Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 79


__ADS_3

Derian berlarian di lorong rumah sakit, seingatnya sudah berkali-kali dirinya selalu berada di rumah sakit akhir-akhir ini. Kabar tentang penusukan penyerangan terhadap Karina membuatnya kehilangan akal dan kewarasannya.


Derian langsung terduduk linglung saat salah seorang pengawal yang ditugaskan untuk mengawal Karina dan Putri untuk menjemput Angel dan hendak mampir ke mall tadi.


Pertemuan meeting dengan kliennya yang sudah setengah jalan, terpaksa ditinggalkannya langsung berlari ke parkiran mobilnya dan masuk dengan sopir. Noah memaksanya untuk diantar sopir.


Jika tuannya nekat menyetir sendiri dalam kondisi seperti itu tidak memungkinkan akan menabrak apapun yang ada dihadapannya nanti. Derian terpaksa menuruti setelah Noah menjelaskan panjang lebar agar tak menyesalinya nanti.


Kurang lebih satu jam, Derian sudah berlarian di lorong rumah sakit, menemukan orang-orangnya yang sudah menunggu di depan ruang UGD. Mendengar kabar tentang Karina yang terluka membuatnya seolah dunianya runtuh.


Orang yang begitu dicintainya terluka saat dirinya tak ada disisinya. Derian menyalahkan dirinya sendiri karena mengizinkan Karina pergi bersama kedua putrinya meski dengan beberapa pengawal nyatanya Karina masih bisa terluka.


"Tuan."sapa beberapa pengawal yang berdiri berjajar di depan ruang UGD sedang kedua putrinya yang masih shock direbahkan di kamar perawatan.


Bugh bugh bugh bugh


Empat pukulan menghantam perut masing-masing keempat pengawalnya. Keempat pengawal itu hanya meringis menahan sakit dipukul tuannya. Mereka hanya menunduk tak berusaha membela ketidakbecusan mereka. Mereka mengakui kalau mereka tak bisa menjalankan tugas untuk melindungi istri tuan mereka.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku, jangan harap kalian semua selamat."desis Derian menahan amarahnya lebih lagi.


Tak ada yang berani menjawab, mereka semakin menundukkan wajah merasa bersalah. Derian benar-benar kecewa pada mereka semua. Cengkeraman tangannya dihentak kuat dari kerah salah satu pengawalnya.


Derian segera menghampiri dokter yang sudah keluar dari ruang UGD.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"cemas Derian menatap dokter penuh harap.


"Maaf... pasien masih dalam keadaan kritis. Banyak darah yang keluar dari tubuh istri anda dan lukanya sangat dalam. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Berdoa saja akan ada keajaiban." jelas dokter berusaha menghibur agar keluarga pasien bisa menerimanya dengan lapang.


Derian menggeleng. Air matanya menetes mengalir membasahi pipinya. Derian menangis sesenggukan tak kuasa menahan gejolak rasa sakit di dadanya. Derian memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Masih dengan sesenggukan dan air mata yang mengalir tak henti-hentinya.


Di kejauhan Angel menatap papanya yang begitu marah tadi saat memukul para pengawal itu dan melihat papanya juga menangis kesakitan.


"Apa papa sangat menyayangi mama Karin?" tanya Angel muncul di belakang Derian.


Derian yang terlalu bersedih sampai tak bisa menjawab hanya mengangguk-angguk masih terus menangis sesenggukan.


"Maaf papa, semua karena Angel, mama Karin terluka karena menolong Angel, mama Karin terluka karena melindungi Angel. Hua..wa..wa.." teriakan tangisan Angel juga semakin kencang merasa bersalah.


**


"Sayang... Buka matamu sayang?"ucap Derian parau mendekap jemari tangan Karina erat di ruang ICU tempat Karina masih dalam kondisi kritis. Alat-alat medis yang entah apa namanya banyak dipasang di tubuh Karina tanda keadaan Karina masih kritis. Derian yang memaksa diizinkan untuk menemui Karina sebentar diizinkan tapi dengan pakaian khusus.


"Jangan tinggalkan aku sayang...Aku tak bisa hidup tanpamu?"bisik Derian lirih masih sesenggukan menangis yang menyayat hati.


"Anak-anak kita sudah menunggu di rumah sayang?Sadarlah...buka matamu... kau tak merindukan mereka. Bagaimana mereka akan tumbuh tanpamu?" ucap Derian lagi, begitu sakit dan sesak di dadanya.


**

__ADS_1


Sudah lebih dari dua minggu, keadaan Karina masih tetap sama. Derian setiap hari dan setiap waktu selalu menemani Karina di sisinya, tak sekalipun dirinya beranjak jauh dari Karina. Semua keperluan dirinya disiapkan bi Ani. Semua pekerjaan kantornya dilakukan Noah.


Si kembar dan anak-anak dirawat di rumah oleh pengasuh. Bahkan Derian tak pernah peduli untuk pulang ke rumah melihat anak-anaknya. Baginya dia hanya butuh Karina, tak ada Karina dirinya bagai mayat hidup yang tak bernyawa. Separuh jiwanya seolah hilang melihat Karina terbaring di ranjang ICU dengan alat-alat yang masih terpasang di tubuhnya.


Setiap hari Derian mengusap tubuh Karina untuk dibersihkan, merawatnya dengan telaten, dengan berbicara bermacam-macam hal berharap Karina merespon meski tak menjawab. Bahkan Derian melupakan makan, minum dan tidurnya. Kalau saja bi Ani dan Noah memaksanya.


"Tuan, anda belum makan apapun sejak pagi tadi." rayu Noah sore itu saat melaporkan semua pekerjaan hari itu. Yang tak digubris oleh Derian yang masih duduk termenung di kursi tunggu depan ICU.


"Tuan, jika tubuh anda ikut sakit, siapa yang akan merawat nona Karina?" Hening, Derian tetap tak menjawabnya.


"Apa nona Karina tak akan tambah sedih dan menyalahkan dirinya sendiri jika nona sadar?" rayu Noah lagi meski hampir putus asa tak direspon Derian.


"Tuan... apa tuan tega melihat nona Karina bersedih jika nona sadar?"ucapnya lagi.


"Untuk apa Noah? Separuh jiwaku telah dibawanya pergi. Dia bahkan tak membuka matanya untukku."jawab Derian sendu, menatap ke arah depan, tatapannya kosong.


TBC


Mohon dukungannya


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2