Perselingkuhan

Perselingkuhan
Episode 53


__ADS_3

Mereka semakin akrab saja, mereka juga banyak tawaran wawancara dari berbagai media baik itu sendiri-sendiri maupun berdua. Yang bisa dilakukan, dia lakukan bersama. Yang tidak bisa dilakukan bersama terpaksa dilakukan sendiri.


Dan Vivi sudah memutuskan hubungan dengan Marco meski harus dengan dramatisasi dari Marco yang tak mau putus.


Alasannya klise, Vivi selalu menolak Marco untuk tidur bersama. Dan dia pria normal yang butuh pelampiasan.


"Thank you for showing me what is good and what is not.(Terima kasih sudah menunjukkan mana yang baik mana yang tidak baik)." ucap Vivi meninggalkan Marco sendiri di cafe tempat mereka sering kencan makan bersama.


"Vivi..." teriak Marco.


Vivi menghampiri apartemen Bas dan nyelonong masuk ke dalam saat Bas baru membuka pintu apartemennya. Mereka baru pulang setelah syuting di salah satu studio untuk wawancara tentang perilisan proyek aplikasi mereka.


"Pulanglah!" seru Bas meletakkan tasnya di meja belajarnya.


"Kau punya makanan apa, aku lapar." jawab Vivi yang tak nyambung sama sekali.


Bas tahu sedang terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Jika dia menghampiri apartemen Bas tanpa permisi ataupun minta izin, dia pasti sedang sedih dan tak mau membahasnya. Dia bisa pulang tapi pasti tak bisa mengendalikan perasaannya jika sedang sendiri.


"Vivi..."


"Wah, ada pasta instan? Kau bisa membuatnya?" sela Vivi, membawanya ke meja dapur.


"Akan kubuatkan, setelah makan kembalilah ke tempatmu!" ucap Bas mendekat.


"Kau juga mau?"


"Vivi..."


"Aku akan buatkan untuk kita."


"Vivi, kumohon!" Vivi menghentikan gerakannya masih tetap menghadap kompor di dapur Bas.


Bas berdiri tak jauh dari meja bar dekat dapur menatap punggung Vivi yang perlahan bergetar. Bas merasa bersalah dan mendekatinya. Menyentuh pundak Vivi mencoba menghiburnya. Tangisnya malah semakin kencang meski hanya isakan.


"Maaf." ucap Bas merasa bersalah.


Vivi malah mendekap tubuh Bas, Bas yang tak mengira Vivi memeluknya hanya bisa diam. Entah kenapa hatinya ikut sakit mendengar tangisan isakan Vivi yang terdengar memilukan. Bas perlahan menyentuh punggung Vivi, menepuknya perlahan mencoba menghiburnya.


"Kau baik-baik saja. Maaf, jika aku menyakitimu." ucap Bas malah semakin membuat isakan Vivi lebih keras.


Setelah kurang dari setengah jam, kini Vivi duduk di meja makan. Dan Bas mulai dengan lihainya memasak pasta itu. Vivi menatap punggung Bas lekat. Dia sungguh sangat beruntung memiliki sahabat seperti Bas yang mengerti tentang dirinya.


"Kau mau melubangi punggungku?" canda Bas masih sambil memasak, merasa punggungnya panas oleh tatapan seseorang.

__ADS_1


"Hahaha... kau selalu tahu aku?" jawab Vivi terkekeh.


"Karena aku sahabatmu." jawab Bas menoleh menatap Vivi meski langsung berbalik memasak lagi.


Entah kenapa dada Vivi nyeri tentang ucapan Bas barusan. Vivi menepuk dadanya mencoba menghilangkan rasa sakit entah apa itu. Bas merasakan juga nyeri di dadanya.


Apa yang terjadi dengan dadaku, kenapa selalu berdebar dan nyeri jika aku berbincang dengan Vivi akhir-akhir ini. batin Bas.


Setelah makan malam mereka memutuskan untuk minum bis di ruang keluarga Bas sambil nonton TV. Vivi yang sudah diusir berkali-kali oleh Bas nyatanya tak beranjak meninggalkan apartemennya. Bas menghela nafas panjang, lelah dia sudah mengusir Vivi karena selalu mengalihkan pembicaraan, kalau dipaksa dia akan menggunakan jurusnya menangis tersedu-sedu.


Terpaksa Bas mengizinkannya meski merasa berat. Dan entah kenapa debaran di dadanya semakin kencang dan menggila saja, dulu saat menyukai seseorang dia tidak seberdebar ini.


Bas bukan tak peka dengan perasaannya itu. Dia mulai melihat Vivi dengan berbeda, tapi dia segera menepis perasaannya dan berusaha menyangkalnya.


"Lihat, kita masuk TV Bas." seru Vivi meneguk bir nya menatap TV sambil menepuk-nepuk pundak Bas yang sejak tadi memalingkan wajahnya dari Vivi.


Jangan tergoda, jangan tergoda. batin Bas kembali matanya tak sengaja menatap belahan dada Vivi yang saat itu sedang memakai tank top warna putih ketat yang memperlihatkan belahan dadanya yang mendesak keluar.


Bas hanya manusia biasa, dia juga pria normal, tak dipungkiri jika 'adik kecilnya' menegang meminta untuk dilepaskan. Untung saja Vivi tak menatap pandangan mata Bas. Dia segera mengalihkan melihat TV.


Kakinya diangkat ke sofa untuk menutupi tubuhnya yang sedang bangun. Sebelumnya Bas tak pernah senafsu ini jika berdekatan atau bersama dengan Vivi karena Bas menganggap Vivi tak lebih dari sahabatnya yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri.


Tapi, setelah malam hari Vivi pulang dalam keadaan mabuk karena memergoki kekasihnya selingkuh. Saat itu, saat Bas tak sengaja lengannya menyenggol dada Vivi yang kenyal dan mengkal, dan sontak membuat 'adik kecilnya' langsung menegang.


"Kalau urusanmu disini sudah selesai, pulanglah!" ucap Bas, Vivi hanya terdiam tak menjawab, meneguk lagi minumannya. Tetap fokus menonton TV meski pikirannya berkeliaran.


"Vivi..." Dia tak bergeming.


"Ayolah! Aku mengantuk, aku mau tidur." pinta Bas memelas.


Bukan itu sebenarnya, tapi 'adik kecilnya' berontak ingin dituntaskan karena semakin menegang di bawah sana. Dia ingin menuntaskan sebentar di dalam kamar mandinya setelah Vivi pergi.


"Apa begitu hina jika perempuan masih perawan?" ucap Vivi tertawa remeh.


"Apa?"


"Kau tahu apa alasan para kekasihku putus dariku?" Bas masih menatap Vivi tak mengerti.


"Perawan. Mereka ingin berhubungan intim denganku. Hahaha... apa salah jika aku ingin memberikan pada suamiku nanti?" ejek Vivi pada kenaifan dirinya sendiri.


"Kau bicara apa?" ucap Bas meneguk birnya.


"Bas, aku hanya akan memberikan pada suamiku nanti saat kami setelah menikah. Apa aku salah? Mereka bilang aku tak mencintai karena aku tak mau tidur bersama mereka. Mereka bilang aku munafik. Aku hanya ingin menghormati keinginan mama untuk memberikan hal berhargaku pada orang yang tepat, orang yang akan menjadi suamiku kelak. Itulah janjiku pada mama agar mama mengizinkanku untuk kuliah disini, di luar negeri tanpa ada keluarga dekatku." Vivi menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, menatap ke arah langit-langit apartemen Bas.

__ADS_1


"Kau benar, kau memang harus memberikan pada orang yang tepat, yaitu suamimu. Kau sudah jadi anak yang baik dan berbakti pada orang tuamu." jawab Bas meneguk bir lagi untuk botol yang kedua tanpa menatap Vivi.


"Hahaha... kau memang sahabat terbaikku." ucap Vivi kembali minum bir yang ketiga langsung diminum sampai tandas, kesadarannya mulai hilang. Dia mulai meracau tak jelas di sofa itu.


"Vivi berapa password apartemenmu. Aku antar kau pulang." ucap Bas menarik tubuh Vivi.


"Nggak mau... aku mau tidur disini." racau Vivi melawan tarikan Bas.


"Vivi, kumohon! Jangan menguji kesabaranku." ucap Bas mulai emosi meski tak sungguh-sungguh. Vivi tertarik tangan Bas dan berdiri meski terhuyung sempoyongan.


"Bas... kau tampan sekali. Benar kau tak punya pacar." racau Vivi menangkup wajah Bas yang juga memerah karena minum bir meski belum mabuk.


"Apa-apaan kau, ayo pulang!" elak Bas menepis tangan Vivi.


"Bas, bagaimana kalau denganmu?"


"Apa?" seru Bas masih berusaha mendorong tubuh Vivi menuju pintu keluar apartemen Bas.


"Bagaimana kalau aku mencobanya denganmu, setidaknya biarpun bukan suamiku, aku melakukannya dengan orang baik sepertimu." racau Vivi lagi, mendorong tubuh Bas malah semakin masuk lagi ke dalam.


"Jangan ngawur, kau mabuk. Ayo pulang!" seru Bas.


"Aku tak mabuk Bas."


"Aku antar pulang."


"Aku ingin mencobanya denganmu. Bolehkah?" ucap Vivi yang mulai merendahkan suaranya, berdiri diam menatap Bas dengan tatapan mata sayu. Bas terdiam, ikut menatap wajah Vivi yang sendu penuh dengan tatapan memohon.


"Jangan bercanda." Bas mengalihkan pandangannya.


"Aku serius." sahut Vivi mendekati Bas. Bas berpaling lagi menatap Vivi lagi yang mulai mendekatinya.


TBC


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2