
Karina mengikuti Derian masuk ke kamarnya setelah kedua gadis kecil itu berlalu. Karina mendengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Karina masuk ke dalam walk-in closet untuk menyiapkan baju santai Derian.
"Sayang... apa yang akan kau katakan pada mereka?" tanya Karina saat melihat Derian muncul dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalut handuk sepinggang dan handuk di tangannya untuk mengusap rambut basahnya.
"Katakan apa? Tentu saja mengatakan yang sebenarnya, kalau kau mama mereka yang sekarang."jelas Derian duduk di tepi ranjang yang handuknya diambil Karina membantu mengusap rambut basah suaminya.
"Apa mereka akan menerimaku?"cemas Karina masih sambil mengusap rambut itu.
"Apa yang kau cemaskan?Mau tak mau mereka memang harus menerimamu sebagai mama baru mereka."ucap Derian memeluk pinggang Karina yang berdiri di depannya, memeluknya, menyusupkan kepalanya ke dada Karina.
Karina tertawa geli, kelakuan Derian membuatnya geli dan merinding.
"Aku tak mau mereka terpaksa menerimaku?" lirih Karina.
Derian mendongak menatap wajah Karina dengan dagunya masih menempel di perut Karina, juga masih dengan tangan yang melingkar di pinggang Karina erat.
"Kau akan jadi mama mereka yang baik dan penyayang. Apa yang kau cemaskan lagi?" hibur Derian. Karina menatap Derian berhenti sejenak mengusap rambut Derian.
"Benarkah?" ucap Karina masih tak yakin.
"Tentu."
"Bagaimana jika mereka tak menerimaku?"
"Percayalah padaku. Ok?" Derian berdiri mengecup bibir Karina sekilas. Karina membalasnya. Derian semakin gencar melakukan 'penyerangan' pada Karina. Percintaan panas mereka terjadi.
**
Setelah kurang lebih 2 jam pergulatan ranjang itu. Derian dan Karina turun untuk makan malam dengan kedua putrinya. Derian sudah melihat kedua putrinya duduk di meja makan di kursi mereka masing-masing.
"Papa."
"Papa."
Seru mereka bersamaan dibalas senyuman manis Derian.
"Apa bu guru mau jadi mama Putri?"tanya Putri polos, sontak membuat Karina tersedak dan batuk-batuk, saat mereka sudah duduk di kursi masing-masing. Derian menepuk punggung Karina membantu meredakan tersedaknya.
__ADS_1
"Apa Putri suka?"tanya Derian balik menatap Putri.
"Mau...mau..."jawab Putri antusias tapi tidak dengan Angel, Angel masih belum merespon apapun yang dikatakan papanya.
Angel menatap Karina dan Derian bergantian dengan penuh pertanyaan tapi tak bertanya. Karina seakan dapat mengerti arti tatapan mata Angel seolah kecewa dan tak bisa terima jika dirinya menjadi pengganti mamanya. Karina menoleh menatap Derian yang ikut menatapnya setelah menatap Angel. Seolah saling bertanya tentang respon Angel.
"Boleh aku memanggil bu guru mama?"tanya Putri di sela kebingungan Derian dan Karina.
"Kalau kau suka tak apa?"jawab Derian tersenyum cerah, melupakan wajah datar Angel. Karina ikut tersenyum ragu, sambil menatap Angel yang masih tak merespon menatap datar dan dingin sambil terus makan makanannya.
"Mama Karin!"seru Putri tersenyum senang.
"Iya sayang."jawab Karina dibuat seimut mungkin.
"Kak, kak Angel, bu guru jadi mama kita?"ucap Putri polos menoleh menatap Angel, yang ditatap tak menjawab hanya memandang dingin pada Karina.
Setelah selesai makan, Karina menghampiri si kembar yang berada di ruang keluarga sambil menonton acara kartun di tv. Putri mengikutinya, tapi Angel berbalik pergi ke kamarnya di lantai 3 tak menggubris panggilan Derian yang ingin berbicara kepadanya.
"Sudah dulu sayang, dia baru sembuh."hibur Karina menenangkan Derian yang berteriak semakin kencang menyerukan nama Angel.
"Apa maksud dari sikapnya itu?"seru Derian tak suka dengan sikap Angel yang tak menghormati mereka.
"Aku tak akan memaafkannya jika dia berani memperlakukanmu kasar."ucap Derian membela Karina.
"Tidak akan terjadi hal seperti itu. Bukan begitu cara mengatasi anak-anak. Aku akan coba bicara padanya." ucap Karina mengusap lembut lengan Derian meredakan emosinya.
"Baiklah. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu di ruang kerja." ucap Derian mengecup kening Karina agak lama dan berlalu menuju ruang kerjanya.
Dan Karina menuju kamar Angel setelah menyerahkan si kembar dan Putri pada pengasuhnya.
Karina mengetuk pintu kamar Angel dan muncul bibi pengasuh yang membukakan pintu.
"Angel?"tanya Karina yang seolah bibi tau dan menunjukkan Angel yang sudah tertelungkup menangis di bantal tidurnya.
"Tolong biarkan kami bicara berdua sebentar!" pinta Karina.
"Iya nyonya."jawab bibi menunduk dan pergi dari kamar setelah menutup pintu perlahan.
__ADS_1
Karina menghela nafas dan mendekati ranjang tempat Angel menangis menelungkup pada bantal. Terdengar isakan tangis dari balik wajah Angel. Karina seketika merasa bersalah.
"Sayang..."Ucap Karina lembut mengelus rambut Angel lembut. Tak ada jawaban, tapi isakan tangis itu berhenti hanya tinggal sesenggukan yang masih terdengar.
"Sayang... Angel.."
Plak...
"Pergi... mamaku cuma satu, mama Adelia saja. Aku tak mau punya mama tiri. Pergi! Pergi! Tinggalkan kamarku!"seru Angel kasar berteriak tanda tak suka jika dielus dan menepis tangan Karina kasar.
"Angel...ibu..."
"Pergi! Pergi!Pergi!"teriak Angel semakin kencang, hingga Karina memilih pergi untuk sementara, membiarkan Angel untuk menenangkan diri sejenak.
"Baik...baik...ibu pergi."ucap Karina lembut mengalah berjalan keluar kamar. Bibi pengasuh menatap sendu, menyesal atas perlakuan nona kecilnya.
"Tak apa bi, temani dia, jangan tinggalkan dia sendiri! Sementara biar Putri diasuh bersama bibi pengasuh si kembar."ucap Karina lembut.
"Baik nyonya."
Derian segera berlari ke atas tempat teriakan Angel terdengar terdapat Karina di depan pintu, bibi pengasuh sudah masuk ke dalam.
"Apa dia berteriak padamu? Apa dia memperlakukanmu dengan kasar?"seru Derian yang sempat mendengarnya dari lantai bawah ruang kerjanya memeriksa setiap detail tubuh Karina.
"Tak apa. Biasa anak-anak."
"Aku akan coba bicara padanya?" Derian hendak masuk.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.