
Dion memarkirkan serampangan mobilnya di halaman rumah mertuanya. Dia tak sabar menghampiri istrinya yang sejak tadi tak menjawab panggilan telponnya atau membalas pesannya, bahkan pesannya belum di read.
Dion tak berani menghubungi mertuanya atau telpon rumah mertuanya untuk mencegah Angel tahu tentang hubungannya dengan istrinya yang sebenarnya. Karena istrinya selalu mewanti-wantinya untuk jangan dulu memberitahu kakaknya itu. Karena kondisinya belum benar-benar stabil.
Sebenarnya Dion sudah tak sabar ingin mengatakan yang sebenarnya namun karena permintaan istrinya membuatnya Dion mau tak mau menurutinya.
"Dimana Vio ma?" tanya Dion saat melintasi ruang tengah melihat Karina duduk di sofa ruang keluarga. Tentunya setelah memberi salam pada mama mertuanya itu.
"Tadi di kamar." jawab Karina keheranan melihat Dion berkeringat dengan wajah panik dan cemas.
"Terima kasih ma." sahut Dion langsung berlari ke kamarnya, tepatnya kamar istrinya sebelum mereka menikah.
Cklek...
Suara pintu kamar dibuka, Dion segera masuk menatap sekeliling kamar mencari keberadaan istrinya yang ternyata tak ada. Dengan nafas memburu dan ngos-ngosan tadi dia berlari menaiki tangga untuk menuju kamar.
"Sayang... sayang... "seru Dion memanggil istrinya berharap masih berada di kamar mandi mungkin. Dion membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci tapi tak dilihatnya istrinya ada disana.
"Sayang..."
Dion hampir putus asa. Pikiran buruk terlintas dibenaknya. Dia mengusak rambutnya kasar, mengusap wajahnya yang sudah kusut menjadi semakin kusut saja. Dia duduk di ujung ranjang menatap ke depan dengan pandangan kosong. Berpikir dimana istrinya.
Klek...
Pintu walk-in closet terbuka, menampakkan wajah Vio yang terlihat segar baru selesai memakai pakaiannya dengan handuk masih membungkus rambutnya. Dion sontak mendongak menatap walk-in closet. Wajahnya langsung berubah sumringah mendapati istrinya muncul dari walk-in closet. Dion sontak beranjak menghampiri istrinya dan memeluknya erat.
"Aku mencarimu, kenapa kau tak menyahut saat kupanggil?" tanya Dion cemas setelah melepas pelukannya.
"Maaf, aku tak dengar? Walk-in closet kedap suara jika kau lupa." jawab Vio santai. Dion menghela nafas lega.
"Maaf... maafkan aku. Aku terlalu larut dalam pekerjaanku sampai lupa untuk memberi kabar." ucap Dion merasa bersalah.
"Mas..." Vio menjeda ucapannya menunggu reaksi suaminya.
"Ya?" tanya Dion penasaran menatap istrinya intens penuh rasa curiga.
"Siang tadi kak Angel muntah lagi." ucap Vio.
"Lalu?" Dion masih menatap tak mengerti.
"Dia memaksakan untuk makan dan memuntahkan semua makanan langsung beserta sarapannya pagi tadi."
"Lalu?"
__ADS_1
"Apa maksudmu lalu mas?"
"Ya itu apa hubungannya denganku?" jawab Dion mengalihkan pandangannya, dia mulai melepas dasi dan kemejanya.
Dion paham maksud istrinya, tapi Dion tak mau lagi melakukannya. Dion tak mau membuat kesalahpahaman yang mungkin terjadi. Dia juga tak mau membuat istrinya sakit hati.
"Mas, jangan berpura-pura tidak mengerti." seru Vio mengikuti suaminya bergerak, juga sambil membantu melepaskan kancing kemejanya.
"Aku tak tahu, aku tak mengerti, aku juga tak paham dan aku juga tak mau tahu tentang hal itu." sanggah Dion cepat tanpa menatap istrinya yang membantunya melepas pakaiannya.
"Mas, lakukanlah demi aku! Kasihan kak Angel." pinta Vio menangkup kedua pipi suaminya agar menatapnya.
Dion menatap intens istrinya. Sebenarnya dia tak tega menolak setiap permintaan istrinya, tapi permintaannya kali ini sungguh berat dan Dion tak akan sanggup lagi.
"Tidak." Dion menepis tangan istrinya dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.
Vio menghela nafas sedih. Sebenarnya dia juga tak mau memintanya. Karena hormon kehamilannya, membuatnya tak sanggup menatap suaminya berduaan dengan wanita lain biarpun itu adalah kakaknya sendiri. Apalagi melihat suaminya menyuapi makan wanita lain.
Dan itu sangat menyakitkan yang dirasakannya. Dadanya sangat sesak. Sekarang saja saat dirinya membayangkan hal itu terjadi membuat dadanya semakin sesak saja.
Dion sudah selesai mandi dan masuk ke dalam walk-in closet mencari pakaiannya. Saat mencari pakaiannya yang cocok. Terlihat tangan mungil melingkar di pinggangnya. Vio mendekap tubuh suaminya dari belakang meski terhalang perutnya yang sudah terlihat membuncit.
"Mas..."
"Mas, aku ingin." ucap Vio dengan wajah merona dan tersipu.
Dion yang tak mengira ucapan istrinya langsung berbalik menatap istrinya. Membelai pipi istrinya lembut penuh kasih. Vio menikmatinya, mengecup telapak tangan suaminya. Dion menatap wajah istrinya penuh hasrat. Dilumatnya bibir istrinya lembut.
Mereka pun saling berpagutan mesra, tak melepaskan sedetikpun. Hingga Vio memukul-mukul dada suaminya merasa kehabisan nafas. Dion melepas ciumannya. Menatap wajah istrinya yang sudah merona dan berkabut gairah juga. Dion mulai melu**mat lagi, menghisap, melesakkan lidahnya ke dalam mulut istrinya.
Mereka beradu lidah dengan lama. Dion membopong tubuh istrinya dengan ciuman yang tidak dilepaskannya. Membaringkan tubuh istrinya ke ranjang menatap seluruh tubuh istrinya intens. Sangat seksi, batin Dion apalagi sejak perutnya mulai besar membuat tubuh istrinya lebih berisi. Dion melucuti pakaian istrinya hingga tak tersisa sehelai benangpun.
Begitu juga dirinya sudah sama-sama polos tubuhnya. Dion mulai mencumbui seluruh tubuh istrinya lembur. Menelusuri seluruh lekuk tubuh istrinya. Hingga desahan dan erangan seksi keluar dari mulut istrinya merasa keenakan. Saat Dion mulai bersiap diantara kedua kaki istrinya untuk segera membenamkan dirinya di dalam tubuh istrinya.
Tok tok tok
Tok tok tok
Suara pintu kamar Dion dan Vio diketuk dengan tergesa-gesa oleh seseorang.
"Siapa mas?" tanya Vio yang sudah berkabut gairah begitu juga Dion yang sudah tak sabar untuk menuntaskan hasratnya yang sudah mencapai ubun-ubun ingin segera dituntaskan. Sedang Vio menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Shit..." umpat Dion memakai boxernya dengan bertelanjang dada menuju pintu kamarnya yang tak henti-hentinya diketuk.
__ADS_1
Cklek
"Tuan..." ucap seorang pelayan yang terlihat panik dan cemas.
"Ada apa?" tanya Dion dengan wajah dingin. Pelayan itu ketakutan mendengar suara dingin dan tatapan tajam dari suami nonanya.
"Itu tuan, nyonya..."
"Kenapa dengan mama?" tanya Dion ganti dirinya yang cemas saat mama mertuanya disebut.
"Dipanggil nyonya, non Angel pingsan lagi." jelas pelayan itu dengan takut-takut dan gugup.
"Aku akan segera kesana." ucap Dion meraih kaosnya.
"Kenapa mas?" tanya Vio yang juga mulai memakai baju hamilnya.
"Kak Angel pingsan, mama butuh bantuan." jawab Dion terburu-buru.
"Kak Angel pingsan?" jawab Vio ikut cemas dan panik mengikuti suaminya menuju kamar kakaknya.
"Mama..." seru Dion menghampiri Karina dengan beberapa pelayan mengangkat tubuh Angel untuk dibaringkan ke ranjang.
"Dion." Dion segera mengangkat sendiri tubuh Angel segera dan dibaringkan ke ranjang.
"Mama sudah menghubungi dokter?" tanya Dion berusaha tenang.
"Ah, mama lupa." jawab Karina menepuk jidatnya.
"Aku akan menghubunginya." sela Vio langsung beranjak mengambil ponselnya yang tertinggal di kamarnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya ma?" tanya Dion setelah Karina terlihat tenang.
"Kakakmu muntah lagi, padahal baru satu suapan. Tubuhnya benar-benar menolak makanan selain dari suapanmu Dion." jelas Karina menutup wajahnya dengan kedua tangannya menyesal.
"Kenapa mama merasa bersalah? Seharusnya mama mengatakannya padaku ma." ucap Dion menghibur.
TBC
.
.
.
__ADS_1