
Dion berlari menuju motornya memacunya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota agar segera sampai di tempat tujuannya. Dia ingin memastikan kabar yang disampaikan Reno padanya semalam.
Setelah bangun tidur dirinya langsung bersiap tanpa sarapan terlebih dahulu, teriakkan Reno dari meja makan tak dihiraukannya. Dia langsung bergegas menuju tempat yang diyakini dapat dipastikan mendapatkan kebenaran tentang ucapan Reno.
Dion menekan bel pintu rumah besar nan mewah itu. Rumah yang dulu sering dikunjunginya hingga hampir saja dirinya menjadi menantu di rumah besar nan mewah itu. Tapi bukan itu yang membuatnya menginginkan menjadi menantu di rumah itu tapi gadis cantik yang pernah bertahta di hatinya tidak hanya sebentar tapi sejak kecil dikaguminya.
Hingga mereka juga pernah merasakan indahnya menjadi sepasang kekasih namun harus kandas karena penolakan sang gadis yang masih belum yakin dengan masing-masing perasaannya.
"Permisi." ucap Dion begitu pintu mewah itu dibuka oleh seorang wanita setengah baya yang diyakini pelayan rumah itu.
"Ada yang bisa dibantu den?" tanya pelayan itu menatap Dion penuh tanya, pasalnya dia belum mengenal tamu pemuda yang datang ke rumah majikannya.
"Saya ingin bertemu dengan Angel." jawab Dion.
"Non Angel?" Dion mengangguk.
"Dari aden siapa ya?" tanya pelayan itu tersenyum ramah.
"Bilang saja dari teman lama."
"Dion." seru seorang gadis yang tiba-tiba muncul di belakang pelayan itu.
"Putri." ucap Dion. Dion kenal betul siapa putri, mereka pernah satu sekolah juga. Meski berbeda satu tahun di atasnya. Putri juga tahu kisah cerita cintanya dengan kakaknya Angel.
"Ada apa kau kemari?" tanya Putri yang sudah rapi hendak pergi.
"Aku ingin bertemu kak Angel." jawab Dion ragu.
"Kak Angel di kamar, hari ini jadwal kakak mau ke butik mencoba gaun pengantin." jawab Putri yang seketika menutup mulutnya langsung menyesali ucapannya.
__ADS_1
"Tak apa, aku sudah baik-baik saja." jawab Dion yang langsung mengerti arti tatapan mata Putri.
"Masuklah! Tunggulah di dalam." ucap Putri ikut masuk dan duduk di sofa ruang tamu dengan Dion.
"Bi, panggilkan kakak, ada tamu spesial." perintah Putri pada pelayan yang tadi membukakan pintu untuk Dion.
"Ya, nona." jawab pelayan itu berlari menuju kamar Angel yang ada di lantai tiga rumah itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Putri basa-basi.
"Ah, baik. Kabarku baik." jawab Dion.
"Kau yakin tak apa?" tanya Putri meyakinkan.
"Tentu saja. Kau tak perlu cemas. Aku hanya ingin memastikan kalau dia benar-benar sudah bahagia." jawab Dion, memang tak ada perasaan apapun yang dirasakan Dion.
Dia tidak sakit hati atau merasa kecewa saat penolakan Angel dulu padanya. Entah kenapa dia merasa bahagia dan berterima kasih pada Angel karena tak menerima lamarannya dulu. Karena ada seseorang tidak dua orang yang ingin dibahagiakannya, meski kini dirinya masih berusaha menemukan keberadaannya.
"Dion..." lirih Angel begitu sampai di ruang tamu. Putri dan Dion menoleh bersamaan saat Angel tiba.
"Baiklah, karena kakak sudah datang, aku harus pergi karena ada hal yang harus kulakukan." Putri beranjak dari tempat duduknya pamit pada keduanya.
**
"Bagaimana kabarmu?" tanya Angel basa-basi, terus terang dirinya masih gugup jika bertemu dengan Dion. Dirinya merasa bersalah karena kejadian yang lampau.
"Baik. Bagaimana kabar kakak?" ucap Dion balik bertanya terus menatap wajah Angel yang gugup seperti orang yang merasa bersalah.
"Aku, tentu baik. Kau bisa lihat sendiri." jawab Angel sedikit terbata-bata.
__ADS_1
"Selamat atas pernikahan kakak." ucap Dion tenang.
"Terima kasih." jawab Angel.
"Kakak tak usah merasa bersalah padaku. Aku bersyukur kakak sudah menemukan orang yang benar-benar kakak cintai."
"Maaf..."
"Itu sudah berlalu kak, aku kemari ingin memastikan kalau kakak benar-benar bahagia dengan pilihan kakak. Semoga kakak bahagia." ucap Dion tersenyum senang, benar, tak ada sedikitpun rasa sakit dihatinya. Dia benar-benar sudah move on dari cinta masa kecilnya.
"Terima kasih." Angel tersenyum lega melihat tak ada kegugupan sedikitpun dari mata Dion.
**
Dion keluar dari rumah mewah itu dengan perasaan tenang dan damai. Kelegaan juga tergambar jelas di wajah tampannya. Kini dirinya sudah memantapkan hatinya untuk mengejar cinta Vivi. Meski dirinya harus membelah kota, dirinya akan mencari keberadaan Vivi dengan anak yang sedang dikandungnya.
"Kau dimana Vivi?" lirih Dion menaiki kendaraannya hendak beranjak meninggalkan rumah mewah itu.
Di kejauhan sepasang mata menyaksikan Dion yang baru keluar dari rumah mewah itu. Tak terasa air matanya menetes di pipinya. Dirinya sungguh terkejut mendapati Bas ada disini.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.