahagia, apalagi kini di sisinya ada suami tercintanya dan putri mereka hasil buah cinta keduanya yang sudah mulai merangkak berdiri untuk berjalan. Angel menatap Al tersenyum bahagia, begitu juga Al balik menatap penuh cinta. Ciuman sekilas pun terjadi diantara mereka di tengah keramaian hiruk pikuk pesta yang terbilang sangat mewah itu.


Putrinya yang kini sedang asyik bermain di dengan sepupu keponakan tampak bermain asyik sendiri tanpa memperdulikan hiruk pikuk ramainya pesta saat itu dengan didampingi pengasuh masing-masing.


"Putrimu pasti akan melupakan kita jika sedang bersama Rey." keluh Angel cemberut menatap kedua anak kecil yang begitu imut itu.


"Itu artinya putri kita sudah mandiri, meski aku tak rela." jawab Al ikut menatap kemana istrinya menatap dan jangan lupakan tangan Al mendekap erat posesif pada pinggang istrinya seolah tak mau melepaskannya.


"Aku pun tak rela putriku harus mandiri secepat ini." keluh Angel cemberut.


"Bagaimana kalau kita berikan adik padanya?" canda Al tersenyum misterius mengalihkan pandangannya tak berani menatapnya.


Angel menoleh menatap suaminya yang membelakanginya dengan telinga yang memerah karena malu. Angel menarik dagu suaminya untuk menatapnya, mereka pun saling menatap lekat.


"Sudah lama aku menunggu kata-kata itu sayang?" ucap Angel tersenyum manis. Al menganga tak percaya, kalau keinginannya untuk mempunyai anak lagi langsung diiyakan oleh istrinya.


"Ah, kurasa malam pertama pengantin adalah milik kita " ucap Al tanpa malu dan ragu langsung menerjang bibir istrinya, melu*mat, menghi*sap hingga tak sadar dimana tempat mereka berada kini.

__ADS_1


"Kenapa tak langsung ke kamar, banyak anak-anak dan jomblo disini." goda Putri yang sudah duduk di kursi depan mereka terhalang meja di tengah.


Keduanya sontak melepaskan ciuman panas mereka dengan wajah memerah karena malu dipergoki adiknya dan seketika menyadari di mana mereka kini. Keduanya pun tertawa lucu saling menatap tak menghiraukan Putri yang menegurnya tadi.


**


Di pelaminan, sepasang pengantin sedang menyalami tamu undangan yang tak kunjung habis itu sejak pagi tadi. Vio terlihat kelelahan dengan wajah pucatnya. Dion yang sejak tadi meminta Vio untuk istirahat ditolak oleh Vio merasa tak enak harus meninggalkan pesta yang dikhususkan untuk mereka.


Apalagi keadaan perut Vi yang sudah mulai terlihat membuncit hamil anak kedua mereka. Rencana menunda anak kedua harus gagal karena Dion yang tak pernah berhenti meminta jatahnya setiap harinya hingga Vio harus kebobolan karena kontrasepsinya gagal digunakan karena Dion menolaknya.


Dion ingin punya banyak anak dengan istrinya karena menjadi anak tunggal itu sangat kesepian. Itulah sebabnya Dion melarang istrinya untuk kontrasepsi. Bahkan dia merencanakan punya sebelas anak enam laki-laki dan lima perempuan agar rumahnya selalu ramai dengan tawa anak-anaknya.


Namun hal itu langsung ditolak mentah-mentah oleh istrinya. Jika tetap ingin banyak anak, jatahmu hanya sebulan sekali. itulah ancaman dahsyat Vio pada Dion dan tentu saja Dion langsung manyun mendengarnya, baginya istrinya sudah menjadi candu untuknya di setiap harinya, tanpa menyentuh istrinya seharipun membuat Dion seperti sesak nafas oleh sebab itu dia selalu mengajak istrinya itu kemanapun dia pergi jika mengharuskan untuk menginap. Sekarang Dion benar-benar menjadi bucin istrinya itu. Namun dia malah semakin bahagia.


"Aku tak apa sayang." jawab Vio dengan wajah pucatnya.


"Kau terlihat tidak baik-baik saja, kau sangat pucat, kau pasti kelelahan. Kasihan juga pada bayi kita." bujuk Dion sambil mengelus perut istrinya yang diperkirakan sudah berumur lima bulanan.


Vio menatap wajah suaminya yang penuh rasa cemas.


"Baiklah, aku akan masuk ke kamar saja. Kau temanilah para tamu!" ucap Vio mengeluh.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu ke kamar." ucap Dion memapah istrinya ke kamar mereka yang sudah dipesan untuk malam pertama mereka meski sudah bukan malam pertama namun Karina bilang malam pengantin itu penting meski bukan untuk pertama kalinya.


"Akan kusiapkan air hangat untukmu mandi." pinta Dion yang langsung masuk kamar mandi menyiapkan air tanpa menunggu jawaban istrinya yang hendak protes.


**


"Kau belum ganti baju?" tanya Dion saat melihat istrinya masih memakai gaun pengantin yang kesulitan membuka resleting gaunnya.


"Ini... sulit sekali." jawab Vio masih menggapai tangannya untuk membuka resleting gaunnya. Entah karena kelelahan atau memang tidak bisa, Vio terlihat malas untuk menggerakkan tubuhnya.


"Akan kubantu." tawar Dion membuka resleting gaun istrinya.


Punggung mulus nan putih istrinya tampak menggodanya, satu kecupan pun mendarat di punggung itu. Membuat Vio merinding kegelian tanpa sadar diapun mendesah membuat Dion tak berhenti sampai disitu. Kecupannya terus menjalar menelusuri leher serta bahu mulus istrinya hingga keduanya sudah sama-sama meraih kenikmatan, melakukan malam pengantin mereka.


Melupakan keinginan untuk mandi dan istirahat serta para tamu undangan yang mungkin menunggu pengantin pria yang berjanji segera kembali setelah mengantar istrinya ke kamar.


Dion menatap istrinya yang sudah kelelahan, membuat Dion mengurungkan niatnya untuk menyerang kembali istrinya. Diapun masuk kamar mandi membersihkan dirinya setelah menyelimuti tubuh istrinya tak lupa meninggalkan kecupan di kening istrinya lembut.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2