Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 97


__ADS_3

Brukk...


Tubuh Al terjatuh lagi saat dirinya berusaha untuk bangun dari kursi rodanya. Dia sungguh tak sabar ingin segera berdiri dari kursi rodanya dan kembali pada istrinya. Padahal sudah dua minggu ini terapi yang dilakukan dokter untuk berusaha menyembuhkannya tapi nampaknya belum membuahkan hasil.


Dan kini Al di kamarnya sendiri memaksakan diri untuk bangun sendiri dari kursi roda itu setelah mengusir semua pelayan yang mendampinginya sejak pagi dengan alasan dirinya ingin istirahat untuk tidur. Namun Al terus saja berlatih untuk bangun sendiri dari kursi roda itu.


Dan lagi-lagi dia terjatuh. Tapi semangatnya dapat diacungi jempol karena dirinya berusaha untuk bangun sendiri setidaknya sampai ke ranjangnya. Namun kelelahan sejak tadi dia berusaha untuk bangun membuatnya kehabisan tenaga. Dia masih terduduk di lantai bersandar di kursi rodanya.


Mencoba mengontrol nafas dan tenaganya untuk bisa menyeret tubuhnya naik ke ranjang. Apalagi udara malam ini sangat dingin. Dia pasti akan menggigil kedinginan jika tak berusaha menuju ranjangnya dan berakhir berbaring di lantai. Al hanya diam, tak berani memanggil atau meminta bantuan siapapun.


Pelayan-pelayan itu pasti sudah tidur dan beristirahat. Untuk itulah Al tak mau merepotkan mereka lagi. Al berusaha kembali setelah memulihkan nafasnya dan menyeret kembali tubuhnya ke ranjang. Tapi seperti sudah di ambang batas. Al tak kuat lagi, dirinya memaksakan diri untuk berbaring saja di lantai. Dia sudah sangat lelah. Tanpa sadar air matanya mengalir.


Selemah inikah aku? Apa aku memang harus duduk di kursi roda itu? Angel, aku sungguh merindukanmu sayang. batin Al memejamkan mata, air matanya kembali menetes dan Al berusaha mengendalikan dadanya yang tiba-tiba sesak dan sakit yang sangat sakit dirasakannya.


Alena yang sangat seharian ini lembur baru memasuki rumah saat hampir tengah malam. Sambil berjalan ke kamarnya, ditepuk-tepuk perlahan pundaknya yang terasa pegal karena kelelahan. Saat hendak ke kamarnya dia melewati kamar Al, tanpa sengaja dirinya mendengar isakan tangis meski lirih Alena bisa mendengarnya karena sudah hampir tengah malam yang hanya diselimuti keheningan.


Awalnya Alena merasa merinding cemas jika ada suatu hal yang kasat mata yang tidak bisa dipercaya akal sehat. Perlahan tengkuknya merinding membayangkan ada sesuatu di belakangnya. Namun dia berusaha berpikir realistis. Tak ada apapun di rumahnya. Toh dia sudah menempati rumahnya lebih dari sepuluh tahun dan tak pernah terjadi hal-hal yang berbau mistis.


Alena menajamkan telinganya mencoba mendengar suara isakan yang semakin dekat dengan kamarnya. Alena mendengar dari luar kamar Al. Alena menempelkan telinganya di pintu mencoba mendengar untuk lebih jelasnya. Dan isakan itu terdengar jelas di telinganya. Alena mengelus dadanya mencoba menghilangkan rasa bersalahnya.


Pasti dia sangat putus asa. Maaf, semua karena aku. batin Alena. Dia menghela nafas panjang. Mencoba membuka pintu itu perlahan agar tak mengagetkan penghuni kamar itu. Dia berniat hanya mengintip saja dan memastikan kalau penghuni kamar itu baik-baik saja. Sungguh terkejut Alena melihat Al yang tergeletak di sisi kursi rodanya berbaring melengkung seperti orang kedinginan.


"Astaga, Al..." tanpa sadar Alena berseru dan langsung mendekati tubuh Al.


"Apa yang terjadi, kenapa kau berbaring di lantai?" tanya Alena cemas.


Al yang tak mengira Alena akan datang ke kamarnya dia segera mengusap air matanya kasar untuk menunjukkan dirinya baik-baik saja.


"Ah, aku agak kepanasan tidur di ranjang, jadi aku..." jelas Al segera duduk dibantu Alena. Alena tanpa sadar mendekap tubuh Al.

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku. Keadaanmu jadi begini gara-gara aku, karena salahku yang ceroboh. Maaf, maafkan aku." ucap Alena menangis tersedu-sedu di dekapan Al.


Al yang terkejut karena Alena tiba-tiba memeluk tubuhnya menjadi kaku dan menegang. Dalam sudut kecil hatinya merasa bersalah pada istrinya yang ditinggalkannya karena dipeluk oleh wanita lain yang bukan istrinya.


Al mencoba menolak, namun keterbatasan kondisi fisik tak mampu menjauhkan tubuh Alena maupun membalasnya. Dia hanya diam menunggu Alena melepaskan sendiri pelukannya itu.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Kau tak perlu merasa bersalah. Kau juga sudah bertanggung jawab membantuku untuk menyembuhkanku. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Malah aku yang terlalu lama merepotkanmu." ucap Al lembut.


"Tidak. Sampai kau sembuh dan kembali kepada keluargamu pun, itu tidak cukup untukku bertanggung jawab. Masa-masamu terpisah dari keluargamu tidak mampu aku membayarnya dengan tanggung jawab seperti apapun." ucap Alena sesenggukan dan sontak melepas pelukannya menatap Al merasa bersalah.


Al tersenyum melihat Alena yang begitu mencemaskannya. Dia hanya tersenyum getir.


"Terima kasih. Tetap sabar merawatku." ucap Al lembut. Dan entah kenapa senyuman dan ucapan Al yang terlihat lembut itu membuat dada Alena berdebar-debar.


Alena langsung berhenti menangis. Dan teringat bahwa dirinya baru saja reflek memeluk tubuh Al. Seketika raut wajahnya merona tersipu malu.


"Tak apa. Terima kasih sekali lagi." Alena hanya mengangguk membuang pandangannya.


"Bisa... minta tolong?" ucap Al.


"Ya?" jawab Alena reflek menatap Al lagi.


"Tolong bantu aku berbaring di ranjang. Tidur di lantai sangat dingin!" pinta Al tersenyum ragu.


"Ah, benar. Ayo!" Alena memapah tubuh Al dengan canggung.


Namun berusaha menepisnya meski dadanya berdebar-debar lebih kencang dari yang tadi.


"Seharusnya kau minta bantuan pelayan disini. Kenapa kau memaksa untuk berbaring sendiri?" tanya Alena lembut sambil menyelimuti tubuh Al dengan selimut. Wajah kedinginan Al terlihat lebih pucat dari biasanya.

__ADS_1


"Aku tadi... belajar berdiri sendiri. Dan ternyata terjatuh lagi. Aku tak mau merepotkan para pelayan yang sudah sejak pagi membantuku. aku ingin berusaha belajar sendiri. Aku tak sabar untuk bisa berjalan normal kembali. Dan menemui istriku." jawab Al antusias, dan seketika wajah merona Alena langsung memudar.


Menyadari pria di depannya ini yang sesaat lalu membuat dadanya berdebar ternyata sudah beristri. Alena mencoba menepis perasaan kecewa dan patah hatinya bahkan yang belum sempat dinyatakannya.


"Ah, tak apa kau minta bantuan mereka dua puluh empat jam. Aku sudah menggaji mereka, kalau perlu ajaklah seseorang untuk tidur disini, agar jika kau butuh sewaktu-waktu, dia segera ada saat kau butuh bantuan setiap saat." jawab Alena dengan senyum getir.


"Mereka manusia, bukan robot. Mereka juga butuh istirahat." ucap Al tersenyum lembut.


"Tapi..."


"Kau baru pulang kerja jam segini? Kau lembur?" tanya Al memotong ucapan Alena.


"Ah, iya, banyak pekerjaan di kantor. Apalagi kami baru saja membuka cabang di luar negeri dengan investor kami." jawab Alena.


"Istirahatlah, sudah larut malam. Terima kasih." ucap Al membuat Alena mau tak mau pergi dari kamar itu karena ucapan Al secara tidak langsung adalah pengusiran untuknya secara halus meski memang tak berniat mengusir.


Al benar ini sudah terlalu larut malam. Dia sudah terlalu capek seharian ingin beristirahat membaringkan tubuh lelahnya.


"Baiklah. Kalau kau butuh bantuan cepat cari seseorang atau kau bisa memanggilku. Aku sudah memberikan ponsel padamu. Hubungi aku jika butuh bantuan jika merasa tak enak dengan para pelayan." ucap Alena berdiri dari duduknya hendak pergi.


"Iya." jawab Al singkat tak mau mendebat lagi, karena tak akan selesai dengan mudah percakapan mereka nanti, jika Al tak mengiyakan ucapan Alena.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2