Perselingkuhan

Perselingkuhan
Chapter 43


__ADS_3

Derian menyibukkan dirinya di kantor, pekerjaan yang ditundanya karena mengurusi perceraiannya membuat semakin menumpuk saja. Noah masuk ke dalam membawa lagi setumpuk dokumen yang harus ditanda tangani. Derian berdecak kesal menatap Noah.


"Apa kau ingin membunuhku dengan banyak pekerjaan?Ini saja belum selesai kau mau memberikan lagi?"teriak Derian murka mengumpat kesal. Rencananya dia ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih awal dan pulang ke apartemennya, menghabiskan waktu bersama Karina.


Karena kondisi kesehatan Karina pasca insiden yang terjadi dengan Adelia. Mereka mesti menunda percintaan mereka yang lebih dari 2 minggu. Derian begitu merindukan kehangatan tubuh Karina. Karina seperti candu baginya, yang diinginkan olehnya lagi dan lagi.


Derian tak mau memaksa Karina jika itu sudah menyangkut kesehatan dan keselamatan. Derian mencoba bersabar menunggu Karina pulih, tapi entah kenapa Karina lama sekali pulih malah terkesan semakin lemas dan lemah. Tapi pagi tadi Derian melihat Karina sudah lebih bersemangat dan sudah bangun pagi-pagi memasak di dapur. Tapi Karina menolak saat dirinya ingin 'memakannya' tadi pagi. Karina menyuruhnya pulang cepat nanti.


"Itu semua pekerjaan yang anda tunda beberapa waktu lalu tuan? Dan yang ini pekerjaan hari ini."jawab Noah santai.


Mumpung mood tuannya membaik Noah memberikan banyak pekerjaan.


Derian tak bisa menolaknya, semua yang dikatakan Noah benar adanya, Derian hanya berdecak kesal. Diraihnya ponselnya untuk menghubungi Karina, mungkin mood akan membaik lagi jika mendengar suara Karina.


"..."


"Kau dimana sayang?"tanya Derian mendengar suara bising jalan raya di sekitar Karina dalam ponselnya.


"..."


"Kau mau kemana?"tanya Derian cemas, pagi tadi memang Karina sudah terlihat sehat, tapi itu tetap membuat Derian khawatir.


"..."


"Baiklah! Langsung pulang jika sudah selesai."


"..."


"Aku merindukanmu."


Derian menutup ponselnya. Moodnya benar-benar membaik setelah mendengar suara Karina. Membayangkan Karina menemui kedua putrinya membuat Derian tersenyum sendiri.


Ah, pasti menyenangkan jika Karina ibu mereka dan kami bersenang bersama-sama. batin Derian yang berdecak kesal melihat Noah masih ada di depannya melihat dirinya tersenyum-senyum sendiri.


"Apa lagi?"seru Derian menatap Noah.


"Tentang nona Adelia?"


"Apalagi dengannya?" jawab Derian tak berminat sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Nona Adelia belum mau menandatangani surat perceraian,"jelas Noah. Membuat Derian berhenti melihat dokumennya.


"Apa maksudmu?"


"Nona Adelia menunjukkan perhatiannya pada kedua putri anda dan selalu ada di rumah sepanjang hari berusaha mengambil hati kedua putri anda."


"CK ck Apa yang mau ditunjukkan? Dia ingin terlihat baik?Dia mau berubah?"ucap Derian berdecak sebal tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Sampai berapa lama dia mau bertahan?Aku tak percaya dia berubah. Paling lama sebulan!"ucap Derian lagi tersenyum meremehkan.


"Biarkan dulu, kau suruh awasi Adelia oleh pengasuh itu, kalau sampai menyakiti kedua putriku dia akan merasakan akibatnya."


"Baik tuan." Noah undur diri meninggalkan Derian di ruangannya sendiri.


Karina berjalan lunglai di trotoar jalan setelah berpisah dengan kedua gadis kecil tadi. Sopir itu menawarinya untuk pulang bersama,tapi Karina menolak dengan alasan masih ada urusan. Hingga akhirnya dirinya sendiri berjalan masih enggan untuk pulang. Karina mampir di taman kota, duduk di bangku sepanjang taman. Merenungkan perkataan kedua gadis kecil tadi.


**


"Oh ya mama kalian bilang begitu?"


"Iya bu, katanya dia mau jadi mama tili kami."jawab Putri ketakutan.


"Iya bu, mama tiri kan jahat, katanya mama tiri sering memukul dan membentak anak-anak."sela Angel.


"Siapa yang bilang begitu?"


"Mama."


"Mama."


Jawab keduanya bersamaan. Karina melongo tersenyum getir.


"Kalian percaya?"


"Tentu saja.Di tv-tv juga, mama tiri selalu jahat?Di buku cerita Cinderella mama tirinya juga jahat."jawab Angel.


"Berarti kalian gak suka punya mama baru?"


Keduanya menggeleng kuat.


"Kami mau papa dan mama bersatu lagi. Pulang ke rumah dan jalan-jalan lagi bersama kami."jawab Angel.


Karina hanya diam menatap keduanya. Mengusap rambut mereka bergantian.


**


Karina menghela nafas panjang dan berat, dia diantara dua pilihan. Melepas Derian demi kebahagiaan kedua gadis kecil tadi atau membiarkan semua ini adanya. Dada Karina terasa sesak, dirinya mengelus perutnya.


"Kau harus kuat nak?Kau satu-satunya kekuatan mama untuk bertahan. Apapun yang terjadi mama pasti mempertahankanmu." bisik Karina lirih menangis mengisak tak bersuara, hatinya sungguh sakit sangat sakit jika dirinya harus pergi dari Derian. Dirinya sudah terlanjur sangat mencintainya. Dirinya juga menginginkannya, tapi dirinya tak mau egois. Biarkan hanya dirinya yang sakit demi kebahagiaan semua orang.


Karina belum menceritakan perihal kehamilannya pada Derian. Setelah kejadian Adelia menyerangnya, Karina ragu untuk mengatakan pada Derian.


**


Reno membaca hasil tes DNA dari putranya Dion yang hasilnya sudah keluar, setelah seminggu yang lalu setelah dirinya pulang ke rumah dan membawa rambut Dion dan dirinya ke laboratorium. Hasil itu menunjukkan bahwa Dion bukan putra kandungnya.

__ADS_1


Reno meremas kuat hasil tes itu dan pergi meninggalkan laboratorium tempat dia mengambil tes dan masuk ke mobil mengendarainya menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah yang kebetulan sekali ibunya juga sedang ada disana diminta Irene untuk membujuk Reno yang akhir-akhir ini sering marah-marah dan tak pernah pulang ke rumah.


"Mas Reno?"sapa Irene tersenyum melihat Reno masuk ke dalam rumah dengan wajah dingin dan tajam diselimuti wajah memerah menahan amarah.


"Reno!"panggil ibunya Reno, Hesti. Reno berhenti di ruang tamu menatap Irene dan mamanya bergantian masih dengan tatapan penuh amarah.


Reno membuang kertas yang dibawanya itu ke atas meja dengan kasar


"Apa ini mas?"tanya Irene ragu, ketakutan melihat kemarahan Reno.


"Ada apa Ren?"tanya Hesti juga penasaran dengan kertas itu ikut melihatnya bersama dengan Irene.


"Bi, bawa Dion ke kamar!"perintah Reno pada bibi pengasuh yang sejak tadi ikut bersama Irene dan Hesti.


Irene menutup mulutnya tak percaya, melepas kertas itu yang diambil Hesti. Irene gemetaran, ketakutan, wajahnya gugup tak bisa bicara apapun.


"Maafkan aku mas, maaf...!"Irene berlutut di hadapan Reno, menyentuh kaki Reno memohon menangis berharap Reno memaafkannya. Sedang Hesti yang juga shock melihat kertas itu terduduk lemas di kursi tapi segera bangkit.


"Ini pasti rekayasa, pasti salah, Dion cucu mama?"seru Hesti tak percaya. Hesti tak menampik jika dia sangat menginginkan cucu dari putranya dia sudah sangat senang atas cucu yang diberikan Irene padanya.


"Apa maksud mama?"seru Reno.


"Kalau bukan putra kandungmu, kau bisa menikah lagi dan punya anak."jawab Hesti .


"Mama."seru Irene.


"Pergi dari sini, anak siapa itu?"seru Hesti berteriak emosi juga pada Irene.


"Maafkan aku ma, maafkan aku mas?Aku... aku tak bermaksud membohongimu."ucap Irene ketakutan.


"Tinggalkan rumah ini dan bawa putramu!"ucap Reno tak menatap Irene.


"Mas, kumohon maafkan aku mas?Aku tak tau harus kemana? Ayahnya tak mau mengakui Dion sebagai anaknya, aku tak tau harus kemana saat itu, sampai mama Hesti memintaku untuk menikahimu aku...aku bersedia."ucap Irene gugup.


"Seharusnya kau jujur saat itu kau sudah hamil anak kekasihmu!"seru Hesti mendorong Irene kasar membuat Irene terdorong ke belakang.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2