Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 21


__ADS_3

Angel berlarian di lorong rumah sakit. Setelah bertanya pada bagian informasi dimana letak kamar ruang perawatan Dion, Angel langsung berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai 3 rumah sakit itu. Angel membuka pintu perlahan setelah membuang nafasnya sambil meredakan deru nafasnya selama berlari dari lobi rumah sakit tadi.


Setelah Al mengantarkannya pulang sampai di depan rumah bi Ani, Angel langsung masuk ke rumahnya sendiri dan masuk kamar mandi membersihkan diri. Dia juga ikut makan malam bersama keluarga dengan tenang. Saat kembali ke kamarnya, Angel membaca pesan dari Dion. Saat itu dia baru ingat kalau dia berjanji akan menghubungi kembali saat setibanya di rumah.


'Apa kakak masih sibuk?' isi pesan Dion yang dibaca Angel, tertera sudah satu jam lalu pesan itu dikirim.


"Astaga...!" ucap Angel menepuk dahinya setelah membaca pesan itu.


"..."


"Maaf, aku baru membaca pesanmu." ucap Angel langsung merasa bersalah.


"..."


"Tidak. Aku sudah tidak repot lagi." jawab Angel.


"..."


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Angel serba salah.


"..."


"Katakan saja, jika mampu aku akan membantu." jawab Angel tak mau mengecewakan Dion untuk kedua kalinya.


"..."


"Kemana?"


"..."


"Siapa yang sakit?"


"..."


"Kamu... sakit!" seru Angel tak percaya, entah kenapa dia merasa bersalah.


"..."


"Di rumah sakit mana? Kamar berapa?" seru Angel bertanya dengan nada panik dan bergegas mencari cardigan memakainya dan mengambil tas dan dompetnya.


"..."


"Ya...ya...Aku akan segera kesana!" ucap Angel mengakhiri telponnya dan berlari ke bawah untuk menemui Karina berpamitan.


"Ma, aku mau ke rumah sakit." seru Angel dengan nafas ngos-ngosan berlari dari lantai 2 ke bawah.


"Siapa yang sakit sayang?" tanya Karina lembut yang saat itu sedang duduk santai di ruang keluarga nontorn tv dengan Vio sang adik kembar.


"Teman ma." jawab Angel singkat.


"Suruh antar pak Danu." saran Karina.


"Iya ma." jawab Angel tergesa-gesa sambil mencium punggung tangan Karina dan mengecup kedua pipi Karina dengan tak sabaran.


Untung Derian di dalam ruang kerjanya sedang sibuk mengurus pekerjaannya dengan sekretarisnya, kalau tidak dia pasti akan menanyai Angel macam-macam.


"Kau bawa apa?" tanya Karina melihat Angel menenteng sesuatu.


"Jus jambu ma, temanku terkena DBD." jawab Angel singkat. Setelah mematikan panggilan tadi, Angel menyuruh pelayan membuatkan jus jambu untuk nanti diberikan pada Dion.

__ADS_1


Tok tok tok


Suara pintu diketuk, Dion menatap pintu mencoba menebak siapa yang datang, kalau Reno dan bibi pengasuhnya tak mungkin mengetuk pintu.


"Masuk!" seru Dion.


Cklek


Wajah Angel muncul menunjukkan raut wajah cemas dan panik. Melihat tak ada siapapun selain Dion yang terbaring di ranjang masih dengan infus di tangan kanannya.


"Hai..." sapa Angel melambaikan tangannya menyapa Dion dengan nafas masih sedikit memburu meski tak se buru-buru tadi.


"Kak Angel." ucap Dion tersenyum senang.


Angel mendekati ranjang Dion, balas tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Angel cemas meletakkan tas yang dibawanya tadi.


"Syukurlah... sudah lebih baik." jawab Dion masih dengan senyum lebar di bibirnya.


"Ah, syukurlah. Sudah berapa hari?" tanya Angel duduk di kursi dekat ranjang.


"Baru....enam hari mungkin?" jawab Dion mengedikkan kedua bahunya tersenyum.


"Baru... itu sudah lama Dion. Kenapa baru menghubungiku?" seru Angel semakin cemas.


"Aku tak mungkin merepotkan kakak." jawab Dion merasa tak enak hati.


"Hei... bukannya aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri?" ucap Angel, seketika dirinya ingat saat kecupan sekilas Dion terakhir mereka bertemu. Dan wajah Angel menjadi memerah dan menjadikan dirinya canggung.


"Ah, terima kasih." jawab Dion sedikit merasa kecewa dengan perkataan Angel.


Dia mencoba mengendalikan perasaannya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain, jadi dia tak tau saat wajah Angel yang memerah tadi.


"Terima kasih." jawab Dion tersenyum dipaksakan tapi dia tetap senang Angel memperhatikannya meski hanya sebagai adik.


"Cobalah!" ucap Angel menyodorkan minuman yang dibawanya tadi ke tangan Dion.


"Baiklah!"


"Kau tau aku selalu membawa bekal makanan dan minuman yang dibuatkan mama setiap ke sekolah sejak SMU." cerita Angel memecah keheningan sambil menatap Dion yang menyeruput jus jambu dari botol khusus untuk bekal Angel saat dibawa ke kampus.


"Aku tau." jawab Dion yakin.


"Kau...tau?" tanya Angel mengernyitkan dahi mencoba mencari tahu.


"Ah, maaf... aku dulu sering melihat kak Angel makan bekal saat istirahat sekolah. Kulihat bungkus dan botolnya tak dijual di kantin sekolah, kupikir pasti itu dibawa dari rumah karena setiap hari aku... melihat... kakak membawa tempat bekal itu setiap hari dan...sama..." jelas Dion, merasa bersalah, itu artinya dia sedang mengakui kalau sejak lama dia memperhatikan Angel. Angel hanya diam bingung dan keheranan menatap Dion tak percaya.


"Maaf kak...maaf... sungguh, awalnya aku tak sengaja, entah kenapa aku jadi keseringan memperhatikan kak Angel." jawab Dion segera agar Angel tak berpikir dia seorang stalker sejati meski itu benar. Tapi dia hanya men stalk tentang Angel.


Angel menutup mulutnya tak percaya dan tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya. Dion melihat Angel tertawa dan bukannya marah membuat wajahnya memerah malu.


"Kak..." rengek Dion setelah lama Angel masih saja menertawakan dirinya.


"Maaf... sudahlah, lagipula sudah berlalu." ucap Angel.


"Apa kakak sampai sekarang masih membawa bekal ke kampus?" tanya Dion memecah keheningan merasa canggung dan berusaha mencari topik pembicaraan.


"He em. Mama menyarankanku untuk setiap hari membawanya. Karena tubuhnya lemah saat kecil. Jadi dokter menyarankan untuk jangan makan sembarangan, kalau bisa makanan yang sehat dan bergizi." ucap Angel bercerita.

__ADS_1


"Oh, begitukah?" ucap Dion.


"Mama sangat posesif tentang kesehatan anak-anaknya, meski dengan adikku Putri, padahal kami bukan putri kandungnya." ucap Angel lagi.


"Pasti sangat menyenangkan punya mama." jawab Dion getir.


"Tentu. Mama Karina adalah mama yang baik. Mama menyayangi kami sama besarnya. Dia juga memarahi kami juga sama marahnya jika punya kesalahan meski anak kandung ataupun bukan anak kandungnya." cerita Angel bangga dengan wajah yang berbinar-binar senang menatap Dion.


Dada Dion entah kenapa berdebar-debar menatap wajah Angel yang sedang bercerita dengan binar-binar kebahagiaan.


Reno yang hendak masuk ke kamar ruang perawatan putranya mengurungkan niatnya untuk masuk demi mendengar perkataan seseorang tentang mantan istrinya yang masih sangat dicintainya dan sekaligus dikecewakannya.


"Mama Karina memang baik." ucap Dion membenarkan.


"Benarkan. Mama Karina baik kan?" sahut Angel tersenyum setuju dengan pembenaran Dion.


" Ah, kenapa aku yang bercerita, kau kan yang sakit?" ucap Angel menatap Dion lagi.


"Ah, sudah hampir sembuh. Mungkin dua hari lagi sudah diperbolehkan pulang." hibur Dion agar tak membuat Angel cemas.


"Syukurlah."


Cklek


Suara pintu kamar dibuka membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


"Maaf mengganggu, kukira Dion sendiri, karena bibi sudah kusuruh pulang." ucap Reno merasa bersalah dan canggung ditatap Dion dengan wajah kesal. Reno langsung paham.


"Kalau begitu aku..."


"Jangan." seru Reno cepat.


"Ya?" tanya Angel bingung.


"Maksudku tolong temani Dion sebentar, aku harus menemui dokter sebentar." jelas Reno meski sebenarnya dia berbohong karena tatapan mata putranya menajam meminta dirinya memberikan waktu untuk bersama dengan Angel sedikit lagi.


"Ah, tentu." ucap Angel kembali duduk di kursi tadi. Reno pun keluar lagi entah kemana, karena sebenarnya dia tak harus bertemu dengan dokter.


"Apa hanya papamu yang menunggumu disini?" tanya Angel setelah mereka tinggal berdua.


"Siapa lagi, mungkin bergantian dengan bibi pengasuhku. Sejak pertama dirawat papa yang selalu ada di sisiku. Baru hari ini papa ada meeting di kantor yang tidak bisa ditinggalkannya. Jadi, dia baru kembali tadi." jelas Dion membuat Angel menatap Dion kesihan.


"Ah, kalau begitu, jika pulang dari kampus aku akan mampir." tawar Angel.


"Kalau kak Angel sibuk tak perlu. Aku tak mau merepotkan kakak." cegah Dion meski sebenarnya dirinya sangat senang dan menginginkannya.


"Tak apa. Kalau aku sibuk aku akan menghubungimu." ucap Angel tersenyum senang.


"Makasih kak." ucap Dion akhirnya. Mereka saling tersenyum.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2