
H-2 pernikahan, Dion dan Reno dalam perjalanan menuju rumah orang tua kandung Dion. Setelah paksaan dan telpon ibu kandung Dion, Dion terpaksa menuruti keinginan mereka untuk datang.
Padahal dirinya ingin melakukan pencarian terhadap Vivi. Tapi mau tak mau dia harus pergi ke rumah orang tua kandungnya. Pagi itu mereka sudah berangkat pagi-pagi sekali.
"Apa yang kau lakukan, sejak tadi sibuk dengan laptopmu?" tanya Reno dalam perjalanan, karena sejak mereka berangkat pandangan mata Dion tak lepas dari laptopnya, entah apa yang sedang dikerjakannya sehingga serius sekali menatap laptopnya.
"Ada yang harus kulakukan ah tidak ada yang sedang kucari?" jawab Dion tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau mencari seseorang?" tanya Reno mengerutkan alisnya.
"Menantu papa dan cucu papa."
"Apa?" Reno berteriak hingga mengerem mobilnya mendadak, untung saja mereka sudah memasuki jalan alternatif sehingga tak banyak kendaraan besar yang lalu lalang.
"Biasa saja pa." jawab Dion tenang masih berkutat dengan laptopnya.
"Kau perlu menjelaskan pada papa, apa arti ucapanmu barusan." tegas Reno menatap Dion lekat masih menghentikan mobilnya.
"Aku akan jelaskan sepulang dari rumah tante Irene." jawab Dion enteng.
"Dion, perbaiki panggilanmu. Kau tak mau papa dihina kan nanti di tempat mamamu karena tak becus mendidik anak-anaknya." jelas dokter itu.
"Aku hanya akan memanggilnya begitu pa." elak Dion.
__ADS_1
"Dion, kumohon mengertilah! Lakukan demi papa." ucap Reno memelas. Dion menatap Reno serius, mencari kesungguhan dari ucapan Reno.
"Baiklah. Aku akan memanggilnya seperti itu, hanya saat bersama mereka." jawab Dion tersenyum licik.
"Jangan seperti itu Dion?" tanya Reno frustasi dengan Dion.
**
Kini mereka sudah tiba di halaman rumah orang tua kandungnya yang dulu pernah didatanginya. Mereka pun di sambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga besarnya. Bertanya silih berganti tanpa tiada yang berhenti tentang pertanyaan-pertanyaan mereka.
"Kau sudah datang nak?" tanya Irene yang melihat putranya datang.
"Iya ma." jawab Dion memeluk mamanya.
"Ayo masuk dulu nak, Ayo mas!" seru Irene menarik tangan Dion dan tak lupa memintanya masuk juga.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, duduk di sofa ruang tamu. Berbincang-bincang, dan tentu saja ditanya hal-hal yang berkaitan dengan Dion. Dion akan menjawab jika mereka bertanya apapun itu. Dion hanya menjawab entahlah jika yang ditanyakan memang benar-benar tak diketahuinya.
"Amel, panggil kakakmu kemari!" perintah Irene beralih menatap Amel meragu.
"Iya ma." Amel bergegas ke kamar kakak tirinya dengan bersenandung manis.
"Kita makan dulu ya nak?" ajak Irene masuk ke meja makan. Dion menurut hanya mengikuti langkah kaki mamanya. Diikuti juga Reno.
__ADS_1
"Kakak akan menyusul ma, dan dia juga akan makan siang di kamar.
"Sedang apa kakakmu itu." ucap
Irene tak suka.
"Sudah ma, kita makan siang dulu nanti kita temui, saat ini rumahnya sangat ramai dengan para sepupu dam keluarga besar." ucap Revan mengendalikan emosi kekasihnya itu.
"Baiklah, sekarang kau juga ikut makan." ucap Irene pada Amel yang segera duduk di kursi meja makan.
Dion duduk kembali di sofa ruang tamu, sedang masih berusaha mengutak-atik ponsel Vivi yang dibawanya juga.
"Kau..." ucap seorang pria yang baru saja muncul di depan Dion.
"Kau, kak Al?" Dion pun berdiri dari tempat duduknya demi mendengar suara yang dihapali muncul secara tiba-tiba di depannya.
TBC
.
.
.
__ADS_1