
**
"Mama..."
"Mama..."
Seru dua anak kecil membangunkan Karina dan dia membuka mata perlahan menatap sekeliling. Ruangan dominan warna putih semua. Mulai dinding, selimut, ranjang dan bahkan pakaiannya pun berwarna putih.
Karina menoleh menatap pada dua anak kecil berumur sekitar 5 tahunan laki-laki dan perempuan yang memegang tangan kirinya.
"Mama.."
"Mama.."
Sahut keduanya bersamaan menatap Karina tersenyum lembut.
"Siapa kalian?"tanya Karina dalam kesadarannya, diapun bangun dan duduk di tepi ranjang menatap kedua anak kecil itu yang memanggilnya mama.
"Mama..."seru seorang gadis kecil dari arah depan mungkin berumur 10 tahunan. Dia berlari memeluk Karina.
"Maafkan aku mama?Karena aku mama seperti ini?"ucapnya sambil menangis memeluk Karina erat seolah menyesali apa yang sudah dilakukan pada dirinya.
"Dan kau siapa?"tanya Karina masih kebingungan.
"Sayang ..."seru seorang pria dari belakang gadis kecil berumur 10 tahun tadi sambil menggandeng gadis kecil juga berumur sekitar 8 tahun.
"Kau sudah sadar? Sungguh? Terima kasih kau sudah kembali."ucap pria itu yang mungkin papa dari keempat anak itu. Karina masih tak bergeming tak menjawab perkataan mereka semua.
"Siapa kalian?"tanya Karina masih kebingungan.
"Siapa? Tentu saja aku suamimu? Kau melupakan kami? Setega itukah kau?"ucap pria itu bersedih dan semuanya menghilang dari pandangan matanya.
**
"Tidak!" jerit Karina membuka matanya.
"Sayang .. kau sadar?"seru Derian senang melihat Karina sadar. Karina menoleh menatap Derian kebingungan. Masih berpikir dirinya mimpi atau tidak.
"Dokter...dokter ..!"teriak Derian sambil memeluk tubuh Karina yang masih seperti orang linglung.
__ADS_1
Derian melepas pelukannya menatap Karina lekat. Karina meraba wajah Derian, perlahan dari dahi, hidung, pipi dan terakhir bibir Derian.
"Sayang..."ucap Derian panik melihat istrinya seolah tak mengenalnya.
"Kau tau siapa aku kan?"tanya Derian ragu.
".... Maafkan aku... tertidur lama..."lirih Karina yang tiba-tiba merasakan pipinya basah menangis tanpa suara.
"Tidak... terima kasih kau sudah sadar?"ucap Derian memeluk Karina lagi lebih erat lagi.
Dokter tiba menunggu sepasang suami istri itu melepas rindu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"tanya Derian cemas, istrinya kenapa-napa pasalnya sudah hampir lima tahun Karina koma.
"Syukurlah... kondisinya membaik. Mungkin hanya butuh beberapa waktu untuk memulihkan tubuhnya selama tidak bergerak selama ini." jelas dokter itu tersenyum ramah.
"Terima kasih dok terima kasih."ucap Derian tersenyum lega. Karina hanya tersenyum senang melihat suami dan dokter berbincang.
Derian menggenggam erat jemari tangan Karina memastikan kembali bahwa Karina benar-benar sudah sadar dan ada di hadapannya. Derian duduk di sisi ranjang tempat Karina menyandar pada kepala ranjang.
Setelah sebulan Karina di ruang ICU dokter menyatakan Karina koma dan hanya keajaiban yang bisa membuatnya sadar kembali. Dokter pun menyarankan pasien untuk dipindahkan ke ruang perawatan agar keluarga bisa menunggui dan merawatnya. Derian hanya menuruti apa kata dokter asal itu yang terbaik baginya.
"Terima kasih sudah kembali. Terima kasih." ucap Derian mengecup kedua punggung tangan Karina yang menggenggam kedua tangannya yang menangkup di pipinya.
Mereka sama-sama menangis terharu, senang dan bahagia. Seolah semua tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Apa kabar anak-anak?"tanya Karina mengingat anak-anaknya.
"Baik mereka baik. Mereka juga sehat. Mereka tumbuh dengan baik."jawab Derian mengangguk-angguk.
"Terima kasih sudah merawat anak-anak saat aku tak bisa merawat mereka."lirih Karina menyesal.
"Tidak... sesaat aku merasa bersalah pada mereka, karena menelantarkan mereka. Tapi sebulan kemudian aku sadar, tidak hanya aku yang kehilangan tapi mereka pun merasa bersedih dan kehilangan juga.
Aku mengajak mereka semua beberapa waktu kemari berharap mereka bisa membangunkanmu. Tapi, cukup lama untuk membuatmu sadar. Dan sekarang kau membuka matamu. Kau tau... aku sangat bahagia. Aku... merindukanmu." ucap Derian panjang lebar tak henti-hentinya air matanya mengalir ke pipinya.
Karina mengusap lembut pipi Derian menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku .. juga merindukanmu... juga anak-anak... anak-anak kita."jawab Karina tersenyum manis masih terdapat air mata yang mengalir juga di pipinya meski tak sederas tadi.
__ADS_1
Mereka saling berpelukan lagi seolah tak mau lepas lagi.
**
"Kita pulang hari ini?"tanya Karina antusias penuh harap, dokter sudah mengizinkannya pulang setelah beberapa minggu dirawat.
Kondisinya benar-benar sudah pulih, dokter hanya menyarankan untuk banyak istirahat jangan terlalu banyak bergerak. Tidur yang cukup, kurangi aktivitas berat.
"Tentu.."jawab Derian membantu Karina mengganti pakaian Karina dengan pakaian biasa dari pakaian pasien.
Semua perlengkapan dan peralatan Karina di rumah sakit selama koma, bi Ani sudah membereskannya dan membawanya pulang pagi tadi dengan sopir. Derian menyuruh mereka pulang terlebih dulu dengan sopir. Dia akan pulang berdua dengan istrinya. Bi Ani hanya mengiyakan permintaan tuannya.
"Kau sudah siap?"tanya Derian menatap Karina yang terlihat gugup.
"Aku agak gugup, bertemu anak-anak. Aku sangat merindukan mereka." jawab Karina tersenyum gugup. Dia berulang kali merasakan dadanya berdegup kencang.
Derian meraih jemari tangan Karina dan menggenggamnya seolah memberi semangat.
"Ada aku di sisimu. Tak perlu cemas."ucap Derian tersenyum yakin.
"Terima kasih... aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu." jawab Derian tersenyum bahagia. Mereka saling mengecup bibir sekilas.
Mereka berjalan menuju parkiran mobil Derian, mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menikmati kebersamaan keduanya.
Terima kasih Tuhan atas semua hal yang telah kau berikan padaku, suami yang mencintaiku, anak-anak yang kau percayakan padaku. batin Karina menggenggam erat jemari tangan Derian dan tersenyum manis menatap Derian dan Derian balas menatapnya.
**The end
Season 1**
Makasih para pembaca.. akhirnya tamat juga season pertama.
Enaknya lanjut atau enggak ya? Minta pendapatnya dong... komen ya...
.
.
__ADS_1
.