
"Vivi, siapa aku?"
"Bas."
"Siapa aku bagimu?"
"Teman, tidak sahabatku. Benarkan?" seru Vivi bagai orang frustasi.
"Kau sudah tahu itu. Ayo kita pulang." ucap Bas, tapi Vivi malah mendorong tubuh Bas hingga terjerembab di ranjang milik Bas.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bas mulai tak suka perlakuan Vivi, bukannya benci tapi 'adik kecilnya' semakin menegang dan membesar, menuntut untuk dibebaskan dan dipuaskan.
Bas tak mau menerjang Vivi karena hasrat kebinatangannya. Bas bukan orang suci, dia pernah berhubungan dengan ja**lang, tapi dia jadi tak berselera begitu tahu ja**lang itu sudah bekas orang lain. Bas meninggalkannya begitu saja saat itu setelah meninggalkan sejumlah uang.
Pikirannya kalut dan frustasi melihat dirinya langsung kembali tak bernafsu. Tapi saat bersama Vivi belum apa-apa dia sudah sangat tegang dan berhasrat. Bas tak mau merusak dan menyakiti Vivi setelah nafsu birahinya muncul dan tanpa sadar akan menyerang Vivi.
Vivi bukannya pergi malah duduk di tubuh Bas, tepat pada 'adik kecilnya' yang sedang tegang.
"Kau juga menginginkannya Bas?" ucap Vivi dengan nada parau.
"Menyingkirlah Vi, aku tak mau merusakmu." jawab Bas dengan nada serak menahan hasrat Bas.
"Kenapa? Aku menyukainya." ucap Vivi meraba dada bidang Bas yang sudah dilepaskan kaosnya dengan paksa. Bas semakin merinding dan tanpa sengaja menegang, semakin membuat 'adik kecilnya' bergerak di bawah sana.
"Vivi, kumohon, Hentikan! Jangan lakukan!" pinta Bas frustasi yang wajahnya sudah memerah menahan hasratnya. Tangan Vivi terus bergerak liar di dada bidang Bas dan mengusap pu**ting dada Bas.
"Kau menikmatinya." ucap Vivi semakin brutal.
Bas yang sudah kehilangan akal sehatnya menarik tubuh Vivi dan membalikkan tubuhnya hingga kini dia berada di atas tubuh Vivi bertumpu pada lututnya. Bas mencium bibir Vivi yang dibalas juga dengan liar, mereka saling bercumbu di bibir, lidah mereka juga bergelut di dalam mulut.
Saat nafas menipis, Bas melepas ciumannya, menatap Vivi penuh gairah.
"Pergilah!" Bas sudah bangun, duduk di tepi ranjang memakai kaosnya kembali membelakangi Vivi. Vivi merasa kosong, dadanya berdegup kencang, berdebar-debar. Sesaat dirinya merasa hina dicampakkan oleh Bas.
"Hiks... hiks...hiks... Apa aku begitu tak pantas untukmu?" ucap Vivi sesak dan isakan tangisnya mengikuti.
__ADS_1
Sebelah lengan tangannya menutupi matanya. Meski matanya tak terlihat, tapi air matanya terlihat mengalir di pipinya. Bas menoleh kembali menatap Vivi tak tega.
"Pulanglah!" lirih Bas.
"Aku masih perawan Bas, aku masih suci. Apa kau benar tak percaya juga?" seru Vivi semakin kencang dia menangis.
"Kumohon Vivi. Mengertilah!" elak Bas serba salah.
"Buktikanlah kalau aku benar-benar masih belum terjamah." seru Vivi menyingkirkan lengannya menatap Bas sendu. Vivi duduk di tepi ranjang Bas.
"Vivi, kumohon." Bas mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Vivi tapi segera ditepis Vivi.
"Kurasa teman-temanku benar, kau lemah syahwat." Vivi hendak berdiri.
"APA!" seru Bas tak percaya.
"Tadinya aku ingin mengujimu karena berita yang kudengar di luaran adalah salah. Dan kurasa mereka benar." ucap Vivi yang hendak pergi ditahan Bas. Bas merasa dirinya direndahkan.
"Ka-mu le-mah syah-wat." ucap Vivi mengeja kalimatnya.
"Nyatanya." Vivi menatap gundukan di celana Bas yang menonjol. Dan Bas juga mengikuti arah pandang Vivi.
"Kau..."
"Kenapa? Kau tak bisa buktikan jika aku salah." ucap Vivi yang mulai membaik tak menangis seperti tadi. Bas menarik tubuh Vivi, menjatuhkannya di ranjang, membuka paksa pakaian Vivi dengan menyobeknya.
"Jangan menyesal setelah ini." ucap Bas mulai membuka pakaiannya hingga keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.
Bas mencium dengan liar bibir Vivi, meraup dengan rakus dan tentu saja Vivi mengimbangi permainan percintaan Bas. Bas mulai turun kebawah ke leher, bahu dan di dada kembar Vivi yang lumayan besar, yang mungkin tumpah ruah dalam genggaman tangan Bas yang besar.
Desahan Vivi memenuhi apartemen Bas yang kedap suara. Bas bermain sebentar pada pu**ting dada Vivi semakin membuat Vivi keenakan dan nikmat dan desahannya pun semakin kencang dan merangsang.
Bas bermain di dada Vivi bergantian, menji**lat, menghi**sap, mengu**lum dengan lembut. Semakin membuat Vivi menggelinjang kenikmatan. Dan Vivi merasakan kli**maksnya. Nafas Vivi tak beraturan, memburu dan ngos-ngosan. Vivi semakin bergerak gelisah meremas sprei ranjang Bas.
Bas turun ke bawah bermain-main di inti milik Vivi dan memainkan klito**risnya dengan lidahnya. Vivi semakin bergerak liar tak karuan merasa keenakan yang baru pertama kali dirasakannya. Baru kali pertama ini dia bertelanjang di depan seorang pria yang bukan keluarganya.
__ADS_1
Dan Vivi merasakan kembali sesuatu keluar dari tubuhnya lagi. Nafasnya kembali memburu. Bas bersiap di posisinya, menggesek-gesekkan 'adik kecilnya' yang sudah sejak tadi menginginkan mengobrak-abrik pertahanannya.
Vivi mulai memejamkan matanya mencoba menahan yang katanya akan sangat sakit untuk pertama kalinya. Dan tanpa disadari air matanya mengalir.
Bas melihat itu dan mencium kembali bibir Vivi yang merah merekah mencoba menghilangkan rasa takut dan tegang yang Vivi rasakan. Bas mulai menghentakkan sedikit 'adik kecilnya' perlahan.
"Auww...sakit..." ucap Vivi di sela ciumannya. Bibir Bas terus bergerak melu**mat bibir Vivi untuk membuat dirinya tak merasa sakit lagi. Kuku jari Vivi menusuk di punggung Bas dengan kuat menahan ras sakitnya.
"Percayalah sayang, sakitnya hanya sebentar." ucap Bas disela ciumannya. Bas menghentakkan kembali hingga masuk seluruh 'adik kecilnya'.
"Auw..."
"Aahhh..." desahan Bas mengalir begitu saja saat merasakan nikmat miliknya di bawah sana.
Ini juga pertama kali Bas lakukan selama dirinya hidup. Dan ini sungguh sangat nikmat dan menggetarkan. Bas mulai menggerakkan pinggulnya untuk mengurangi rasa sakit Vivi. Vivi mulai merasa enak, Bas merasakan 'adik kecilnya' diremas kuat di dalam sana.
"Kau...ahh..sa..ngat sempit...ahh... dan nikmat." racau Bas yang dengan tak sabar menggerakkan pinggulnya semakin cepat karena dirinya mendekati pelepasannya.
Dan tubuhnya mulai melemas dan terjatuh di sisi Vivi. Nafasnya memburu, ngos-ngosan. Tak pernah dirasakan sesuatu yang senikmat ini.
Entah siapa yang memulainya mereka melakukannya kembali hingga tak terhitung jumlahnya. Bas bergerak hingga pagi di atas tubuh Vivi yang menggairahkan dan ingin lagi, lagi dan lagi.
TBC
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1