Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 26


__ADS_3

Angel berjalan tak tentu arah, menyusuri pinggir jalan menuju halte bus yang biasa digunakan tempat untuk naik bus pulang ke rumah. Terduduk di kursi panjang halte itu, menatap kosong ke depan. Air matanya terus menerus menetes meski dirinya tak mengeluarkan suara tangisan.


Untung saja di halte bus itu hanya ada dirinya, sehingga tak ada yang menatap aneh padanya. Apalagi waktu malam beranjak semakin larut. Setiap air mata menetes, Angel langsung mengusapnya, berulang kali seperti itu. Hingga isakan terdengar saat dirinya mendekap memeluk lututnya duduk di atas kursi halte itu.


Disembunyikannya wajahnya di lututnya hingga isakan terdengar sampai suara tangisan kencang terdengar. Malam yang semakin larut. Suara dering ponselnya yang berkali-kali berdering tak dihiraukan. Dirinya ingin meluapkan kesedihannya, dalam tangisannya.


Dia ingin menumpahkan semuanya. Hingga sampai kurang lebih dirinya menangis, baru disadari terdapat bayangan tubuh seseorang di depannya. Dalam kesadarannya yang belum sepenuhnya. Angel terkejut dengan bayangan itu dan sontak mendongak menatap wajah yang berdiri di depannya.


Bukannya tangisnya berhenti tapi malah semakin kencang saja. Angel memeluk tubuh yang berdiri di depannya itu, menangis lagi sejadi-jadinya. Tak peduli dimana dan siapa tempatnya berada. Dia ingin menangis lagi. Yang dipeluk hanya balas memeluk tubuh lemah itu membiarkan dia menumpahkan tangisnya.


**


"Kakak, sudah sadar?" tanya Dion meletakkan nampan yang berisi minuman hangat dan sedikit kue camilan di nakas samping ranjangnya.


Angel langsung menoleh menatap Dion dan menatap sekeliling kamar yang dikenali sebagai kamar tidur Dion. Dan menatap Dion lagi yang sudah duduk di kursi dekat ranjangnya.


"Ah, mama..." seru Angel mencari sesuatu, dia kelabakan karena malam sudah semakin larut.


"Jangan khawatir kak, aku sudah menghubungi mama Karina, mengatakan kalau kakak sedang ingin menginap di rumah teman." jawab Dion menenangkan. Angel semakin cemas mendengar penjelasan Dion.


"Tak mungkin mama mengizinkan begitu saja." ucap Angel masih mencari keberadaan ponselnya. Dion hanya diam membiarkan Angel melakukan keinginannya. Tapi, dia tetap tak akan mengizinkan pulang. Kondisi tubuhnya sedang lemah.

__ADS_1


"Aku akan pulang sekarang." Angel beranjak bangun tapi tubuhnya oleng dan terhuyung hingga dia terjerembab di tempat tidur lagi. Kepalanya dirasakan berdenyut sakit. Sangat sakit. Dion segera menangkapnya dan membantunya kembali tidur.


"Kakak pingsan di halte. Aku terpaksa membawa kakak ke rumahku. Karena aku tak mungkin mengantar kakak pulang. Mama Karina pasti tak bertanya apapun. Tapi tuan Derian pasti langsung membunuhku. Aku terpaksa mengirim pesan berbohong pada mama Karina agar dia tak mencemaskan kakak dengan mengatasnamakan teman kakak. Dan mama Karin langsung mengiyakan pesanku." Dion menunjukkan jawaban pesannya yang diketiknya dari ponsel Angel.


Angel meraih ponselnya dan membacanya dengan detail. Itu benar pesan balasan dari mama Karin? batin Angel beralih menatap Dion.


"Makasih..." ucap Angel kembali bersandar pada kepala ranjang di kamar Dion. Angel menghela nafas panjang dan berat, seperti begitu besar beban yang dirasakannya.


"Kakak mau makan dulu. Mungkin kakak pingsan karena lapar?" ucap Dion memecah keheningan.


Dion tak mau bertanya, Dion hanya diam, menunggu Angel bercerita sendiri tentang apa yang terjadi padanya dengan sendirinya. Dion tau terjadi sesuatu yang tidak baik pada Angel, hingga Angel sesedih sampai pingsan di jalanan seperti itu.


Angel tak menjawab tawaran Dion tapi dia menerima suapan Dion hingga makanan itu habis. Dion memberikan minuman hangat yang bisa meredakan sedikit sakit hatinya, mungkin. Dion hendak berdiri dengan membawa nampan itu ke belakang.


Dion menoleh menatap tangan Angel yang memegang pergelangan tangannya menahan untuk tidak meninggalkan kamarnya. Ganti beralih menatap Angel yang menatapnya dengan tatapan memohon dan terpancar kesedihan di matanya. Bahkan matanya berkaca-kaca, membuat Dion sakit di dadanya.


"Tentu." jawab Dion meletakkan kembali nampan itu di nakas samping ranjangnya.


Angel tersenyum meski sedikit, menepuk ranjang di sebelahnya mengisyaratkan Dion untuk sama-sama duduk di ranjang, Angel pun agak menggeser tubuhnya ke tengah. Wajah Dion langsung memerah, saat diminta untuk duduk di sisi bersama di ranjangnya.


Dion duduk dengan gugup dan Angel langsung menyandarkan kepalanya di bahu Dion yang sama-sama bersandar di kepala ranjang. Dada Dion berdegup kencang, gugup juga tegang. Bagaimanapun Dion lelaki normal, ada sesuatu yang bangun yang membuatnya semakin gelisah. Apalagi dada Angel tanpa sengaja menyentuh sikunya yang Dion sendiri bingung akan ditaruh dimana.

__ADS_1


"Terima kasih, sudah datang. Biarkan aku istirahat sejenak. Kau tak keberatan kan?" ucap Angel lirih yang masih didengar Dion.


Tak sampai setengah jam mereka saling diam, terdengar nafas teratur Angel yang ternyata sudah terlelap di bahu Dion.


Dion pun sejak tadi sudah menahan diri untuk tak bergerak agar Angel merasa nyaman di bahunya. Dion membuang nafas panjang. Membaringkan dengan benar tubuh Angel di tempat tidur. Tapi, saat dirinya hendak pergi, jemarinya digenggam erat oleh Angel seolah tak mau ditinggalkan.


Dion akhirnya pun ikut berbaring di ranjang itu di sisi Angel memiringkan tubuhnya menghadap Angel dan tersenyum senang bisa melihat Angel beristirahat dengan tenang dan nyaman di rumahnya.


"Apa yang membuatmu begitu bersedih?" bisik Dion lirih, matanya pun ikut terpejam karena rasa kantuk yang menderanya sejak semalam


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2