Perselingkuhan

Perselingkuhan
Extra part 9


__ADS_3

Karina menyiapkan baju santai suaminya meletakkan di sofa dekat ranjang di kamarnya. Sementara suaminya masih mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok tubuh suaminya yang hanya berbalut handuk di pinggangnya dengan handuk lain mengusap rambutnya yang basah. Karina mengambil handuk itu membantu suaminya mengusap rambut basahnya.


Derian tak menjawab juga tak membantah keinginan istrinya, dia masih terlihat sedikit cemberut. Karina hanya tersenyum melihat Derian masih merajuk. Derian didudukkan di sofa yang ada di kamarnya, sementara Karina mengusap rambut suaminya dengan lembut dan tak lupa disertai pijatan-pijatan lembut di kepala.


Derian merasa terbuai, kelelahan tubuh dan pikirannya mengenai pekerjaan yang selama ini menyita waktu dan tenaganya membuatnya rileks sejenak dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya di perut istrinya yang berdiri di depannya.


Karina tersenyum, meski awalnya suaminya berusaha mendiamkannya karena dirinya sedang merajuk, Karina tau cara merayu suaminya untuk tidak terlalu lama mendiamkannya, dan Derian selalu takhluk pada apapun yang dilakukannya.


Dia memang tak bisa lama-lama mendiamkan istrinya itu. Terlalu dia mencintai dan memuja istrinya.


"Kau selalu tau apa yang mesti dilakukan agar aku tak bisa lama-lama marah padamu." bisik Derian mendekap erat tubuh istrinya dengan kepala masih berada di perut istrinya.


Karina menghentikan usapan rambutnya hanya memijat kecil di kepala Derian.


"Karena aku tau apa yang diinginkan suamiku." jawab Karina.


Sudut bibir Derian tersenyum. Karina benar, dia selalu tau apa yang diinginkannya.


"Haaah.... aku seperti tak punya istri saja beberapa hari ini." keluh Derian menghela nafasnya. Karina tersenyum simpul.

__ADS_1


"Tapi kebutuhanmu selalu ada." jawab Karina.


"Kebutuhan bisa disiapkan siapa saja, bahkan pelayan bisa menyiapkan. Tapi...." Derian menjeda kalimatnya memiringkan kepalanya masih mendekap tubuh istrinya erat.


"Perhatian tak bisa diberikan oleh pelayan...haah..." Derian menghela nafas lagi. Karina tersenyum lucu, suaminya mulai merajuk lagi.


"Maaf... aku tak bisa meninggalkan Angel sedikitpun, dia membutuhkanku disisinya." ucap Karina mengusak rambut suaminya.


"Kau yang tak membiarkanku untuk bicara padanya, pasti tak akan berlarut-larut selama ini." ucap Derian tak terima menjauhkan kepalanya mendongak menatap Karina meski dekapan tangannya tak dilepaskan juga.


"Aku tak suka caramu bicara pada anak-anak. Bukannya membuat anak-anak dekat dengan kita, tapi malah akan semakin menjauh dari kita." jawab Karina menatap Derian lekat.


"Kita harus tegas pada anak-anak agar mereka menurut. Kalau kau memanjakan mereka, pasti anak-anak akan sedikit-sedikit mengeluhkan hal-hal sepele." jawab Derian tak mau kalah.


"Tapi dengan begitu, kau tak punya banyak waktu untukku kan?" keluh Derian tak suka menyerukkan kepalanya lagi di perut istrinya. Wajahnya mulai terlihat memerah hingga telinga. Jadi inti dari keluhan dan rajukan ini karena dia menginginkan perhatian. Batin Karina tersenyum lagi.


"Sayang... apa kau sedang cemburu dengan anak-anakmu?" tanya Karina menggoda melihat wajah sampai telinga suaminya memerah malu.


"Aku kan... juga butuh kau perhatikan, bukan anak-anak saja." ucap Derian lirih tapi terdengar jelas di telinga Karina.


Karina tersenyum menutup mulutnya agar tak keceplosan tertawa, tapi gemetar karena tawanya tanpa suaranya terasa oleh suaminya yang mendekap erat pinggangnya. Suaminya sungguh seperti anak kecil yang menginginkan mainan. Derian semakin cemberut istrinya menertawakannya.

__ADS_1


"Maaf... aku akan membagi waktuku untukmu dan untuk anak-anak kita." ucap Karina menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya menghadapkan padanya.


"Tidak, aku hanya ingin waktumu untukku." jawab Derian tegas. Karina melongo tak percaya mendengar rajukan keegoisan suaminya.


"Sayang... mereka juga anak-anakmu, anak-anak kita. Kau menyuruhku untuk lepas tangan pada mereka dan menyerahkan mereka kepada bibi pengasuh?" tanya Karina meyakinkan.


"Kenapa? Mereka dibayar untuk itu kan? Agar kau selalu ada untukku." jawab Derian lagi mereka saling menatap, tatapan suaminya masih menyorotkan wajah tak suka dan Karina tau jika dia membantahnya saat ini, mungkin Derian akan berteriak murka. Karina menghela nafas.


"Baiklah. Jika kau di rumah, aku akan berikan perhatianku sepenuhnya padamu. Tapi jika saat kau tak di rumah tak apakan, perhatianku untuk anak-anak?" jawab Karina mencoba bernegosiasi pada suaminya.


Dengan tatapan memelas dan puppy eyes nya, Derian selalu tak bisa untuk tidak mengiyakan keinginan istri tercintanya ini.


"Aku selalu kalah berdebat denganmu." ucap Derian akhirnya, menarik dagu istrinya, mengecup lembut bibirnya, ********** dan menghisap lembut bibir itu hingga mereka sudah bergelung di ranjang tanpa sehelai benangpun menikmati keintiman mereka setelah perdebatan panjang dengan berakhir selalu di ranjang.


Mohon dukungannya terus


Beri like, rate dan vote menjelang season 2


Makasih 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2