
Mobil yang dikendarai pihak hotel sudah melaju dengan kecepatan sedang. Derian duduk di kursi sebelah kemudi, sedang istrinya dan putrinya Angel duduk di kursi belakang. Karina terus mendekap tubuh putrinya itu yang masih terlihat seperti orang yang kehilangan jiwanya.
Setelah lima hari dirawat di rumah sakit. Karena tak ada kabar perkembangan pencarian Al, Derian memutuskan untuk pulang ke ibukota meski putrinya awalnya tidak setuju karena masih ingin menunggu suaminya yang mungkin saja suatu saat akan kembali menemuinya di hotel tempat mereka terakhir berpisah.
Tapi deria dan Karina terus membujuk untuk kembali ke ibukota. Berdasarkan kabar informasi yang mereka terima, Al dibawa ke ibukota untuk pengobatan lebih lanjut. Angel hanya diam menatap kosong ke luar jendela mobil itu.
Mereka memutuskan untuk mengambil penerbangan pertama pagi itu karena sudah lebih dari seminggu keduanya meninggalkan rumahnya. Dan mereka juga tak bisa mengabaikan begitu saja putrinya Angel.
Derian terpaksa meninggalkan semua pekerjaannya di kantor dengan menyerahkan pada sekretarisnya Noah, dan meminta putrinya untuk ikut serta mendampingi sekretarisnya itu meski hanya untuk perwujudan menghargai para investor.
"Ayo nak!" ajak Karina untuk turun dari mobil menuju pesawat pribadi mereka pulang ke ibukota.
Angel hanya diam menuruti ucapan mamanya tanpa banyak protes dan bantahan. Seolah jiwanya tertinggal di pulau B, dibawa suaminya yang entah sekarang berada di mana.
Tak lebih dari sepuluh jam, pesawat mendarat di bandara udara ibukota. Karina masih menuntun putrinya berjalan menuju mobil keluarga yang sudah menjemput mereka.
"Pulang ke rumah!" seru Derian memberi perintah pada sopir keluarganya.
"Baik tuan." jawab sopir itu mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tak sampai satu jam, mobil memasuki halaman rumah mewah keluarga Aftano, para pelayan bersiap menyambut kedatangan majikannya yang tengah dilanda masalah.
Karina masih menuntun putrinya yang terlihat putus asa dan patah semangat itu. Angel masih tetap diam meratapi kejadian yang dialami suaminya. Seketika air mata mengalir saat mengingat kembali tentang kejadian yang menimpa suaminya hingga dia menghilang entah dimana.
"Ma, kak Angel..." panggil Putri begitu melihat mama dan kakaknya muncul dengan raut wajah tidak bersemangat kakaknya, bahkan tatapan mata kakaknya kosong seperti kehilangan jiwanya.
Putri langsung memeluk tubuh kakaknya, dia merasa sangat kasihan melihat kakaknya yang tak begitu bersemangat. Tangisan Angel kembali pecah saat Putri memeluk tubuhnya. Karina hanya mampu menutup mulutnya ikut bersedih melihat putrinya kembali menangis dan bersedih.
__ADS_1
Derian langsung menghampiri tubuh istrinya, mendekap pinggangnya yang membuat Karina semakin terisak ikut menangis di dekapan dada bidang suaminya. Derian menghela nafas, menepuk punggung istrinya lembut.
Kini Angel sudah sedikit tenang, dengan terlelap pulas wajah cantiknya memancarkan ketenangan meski ada sedikit rasa cemas dan khawatir. Karina meninggalkan kamar Angel untuk kembali ke kamarnya.
**
"Mas, aku nanti mau ke rumah mama." ucap Vio pagi itu, saat sedang sarapan bersama Dion yang sudah menjadi suaminya.
Ya, kini Vio memberikan panggilan dengan sedikit perasaan. Dia berinisiatif untuk melakukannya karena ingin menghormati suaminya meski biasanya berlaku seperti seorang teman akrab.
"Aku akan mengantarmu." jawab Dion meneruskan sarapannya.
"Bisakah aku kesana sendiri?" Dion melotot terkejut.
"Nggak, aku akan mengantarmu, sekalian aku mau mengatakan hubungan kita yang sebenarnya, sekalian melamarmu secara pribadi." ucap Dion.
"Benarkah?"
"Mereka mendapatkan informasi kalau seseorang membawa kak Al ke ibukota untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut karena kondisi kesehatan yang tidak lengkapnya di rumah sakit disana." jelas Vio.
"Kak Al sakit?"
"Kabar terakhir yang diketahui papa, kak Al kecelakaan dan dinyatakan koma." ucap Vio sesuai apa yang dikatakan kakaknya.
"Kak Al koma?" Vio mengangguk.
"Itu artinya kondisi keluargaku belum sepenuhnya baik, apalagi keadaan kak Angel sempat histeris saat tiba di rumah mengingat dirinya tak kembali pulang dengan suaminya. Dan tentu saja orang tuaku juga pasti dalam keadaan belum baik juga. Untuk itulah kita tunda dulu kita mengatakan hubungan kita pada mereka. Aku juga sudah mengatakan hal itu pada kak Putri." jelas Vio menatap suaminya penuh permohonan.
__ADS_1
"Sampai kapan?" jawab Dion tak suka, meski dirinya juga merasa berduka atas menghilangnya kak Al, tapi Dion merasa harus segera memberitahukan hubungannya pada kedua orang tua Vio, Dion tak mau menunggu hingga berlarut-larut. Dion tak suka harus sembunyi-sembunyi berhubungan dengan istrinya.
"Sampai... sampai kondisi membaik, yah... sampai kak Angel sedikit lebih baik dan orang tuaku siap mendengar kabar kita. Mungkin jika kabarnya menikah diam-diam kita tak akan membuatnya terlalu terkejut tapi, aku takut reaksi mereka saat tahu akupun juga sudah hamil." ucap Vio sendu di akhir kalimatnya.
"Itulah sebabnya, aku tak mau menunda-nunda, bagaimana jika mereka tahu yang sebenarnya sebelum mengatakan pada mereka?"
"Itu tak akan terjadi jika tak ada yang mengatakannya?"
"Tapi, perutmu akan semakin membesar, aku ingin segera anak kita mendapatkan pengakuan. Dan kita juga bisa secepatnya meresmikan hubungan kita secara hukum." ngotot Dion.
"Iya, aku ngerti, tapi kita tunggu momen yang pas, jangan dalam waktu dekat ini. Kumohon mas!" ucap Vio memohon dengan menampilkan wajah puppy eyes nya.
Membuat Dion menghela nafas panjang, tak bisa berdebat lagi. Apalagi terhadap istrinya itu yang sudah menjadi sahabatnya beberapa tahun ini.
"Ok, tapi jangan terlalu lama." ucap Dion akhirnya.
"Makasih sayang." ucap Vio menghambur memeluk suaminya bahagia. Dion membalas pelukan mesra istrinya dan segera melu**mat bibir istrinya lembut, Vio membalas ciuman itu.
"Jangan menggodaku pagi-pagi." ucap Dion serak menahan hasratnya.
"Aku?" Dion membopong tubuh istrinya ke kamar, bukan hanya ciuman saja, mereka melakukan lebih dari itu di hari keduanya sebagai pasangan suami istri. Entah sejak kapan tubuh Vio istrinya menjadikannya candu untuknya, yang membuatnya menginginkan lebih, lagi dan lagi.
TBC
.
.
__ADS_1
.