
"Ma." panggil Angel saat melihat Karina duduk santai di sofa ruang keluarga, sore itu. Angel duduk di sofa disisi Karina, memeluk Karina dari samping.
"Ada apa?" tanya Karina membelai pipi putrinya lembut.
"Tadi kami sudah membicarakannya ma."
"Apa?" dahi Karina mengernyit.
"Kami ingin langsung menikah, tidak bertunangan dulu. Sudah cukup kami pacaran. Kami ingin serius menjalani kehidupan kami sesungguhnya." jelas Angel menatap Karina lekat. Karina tertegun sesaat menatap putrinya lekat. Kemudian Karina tersenyum saat melihat kesungguhan di mata putrinya.
"Kau yakin nak?" tanya Karina.
"Iya ma, kurasa kak Al benar." jawab Angel.
"Baiklah. Mama akan mengatakan pada mama dan juga kedua orang tuanya."
"Ah, kak Al sudah bilang pada mamanya ma. Dan mama kak Al bilang semuanya terserah pada keluarga kita, mana yang baik." jawab Angel antusias. Karina tersenyum.
"Begitukah?" tanya Karina lembut. Angel hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku juga akan meminta adikmu pulang, sudah lebih dari lima tahun dia tak mau pulang. Apalagi kemarin saat mama meminta pulang untuk menghadiri pertunangan kamu, dia bilang akan pulang jika kakak menikah." ucap Karina.
"Dia terlalu betah disana ma." jawab Angel.
**
Derian menyetujui keinginan putrinya untuk langsung menikah dari pada pertunangan lebih dulu. Keluarga segera menjadwalkan kembali persiapan pernikahan mereka.
Karina tampak antusias mempersiapkan segala sesuatunya dengan wajah gembira. Meski Angel bukan putri kandungnya, Karina tetap merasa seperti hendak menikahkan putri kandungnya.
**
Bas, sudah hampir sebulan lebih dia tak bertemu Vivi. Sejak kejadian malam itu Bas merasa bersalah karena telah mengambil hal yang tidak harus diambilnya. Meski itu bukan murni kesalahannya. Tapi Vivi adalah sahabatnya, meski dia bukan orang suci tentang hal-hal tersebut.
__ADS_1
Bas bahkan meyakinkan dirinya bahwa kejadian malam itu bukan mimpi, terbukti darah keperawanan masih tersisa di sprei miliknya malam itu dan dia masih menyimpannya. Dia tak bisa mencucinya begitu saja saat mendapati dirinya tertidur sendiri pagi itu tanpa siapapun disana.
Bas mencoba mencari sedikit saja jejak Vivi yang ditinggalkannya semalam, tapi nihil tak dapat apapun Bas di apartemennya itu. Saat dirinya selesai mandi, Bas sempat melirik ranjangnya terdapat noda merah di sprei dan mengingat kembali gairah hasrat yang terjadi pada mereka semalam.
Dan Bas pun tersenyum entah karena apa, tapi perlahan senyumnya memudar, diapun segera membereskan sprei itu jika Vivi menyangkal tentang kejadiannya semalam. Bagaimanapun juga itu juga pertama kalinya dia berhubungan intim dengan seorang gadis.
Dan entah kenapa Bas bahagia dan senang saat melakukannya dengan Vivi yang membuat dadanya berdebar akhir-akhir ini. Debaran yang dulu pernah dirasakan saat dia hanya mencintai satu orang gadis, tapi kini dirasakan juga pada gadis lain. Bas tak percaya dia masih bisa berdebar dengan gadis lain.
Dirinya sudah lebih dari sebulan ini menunggu Vivi pulang ke apartemennya. Tapi entah kenapa selama itu pula Bas tak pernah mendapati sahabatnya itu pulang ke apartemennya. Seolah dia sedang menghindari untuk bertemu dengannya.
Biarpun dia sudah bersahabat dengan Vivi lebih dari satu tahun, Bas tak tahu dimana tempatnya Vivi tinggal sebelum dia tinggal di apartemen. Bas sudah mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Vivi tapi tak pernah diangkat dan selalu sibuk. Seolah Vivi telah memblokir nomer ponselnya.
Bas bahkan tak tahu siapa teman-teman Vivi yang dekat dengannya. Bas selama berteman dengannya tak pernah bertanya atau Vivi bercerita tentang dirinya. Sesaat dirinya entah kenapa menyesal, karena selama ini dia bersahabat dengan Vivi tanpa tahu tentang sahabatnya itu.
Bas merutuki kebodohannya itu, dia sungguh menjadi sahabat yang gagal, selain sudah merusak sahabatnya, dia benar-benar tak tahu apa-apa tentangnya. Terlintas banyak penyesalan pada dirinya. Bas mencoba mencari tahu melalui para mantan kekasihnya.
Tapi apa yang didapat, mereka ternyata tak benar-benar pacaran dengan Vivi. Bas seolah linglung dan merasa bodoh. Dia juga tak habis pikir dengan mereka-mereka para mantan kekasih Vivi yang pernah dikenalkan padanya.
"Are you stupid? Don't you know? How can you think you're his best friend if you don't know anything about her?(Apa kau bodoh? Apa kau tak tahu? Bagaimana kau bisa berpikir kau sahabatnya jika kau tak tahu apa-apa tentangnya?)" ucap Juan yang dipaksa berhenti oleh Bas karena menghadangnya.
"I still don't understand what you are saying?(Aku masih belum mengerti apa yang kau katakan?)" tanya Bas lagi meyakinkan diri apa yang didengarnya salah.
"Sorry I didn't have time to explain to you. See you later.(Maaf aku tak ada waktu menjelaskan padamu. Sampai jumpa.)" ucap Juan menepuk pundak Bas dan berlalu meninggalkan Bas yang termenung sendirian disana.
Bas tertegun tak percaya, dia bukan orang bodoh, dia tahu betul dan paham betul apa yang dikatakan pria bule tadi. Bas memikirkan kembali kata-kata mereka, dia hanya ingin meminta seseorang menjelaskan tentang apa yang dipikirkannya itu sama dengan apa yang dijelaskan oleh seseorang itu padanya.
Bas terduduk di bangku taman kampus itu. Dia sudah berkeliling kampus kesana-kemari untuk mencari informasi tentang Vivi. Tapi jawaban mereka selalu sama. Vivi tak pernah punya kekasih. Lalu, apa maksudnya memperkenalkan mereka sebagai kekasihnya? batin Bas menghela nafas panjang.
Siang itu Bas memutuskan untuk pulang ke apartemennya dan dia mendengar suara-suara dari arah apartemen Vivi. Bas menghampiri dengan mengetuk pintu apartemen itu.
"Vivi, kau pulang? Kau di dalam?" tanya Bas sambil menggedor-gedor pintu apartemen Vivi.
"Who is this?(Siapa ya?)" tanya seseorang yang baru saja muncul dari dalam apartemen itu. Bas terkejut sontak menatap kedua pria itu muncul dari dalam apartemen Vivi.
__ADS_1
"Excuse me, I thought the owner of this apartment.(Maaf, aku pikir pemilik apartemen ini)." jawab Bas datar. Bas hendak berbalik tapi segera berbalik kembali menghadap mereka berdua.
"Where's Vivi?(Dimana Vivi?)" tanya Bas penasaran. Kedua pria itu menoleh saling menatap dan mengedikkan bahu tak tahu siapa yang ditanyakan.
"Who is Vivi? And who are you?(Siapa Vivi? Dan siapa anda?)" tanya salah satu dari mereka yang diyakini Bas seorang makelar apartemen atau rumah.
"Vivi, the owner of this apartment?(Vivi, pemilik apartemen ini?)" tanya Bas yang merasa heran pada kedua pria asing ini.
"You mean Miss Leta?(Maksudnya nona Leta?)" ucap pria makelar tadi.
"Leta? Who is Leta?" tanya Bas mengernyitkan dahinya.
Bas memasuki apartemennya dengan perasaan hampa, bersahabat dengan gadis lebih dari setahun dan berteman dengannya selama dua tahun benar-benar membuatnya merasa jadi orang bodoh.
Bas terduduk lemas di sofa ruang nonton TV apartemennya, mengingat kembali pertemuan pertama kali dengan Vivi dan pertemanan mereka selama ini yang adem ayem. Kini perasaan bersalah pada gadis itu karena telah merusaknya membuatnya mengusak rambutnya kasar.
"Apa maksudmu mendekatiku?" bisik Bas lirih.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
"
__ADS_1