
"Jangan....kumohon... lepaskan aku...!" Karina mengigau dalam tidur lelapnya, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Air matanya juga menetes di sela matanya. Derian yang masih terlelap dengan memeluk tubuh Karina tersentak bangun mendengar suara dan gerakan tubuh Karina.
"Sayang...kau tak apa?"tanya Derian cemas menepuk - nepuk pipi Karina berulang berusaha membangunkannya, tapi Derian tersentak merasakan hangat, bukan hangat, tapi panas dipipi Karina. Kemudian Derian meletakkan punggung tangannya di dahi Karina dan tersentak merasakan panas yang menyengat dan melihat keringat membasahi kening Karina.
Derian langsung terbangun mengambil air dan handuk untuk mengompres kening Karina. Karina menggigil dalam lelapnya membuat Derian semakin terluka, ikut berbaring masuk dalam selimut mendekap tubuh Karina untuk memberi kenyamanan dan seolah berusaha memindahkan sakit Karina agar berpindah padanya.
Ponsel yang berdering nyaring tak membuat Derian bergeming dari dekapannya pada tubuh Karina. Derian berusaha memberikan kehangatan skin to skin pada Karina. Igauan yang samar terus terdengar di telinga Derian entah apa yang diigaukan Karina.
Lebih dari dua jam Derian mendekap tubuh Karina sejak Karina menggigil jam 3 pagi tadi. Derian membuka mata perlahan meraba dahi Karina yang sudah mulai hangat normal tak sepanas tadi. Baju Karina yang basah oleh keringat diganti dengan perlahan oleh Derian berharap tak membangunkannya. Tapi perlahan Karina membuka matanya.
"Air...air..."bisik Karina lirih mengguman.
"Kau mau minum?"Derian menyangga kepala Karina untuk membantu meminumkannya.
Karina terlelap lagi.
Derian meraih ponselnya, menghubungi Noah yang sejak tadi sudah menghubunginya juga.
**
Reno terduduk melamun di ruang kerja kantornya, pikirannya masih dipenuhi tentang kehamilan Karina yang membuatnya tak yakin putra Irene saat ini adalah putra kandungnya atau bukan.
Tok tok tok
Suara pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk!"perintah Reno membuang pikirannya dulu.
Sekretarisnya masuk mendekati Reno, membisikkan sesuatu ke telinga Reno.
"Benarkah?Kau yakin?"Reno tersentak berdiri dari kursinya.
"Ini tuan!"ucap sekretaris itu menyerahkan ponselnya yang diterima oleh Reno.
Reno melihat video itu mulai awal sampai akhir tayangan itu, membuat rahangnya mengeras, tangan mengepal dan sorot matanya yang dingin ingin membunuh.
"Lalu?"
"Pihak tuan Derian sudah menutup video itu tapi tentu saja masih ada yang terlewat meski tidak banyak seperti saat itu,"jelas sekretaris itu.
"Lalu dimana Karina sekarang?"tanya Reno cemas dan mulai sedikit tenang dengan penjelasan sekretarisnya.
"Informasi yang terakhir didapat, setelah kejadian itu tuan Derian membopong tubuh nona Karina masuk ke apartemennya yang juga ada di gedung itu,"
"Apa dia baik-baik saja. Dia kan baru sembuh dan baru pulang dari rumah sakit?"tanya Reno lirih terdengar seperti gumanan tapi masih terdengar sekretarisnya.
"Setelah masuk ke dalam apartemennya tak ada yang melihat ada dokter masuk bahkan sekretarisnya tidak terlihat masuk!"jelas sekretarisnya.
Reno menunduk di mejanya, hatinya sakit tak mampu melakukan apapun untuk mantan istrinya yang bahkan masih dicintainya, selama menjadi istrinya, Karina tak pernah mengeluh ataupun menyusahkannya, bahkan dirinyalah yang selalu mendapat perhatian lebih dari Karina meski Karina juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai guru TK. Reno menghela nafas panjang menyesali segala perbuatannya dulu saat menjadi suami Karina yang masih kurang membahagiakannya.
__ADS_1
**
Reno sudah terlihat mengantri di depan ruang rumah sakit spesialis kandungan. Setelah berpikir panjang dengan penuh penyesalan, dua jam kemudian Reno memutuskan untuk pergi memeriksakan diri ke rumah sakit pada dokter spesialis kandungan untuk memeriksa kesuburannya.
Setelah menunggu hampir satu jam tiba giliran dirinya dipanggil. Reno masuk dengan perasaan gugup dan cemas.
"Selamat siang pak?"salam dokter itu tersenyum hangat setelah Reno duduk di depannya terhalang meja periksa.
"Siang,"sapa Reno ragu.
"Ada yang bisa dibantu pak?"
"Saya ingin memeriksa kesuburan saya." jawab Reno ragu sedikit malu.
"Oh,tentu, kita lakukan pemeriksaan fisik dulu, silahkan!" kata dokter itu berbaring di ranjang pasien yang ada di ruangan itu, memeriksa tubuh Reno dengan teliti. Juga memeriksa kadar gula, darah dan tensi.
Setelah dokter memeriksa, Reno pergi ke ruang lab tempat memeriksa darah.
Setelah hampir setengah jam pemeriksaan darah, Reno kembali antri untuk menemui dokter kandungan tadi.
"Hasilnya akan keluar dalam 2 x 24 jam, nanti akan kami hubungi jika hasilnya keluar,"jelas dokter itu tersenyum ramah.
"Tapi tak ada apa-apa dengan tubuh saya kan dok?"cemas Reno bertanya.
"Secara fisik dilihat pemeriksaan tadi anda sehat,kuat juga tak ada masalah semuanya, kita akan tahu detail nya nanti jika pemeriksaan lab keluar,"terang dokter itu ramah.
"Terima kasih dokter."ucap Reno dengan sorot mata penuh penyesalan dan kekecewaan mesti belum keluar hasilnya.
**
Karina membuka matanya perlahan, menatap sekeliling ruangan. Kamar yang dikenali kamar apartemen Derian. Karina mencoba bangun dari tidurnya meski kepalanya sedikit berdenyut tapi perutnya meronta-ronta kelaparan minta diisi, meski nafsu makannya hilang tapi kini Karina menyadari masih ada makhluk lain dalam perutnya yang juga ingin hidup.
"Nona sudah sadar?"suara wanita paruh baya yang dikenalinya masuk ke dalam kamarnya membawa makanan untuk dihidangkan pada Karina.
"Bibi?" ucap Karina terkejut melihat PRT di rumah Derian ada disini.
"Ah, iya nona, saya diminta tuan untuk menemani nona, selama tuan bekerja, tuan tak tega meninggalkan nona sendiri disini." jelas PRT itu yang ternyata bernama bi Ani.
"Ah begitukah?"Karina hendak bangun tapi kepalanya berdenyut, dia memegangi kepalanya ingin bangun...
"Nona tak apa? Lebih baik nona istirahat, tuan menyuruh agar jangan membiarkan nona bangun dari tidurnya," jelas bi Ani sedikit cemas.
"Saya mau ke toilet sebentar bi." ucap Karina lembut.
"Biar saya bantu non?"pinta bi Ani, Karina hanya mengangguk mengiyakan dan dipapah bi Ani ke toilet.
Ponsel bi Ani berdering panggilan dari tuan majikannya.
"Ya tuan?"
__ADS_1
"..."
"Nona sudah bangun, sedang di toilet. Nona sudah keluar, tuan mau bicara?"ucap bi Ani melihat Karina keluar dari kamar mandi.
"..." bi Ani menyerahkan ponselnya pada Karina, meski ragu Karina menerima ponsel bi Ani dan menerima panggilan Derian.
"Ya,"jawab Karina masih terdengar lemah, sambil menatap bi Ani yang menyiapkan makanan di meja dekat sofa di samping tempat tidur. Karina pun sudah duduk di sofa dengan dipapah bi Ani.
"..."
"Iya...ini bi Ani sedang menyiapkannya,"
"..."
"Iya."
"..."
"Lanjutkan pekerjaanmu! Jangan cemaskan aku,aku akan baik-baik saja dengan bi Ani."
"..."
"Baiklah."
Karina menutup ponselnya, menyerahkan ponsel itu pada bi Ani.
"Bisa minta tolong ambilkan ponselku di meja nakas sana bi?"pinta Karina masih terdengar lemah.
"Tentu nona!" bi Ani mengambil ponsel Karina dan menyerahkan pada Karina.
"Makan dulu nona, tuan bilang sejak semalam nona tak makan apapun."
"Iya bi terima kasih."
Karina mulai mengambil makanannya meski tak berselera, Karina memaksakan untuk makan demi janinnya.
Ponsel Karina berdenting tanda sebuah pesan masuk. Karina membaca pesan itu. Karina membelalakkan tak percaya dengan apa yang dibacanya.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like,rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏🙏
.
.
__ADS_1
.