Perselingkuhan

Perselingkuhan
Extra part 2


__ADS_3

Angel mendekati Karina yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ini hari pertama Karina menyiapkan sarapan untuk keluarganya setelah dia sadar dari komanya.


Dia ingin masak masakan yang agak istimewa untuk keluarganya, memasak sendiri dengan hasil jerih payahnya sendiri, para pelayan hanya membantunya apa yang dibutuhkan Karina. Saking sibuknya dirinya berkutat di dapur dirinya tak memperhatikan Angel yang mendekatinya.


Angel ragu untuk semakin dekat dengan Karina, masih ada sedikit perasaan ragu di hatinya untuk mendekat lebih lagi. Hingga makanan siap, Karina mengangkat hasil masakannya ke meja, dirinya tersentak menatap Angel yang berdiri tak jauh dari meja makan seperti berharap padanya untuk memanggilnya mendekat.


"Sayang... kau mau membantu mama?"tanya Karina tersenyum menatap wajah Angel.


Senyum lebar langsung tersungging di bibir gadis kecil itu. Angel mengangguk antusias langsung mendekati Karina.


"Baiklah...angkat makanan ini, ditata di meja makan ya? Bibi akan membantumu, mama tinggal masakan penutup terakhir dan kita akan sarapan bersama. Ok?"jelas Karina menatap Angel dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Iya mama."jawab Angel tersenyum senang dan lebar.


Setelah kepulangan Karina dari rumah sakit, Angel berusaha mendekati Karina lebih intens mungkin itu perwujudan rasa bersalah dan terlambat menyayangi Karina sebelum penusukan itu. Karina menerimanya dengan senang hati, dia bersyukur akhirnya anak-anak suaminya mau menerimanya sebagai ibu sambung mereka dan menerima si kembar juga sebagai adik-adik mereka.


**


"Sayang..."elus Karina di wajah Derian pagi itu, setelah dirinya selesai memasak dan menyiapkan sarapan, Karina kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya yang masih terlelap.


Bagaimana tak lelap, semalaman mereka mencoba menuntaskan hasrat mereka setelah bertahun-tahun tak bisa dituntaskan.


Apalagi Derian, dirinya benar-benar tak bisa melepaskan hasratnya pada orang lain selain Karina, seolah selama Karina koma, 'adik kecilnya' juga ikut koma. Godaan dan rangsangan dicoba dicarinya di luar sana tapi wajah Karina selalu terlintas di benaknya dan perasaan bersalah kembali menghantuinya.


Membayangkan Karina terbaring di ranjang rumah sakit Derian mengurungkan niatnya untuk 'jajan' sembarangan. Dia lebih memilih menuntaskan hasratnya di dalam kamar mandi dengan tangannya sendiri.


"Sayang... kau tak kerja?"tanya Karina lagi lembut membelai pipi Derian.


Tetesan air dari rambut Karina sehabis keramas membuat Derian menggeram masih menutup matanya.


"Sayang.."


"Hmm..." jawab Derian masih belum membuka matanya.


Karina merasa gemas melihat suaminya tak kunjung membuka matanya. Karina mengecupi seluruh wajah Derian hingga Derian tertawa geli dan merasakan sensasi tubuh bawahnya bangun.

__ADS_1


"Jangan menggodaku pagi-pagi." serak Derian menarik tubuh istrinya hingga dirinya menindih tubuh Karina di ranjang.


Derian menatap Karina lapar, menginginkannya lagi tubuh bawahnya ke dalam tubuhnya. Derian mengecup lembut bibir Karina dan tak melepaskannya begitu saja. Tautan, cecapan, ******* bibir keduanya tak tertahankan.


"Papa ...papa..."


"Mama...mama..."


seru suara beberapa anak-anak dari luar pintu kamarnya mengetuk pintu kamar mereka, membuat Derian mengesah kesal, kesenangannya telah diganggu anak-anaknya.


"Sial..." Karina tertawa geli melihat suaminya yang sudah berkabut gairah terpaksa menghentikannya.


"Mandilah... anak-anak pasti sudah tak sabar untuk sarapan, karena kita terlalu lama." ucap Karina lembut mengecup bibir Derian sekilas.


Derian tersenyum bahagia, dirinya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedang Karina membuka pintu kamarnya yang untungnya sudah dikuncinya saat dirinya tadi masuk ke dalam kamar.


"Mama..." seru ketiga anaknya menghambur memeluk Karina bersamaan, Karina membalas pelukan ketiga anaknya, si kembar dan Putri.


Sedang Angel menunggu di meja makan sambil masih menyiapkan sarapan yang diminta Karina tadi sebelum Karina masuk ke kamarnya.


"Sudah ma..." jawab ketiganya serentak bersamaan.


"Tinggal menunggu papa dan mama untuk sarapan." ucap Putri.


"Kenapa lama sekali?"sahut si kembar Arthur.


"Ah, sebentar lagi mama dan papa turun, papa masih mandi." jawab Karina tersenyum lembut.


"Kenapa kalian kemari? Papa sudah bilang kan, jangan menghampiri papa dan mama jika papa dan mama masih di dalam kamar."seru Derian setengah berteriak saat dirinya keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan berbalut handuk di pinggangnya.


Karina tersentak mendengar ucapan Derian yang terdengar memarahi anak-anaknya. Karina seolah tak terima jika ada orang yang memarahi anak-anaknya sekalipun itu suaminya sendiri, dia tak rela. Apalagi teguran Derian tadi spontan membuat anak-anaknya tertunduk takut pada perkataan papanya.


Karina merasa kasihan, tidak seharusnya suaminya seperti itu. Anak-anaknya akan menghormati orang tuanya karena takut bukan karena menyayangi orang tuanya jika sikap suaminya seperti itu.


"Kalian tunggu di meja makan dulu ya sayang. Hati-hati turun tangganya!"ucap Karina mengelus lembut punggung ketiga anaknya bergantian.

__ADS_1


"Ya ma."jawab ketiganya serentak pergi meninggalkan kamar orang tuanya.


Karina berbalik menuju Derian yang sedang membenahi dasinya, Karina membantunya.


"Sayang..."ucap Karina lembut.


"Hmm.."jawab Derian menarik tubuh Karina dalam dekapannya.


"Jangan kasar kepada anak-anak. Kasihan mereka."ucap Karina lembut menatap Derian penuh cinta, merapikan kemeja suaminya.


"Aku? Tidak?"jawab Derian masa bodoh mengecupi seluruh wajah Karina, Karina merasa kegelian dan tertawa.


"Kau setengah berteriak pada anak-anak tadi?Kau membuat mereka takut padamu?"ucap Karina.


"Aku tak bermaksud meneriaki mereka, aku hanya menegur mereka."ucap Derian membela diri.


"Tapi suaramu terdengar meneriaki mereka. Harusnya kau lebih lembut pada anak-anak. Mereka akan menghormati kita karena takut bukan menghormati kita karena menyayangi kita." jelas Karina.


"Baiklah...maaf.. tapi sungguh aku tak bermaksud meneriaki mereka, suaraku reflek terdengar kencang mungkin."


"Baiklah... jangan kau lakukan tadi. Kau tau... hatiku sakit saat kau meneriaki anak-anakku. Seolah kau sedang meneriakiku karena gagal mendidik anak-anak."ucap Karina lirih mendekap tubuh suaminya terdengar penyesalan, merasa dirinya tak pernah ada di sisi anak-anaknya meskipun itu semua benar.


"Maaf... sungguh maafkan aku..."ucap Derian lirih merasa sedih mendengar ucapan istrinya. Karina melepas dekapannya menatap suaminya lekat.


"Maafkan aku.." ucap Derian lagi Karina mendekap tubuh suaminya lagi menghela nafas lembut memenangkan dirinya.


"Kita sarapan..."ajak Derian menghentikan perasaan haru keduanya.


Makasih sudah mampir karyaku 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2