Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 21


__ADS_3

Sudah lebih 4 bulan usaha Karina untuk mendekatkan dirinya dengan ibu mertuanya masih belum membuahkan hasil.Bu Hesti,ibu mertuanya masih berperilaku sinis padanya. Karina berusaha membesarkan hatinya untuk menerima perlakuan Hesti padanya,meski sangat sakit.


"Ibu, sampai kapan aku harus terus berpura-pura sudah bercerai dengan mas Reno?"tanya Irene sore itu pada Hesti di ruang keluarga rumah Hesti,ibu Reno.


"Sampai Reno mau menceraikan istrinya itu,"jawab Hesti kembali sinis saat membahas tentang Karina sambil menyuapi cucunya.


"Tapi kan aku capek Bu?Masak mau bermesraan dengan suamiku harus sembunyi-sembunyi,"keluh Irene.


Bruk.... Parcel buah yang dibawa Karina jatuh di belakang kursi ruang keluarga tempat mereka duduk,Karina yang sudah tiba sejak tadi berhenti demi mendengar pembicaraan Hesti dan Irene tentang dirinya.Karina seperti orang bodoh saja saat mendengarnya, suaminya pernah mengatakan kalau mereka sudah resmi bercerai, walau gelagat Reno tidak seperti biasanya.Karina mempercayai itu,tidak Karina berusaha mempercayai kata-kata Reno.Meski Karina tak yakin dengan jawaban Reno,itu pun dibuktikan Reno dengan tak pernah pulang terlambat, biarpun terlambat itu cuma sesekali dalam sebulan.


Karina mempercayai itu,juga tidak terlalu bertanya secara mendetail,meski sering melihat Irene ada di rumah Hesti,Karina mencoba berpikir mungkin itulah perasaan seorang ibu yang merindukan anaknya sehingga dia bebas keluar masuk, datang dan pergi dari rumah Hesti.Tapi karena percakapan mereka tadi, membuat Karina shock.


Parsel buah yang jatuh itu diambilnya, ditaruh di meja keluarga itu,meski tau nasib buah itu hanya berada di tempat sampah.


Selama ini apa yang dibawa Karina ke rumah Hesti selalu berakhir di tempat sampah,meski begitu Karina tetap tak mau menyerah, mencoba dan terus mencoba mendekati Hesti, berharap mungkin suatu saat nanti akan luluh.Tapi bagaimana dia akan luluh jika ternyata masih ada menantu lainnya yang diharapkannya masih ada disisinya dan bermain sandiwara dengan berpura-pura bercerai dengan suaminya demi agar Karina mau memperbaiki hubungan mereka kembali.


"Mungkin ini usaha saya yang terakhir bu.Dan saya minta maaf jika saya banyak salah."ucap Karina bernada parau, menahan sakit hatinya.


"Baguslah kalau begitu,kau juga tak perlu lagi kemari,aku sudah dapat menantu yang bisa memberikan aku cucu yang kuinginkan saat ini,akan lebih baik segera kau urus perceraian kalian,meski Reno menolak untuk bercerai denganmu,kau seharusnya tau diri untuk tidak mempertahankannya disisimu,dasar wanita m****l,"seru Hesti berdiri dari duduknya melihat Karina hendak pergi begitu saja. Dada Karina semakin sesak,bagai dihantam beribu ton batu, kata-kata Hesti yang biasanya hanya sindiran kini benar-benar ditujukan langsung padanya.Karina segera beranjak dari tempatnya pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Berjalan tak tentu arah,hujan deras semakin membuat dada Karina sesak,dia tak menangis,dia tak sedih, seolah air matanya sudah kering walau hanya sekedar menangis. Karina berjalan tertatih di pinggir jalan entah menuju ke mana.Suara dering ponselnya tak dihiraukannya,bahkan tak mendengarnya karena suara hujan di luar yang begitu deras.


Hingga dirinya jatuh pingsan tak sadarkan diri, seorang pria datang menghampirinya, menepuk pipinya berusaha membangunkannya tapi Karina tak bergeming.

__ADS_1


Pria itu membaringkan tubuh Karina di ranjang kamarnya,ragu untuk melepas pakaian Karina yang basah untuk mengganti dengan pakaian kering.Pria itu tinggal sendiri, pembantu yang hanya sampai jam 4 sore pun sudah pulang.Dengan hati-hati sambil ditutup selimutnya pria itu membuka satu persatu baju Karina dibalik selimut.


Hingga pagi menjelang,Karina membuka matanya perlahan, melihat sekeliling, berusaha untuk bangun saat melihat ke dalam selimut,bajunya sudah diganti.


Karina terkejut, sepertinya dia ingat kamar itu, kamar yang dulu sering didatangi, kamar yang dulu sempat ditinggali.Karina bangun dari ranjang menuju pintu keluar kamar masih memakai pakaian kemeja kebesaran milik pria tadi.


"Anda sudah bangun?"tanya pria itu yang mengagetkan Karina yang mengendap-endap keluar kamar.Saat mengenali suara itu Karina menoleh dan tersentak saat melihat pria itu adalah Derian.Mantan kekasihnya yang sudah bangun dari komanya 2 bulan lalu,yang juga saat bangun katanya melupakan semua tentang dirinya. Karina menganga tak percaya, menurut ingatan terakhirnya dirinya pingsan di pinggir jalan dan setelah itu tak ingat lagi, tau-tau dirinya sudah bangun sudah berada di ranjang kamar apartemen Derian.


Karina menutup mulutnya tak percaya.Ingin dia berlari ke arah Derian dan memeluknya, tapi ditahannya.Dia sangat mencintai pria ini,dia sangat merindukan pria ini,2 bulan setelah bangun dari koma,Karina menghentikan untuk menemui Derian,karena dirasa sudah cukup baginya melihat Derian baik-baik saja meski melupakan dirinya,asal dia baik-baik saja bagi Karina itu sudah cukup.


"Anda mau sarapan?"tanya Derian lagi dengan nada formalnya seperti baru bertemu dengan Karina.


"Ah,lebih baik aku pulang,"jawab Karina.


Derian mengambilkan makanan di piring untuknya,Karina menerima dengan senyuman senang, teringat perlakuan Derian dulu saat dirinya masih menjadi kekasihnya.Karina senyum-senyum sendiri perlahan berubah tersenyum getir saat hubungan mereka hanya masa lalu yang harus dilupakan.Karina menghela nafas.


"Apa, makanannya tidak enak?"tanya Derian melihat Karina menghela nafas.


"Ah tidak,hanya..."jawab Karina menghentikan ucapannya.


"Hanya... apa?"tanya Derian penasaran.


"Ah tidak,sangat enak terima kasih,"jawab Karina tersenyum mengalihkan pandangannya ke arah makanannya dan melahapnya dengan senang.

__ADS_1


Setelah selesai mandi Karina menatap sekeliling belum menemukan bajunya.Tiba - tiba pintu kamar terbuka dan Karina masih berbalut handuk di dada sampai di atas paha.


Derian menatap Karina seolah merasakan de-javu seperti pernah mengalami hal itu terjadi.Karina pun juga merasakan de-javu itu juga.Segera membalikkan tubuhnya tanpa bicara apapun, seolah tau Derian ikut membalikkan tubuhnya dan meletakkan baju itu di meja samping pintu masuk kamarnya.


Karina segera mengambil baju itu dan memakainya.


Sedang Derian terduduk merenung di sofa ruang tamunya sudah bersiap hendak ke kantor. Suara pintu kamar terbuka membuat Derian menoleh membuyarkan lamunannya, menatap Karina lekat.Karina yang ditatap agak salah tingkah.


"Terimakasih atas bantuannya,saya sudah merepotkan anda, saya pamit dulu.Terima kasih."ucap Karina sedikit mengangguk, mengambil tasnya.


"Biar saya antar,"tawar Derian.


"Tidak,anda sudah menolong saya kemarin, Saya tak mau merepotkan anda lagi.Saya tak mau berhutang budi terlalu banyak,"ucap Karina tanpa berbalik menatap Derian. Entah kenapa dada Derian seperti diremas mendengar perkataan Karina, perasaan de-javu nya seolah muncul lagi,bahwa dirinya pernah bertemu dengan Karina.


TBC


.


.


.


Mohon like dan vote nya,, sarannya juga,, terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2