
Angel membuka matanya perlahan, menatap sekeliling masih di kamar yang dikenalinya.
"Kau sudah sadar nak?" tanya Karina melihat Angel membuka matanya perlahan.
"Ma..." lirih Angel menatap Karina yang sudah duduk di tepi ranjang. Angel beralih menatap ke samping ada Dion berdiri bersisian dengan Vio adiknya. Angel sempat mengerutkan alisnya melihat Dion ada di kamarnya.
"Dion.." lirihnya.
"Iya kak." jawab Dion tersenyum lembut yang seperti dipaksakan. Angel seolah lega dan tersenyum menatap wajah Dion.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Vio.
"Aku baik-baik saja." jawab Angel yang beralih menatap Vio meski setelah itu beralih menatap Dion lagi tersenyum senang dan bahagia, entah kenapa.
Vio yang sesaat melihat sorot mata Angel yang terlihat merindu saat menatap suaminya. Dadanya serasa diremas-remas, tapi segera ditepisnya perasaan itu. Kini fokusnya hanya untuk kesembuhan kakaknya. Mungkin karena dia merindukan kak Al yang notabene adalah kakak tiri suaminya.
"Makan dulu ya nak?" pinta Karina yang sudah menyiapkan makanan baru lagi berupa bubur agar dapat dicerna putrinya.
"Ma, bolehkah aku disuapi Dion?" pinta Angel memelas penuh permohonan.
Karina beralih menatap Dion dan Vio bergantian. Dion malah menatap Vio istrinya. Angel sempat heran kenapa Dion beralih menatap Vio seolah meminta izin. Vio mengangguk menatap suaminya meski hatinya sedikit tak rela namun segera ditepisnya perasaan itu.
"Baiklah." jawab Dion memaksa tersenyum meski dirinya berharap istrinya menolak keinginan kakaknya, Dion merasa tak enak dan berkeberatan tapi itu semua semata hanya demi anak dalam kandungan kakak iparnya yang juga dirasakan oleh istrinya.
Karina bergeser memberikan tempat untuk Dion menyuapi putrinya. Jemari tangannya ditautkan pada jemari putrinya Vio untuk memberikan kekuatan yang diketahui Karina meski tak diucapkan.
Karina tahu perasaan Vio, dulu dia pernah merasakan perasaan itu meski itu dilakukan untuk kebaikan saudarinya. Vio menoleh menatap Karina yang ditatap dengan anggukan kepala saja.
"Aku akan sarapan di meja makan." pamit Vio, yang langsung ditarik jemari tangannya oleh Dion.
"Kamu temani kakakku sebentar ya?" pinta Vio dengan sorot mata penuh permohonan meski Angel menatap keduanya keheranan dan itu membuat hati Angel entah kenapa tak suka terhadap interaksi keduanya.
Dion menyoroti Vio dengan tatapan tajam, namun sorot mata permohonan istrinya membuatnya luluh dan menuruti keinginan istrinya.
Kini Karina dan Vio sudah berada di meja makan untuk sarapan. Sedang Putri sudah pergi sebelum dokter kandungan tadi datang karena mendapat telepon mendadak tentang pembukaan butik barunya sehingga terpaksa meninggalkan Karina sendiri mengurus Angel yang ditinggal Derian mengurus bisnisnya di luar negeri sembari tetap mencari keberadaan Al.
"Yang sabar ya nak, kakakmu belum tahu hubungan kalian." hibur Karina menggenggam jemari tangan Vio yang tak berselera makan karena makanan yang ada di hadapannya hanya diaduk-aduk. Vio sontak membuyarkan lamunannya menatap Karina.
"Iya ma." jawab Vio memaksakan untuk tersenyum.
__ADS_1
"Sekarang makanlah, kasihan bayimu." hibur Karina tersenyum lembut.
"Iya ma." Vio memaksakan untuk makan makanannya meski tak berselera, untuk bayinya yang sedang membutuhkan asupan makanan.
"Makanlah kak!" ucap Dion menyuapi Angel perlahan. Angel tersenyum menerima suapan itu dengan senang hati.
"Terima kasih." ucapnya. Dion hanya tersenyum meneruskan untuk menyuapi.
"Oh ya, apa yang kau lakukan sekarang? Maksudku, apa kesibukanmu sekarang?" tanya Angel disela-sela suapannya, entah kenapa dia ingin berlama-lama ditemani Dion.
"Aku... membantu di perusahaan papaku." jawab Dion.
"Ah begitukah?" ucap Angel tersenyum senang menerima suapan Dion.
Dion hanya diam ikut tersenyum mesti terpaksa, dia sungguh tak nyaman. Tatapan mata Angel sangat membebaninya. Dia tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya.
"Kau... tak menikah?"
"Apa?" tanya Dion sedikit terkejut dengan pertanyaan Angel, sontak dirinya menatap Angel. Angel pun menatap lekat Dion menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Kau tak mengundangku pada pernikahanmu jika kau telah menikah." ucap Angel lagi.
"Aku... pasti akan mengundang kakak." jawab Dion gugup, dia ingin sekali mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dan dia adalah Vio adik tiri Angel, ingin Dion menjelaskan itu.
"Apa yang kakak katakan? Itu tidak benar. Kak Al pasti akan kembali." potong Dion.
"Nyatanya sudah hampir setengah tahun dia tak kembali. Dia tak pulang. Mungkin dia sengaja meninggalkannku saat bulan madu kami." ucap Angel mulai terisak.
"Kakak tak boleh putus asa, kakak harus percaya suatu saat kak Al pasti pulang." seru Dion.
"Kapan? Sampai kapan Dion? Aku sudah capek menunggunya, aku sudah lelah mengharapkannya kembali." ucap Angel putus asa diiringi isakan tangisnya yang terdengar menyayat hati.
"Papa sudah berusaha untuk mencarinya dan percayalah kalau kak Al masih hidup dan suatu saat akan kembali. Mungkin sekarang situasi dan kondisinya tak mengizinkannya untuk pulang... kakak harus percaya itu." seru Dion meyakinkan.
"Tapi sampai kapan Dion? Sampai kapan?" tangisan Angel semakin kencang dan menyayat hati, Angel menarik kerah pakaian Dion dan mau tak mau Dion mendekat dan memeluk tubuh Angel yang ringkih itu.
Dion menepuk-nepuk punggung Angel menghiburnya. Dion merasa tak enak hati dan kasihan di saat bersamaan. Dion tak mau larut kembali dengan perasaan masa lalunya lagi dengan Angel, bagaimanapun juga dia sudah sangat mencintai istrinya dan hanya menganggap Angel masa lalunya dan sekarang hanya sebagai kakak iparnya.
Vio yang tadinya hendak masuk ke kamar kakaknya membawakan irisan buah-buahan untuk kakaknya mengurungkan niatnya untuk masuk saat mendengar luapan isi hati kakaknya merasa kasihan.
__ADS_1
Dia masih berdiri di balik pintu yang terbuka setengah dan mencoba meyakinkan diri untuk masuk namun pemandangan yang dilihatnya sungguh mengejutkannya, suaminya memeluk kakaknya meski itu hanya bentuk penghiburan karena kesedihan kakaknya namun entah kenapa hati Vio mencelos dan merasa dadanya diremas sangat kuat.
Dalam hati kecilnya sangat sakit melihat suaminya berpelukan dengan kakaknya. Bayangan masa lalu kisah mereka seolah terlintas di benaknya. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuinya, dan itu semakin membuat sakit di dadanya yang menjadi bertambah sesak.
Vio mencoba menarik nafas dan mengeluarkan pelan-pelan dan berusaha berpikir positif bahwa perhatian suaminya hanya sekedar penghiburan semata pada kakak iparnya.
Suaminya sudah mengatakan kalau dia sangat, sangat mencintainya dan tak mungkin mengkhianatinya atau akan kembali ke masa lalunya karena bagi suaminya dialah yang utama saat ini. Vio pun mencoba percaya pada suaminya itu.
Setelah dirasa cukup dirinya mengendalikan perasaannya, Vio mengetuk pintu kamar Angel meski sudah terbuka. Dan sontak keduanya terkejut mendengar ketukan pintu itu.
Dan Dion sontak terkejut melepaskan pelukannya dan menatap nanar ke wajah istrinya yang tiba-tiba muncul di kamar itu. Dion menjadi serba salah dan salah tingkah, istrinya hanya menatapnya sekilas langsung beralih menatap Angel.
"Aku bawakan buah-buahan kak?" ucap Vio mencoba mencairkan suasana canggung itu menguatkan hatinya sekuat mungkin.
"Terima kasih dek." jawab Angel tersenyum. Vio pun mendekat.
Dion menatap istrinya yang seolah menghindari tatapannya. Bersamaan dengan itu ponsel Dion bergetar tanda panggilan masuk. Mau tak mau Dion menerima panggilan itu yang ternyata dari Reno.
"Iya pa."
"..."
"Aku akan segera kesana pa." jawab Dion.
"..."
"Iya pa." Dion menutup ponselnya dan menatap Vio dan Angel bergantian.
Tatapannya berhenti pada Vio yang tak menatapnya. Hati Dion mencelos, dadanya terasa diremas tidak dihiraukan istrinya.
"Aku harus ke kantor. Papa membutuhkanku." ucapnya entah pada siapa.
"Terima kasih Dion, pergilah! Kau... mau kan makan siang nanti disini? Sepertinya bayiku menginginkan makan bersama denganmu." dada Vio semakin mencelos sakit mendengar ucapan kakaknya.
Dion hanya menatap wajah pucat istrinya. Dan pergi meninggalkan kamar itu dan berniat mengirim pesan pada istrinya nanti jika sudah sampai di kantor.
TBC
.
__ADS_1
.
.