
Mobil yang dikemudikan Derian memasuki halaman rumah yang begitu luas. Halaman yang dulu luas karena masih jarang bunga, kini telah ditumbuhi bunga-bunga yang begitu indah seolah memang sengaja ditanam dengan desain yang begitu apik dan asri membuat rumah itu terlihat nyaman.
Tidak banyak perubahan pada rumah, hanya terlihat perbaikan cat dinding yang sengaja diperbaharui setiap beberapa waktu agar terlihat lebih indah dan cantik seolah ingin menunjukkan padanya jika rumah itu tetap menanti kepulangan nyonya rumah dengan menjadi cat dinding warna yang semua agar sang nyonya jika pulang nanti tidak lupa akan jalan pulang.
Karina yang memandang sekeliling halaman dan depan rumah itu sangat takjub, suasana rumah itu masih tetap sama saat dirinya dulu sebelum terbaring koma. Karina menatap jemari tangannya yang digenggam erat oleh Derian seolah memberikan kekuatan dan keyakinan padanya bahwa dirinya tidak bermimpi, semua adalah kenyataan bahwa dirinya benar-benar pulang ke rumah setelah sekian lama seolah baru kemarin Karina mengalami penusukan itu dan ternyata dirinya pulang dalam kurun waktu yang tak sebentar.
5 tahun, waktu yang sangat lama. Begitu banyak hal yang dilewatkannya selama dirinya berbaring koma. Terutama melewatkan pertumbuhan putra putrinya, dirinya tak sabar lagi ingin bertemu mereka.
Derian mengangguk meyakinkan Karina untuk tak berpikir apapun. Dirinya hanya harus senang dan bahagia. Karina pun tersenyum menatap Derian penuh kasih. Mereka pun melangkah masuk menuju pintu rumah.
Karina memegang handel pintu merasa ragu dan takut, entahlah kenapa. Derian mengeratkan genggamannya dan meyakinkan sekali lagi dengan mengangguk meyakinkan.
Cklek
"Selamat datang..." suara riuh rendah di dalam rumah terlihat banyak suara anak-anak yang memberinya selamat.
Empat anak berjajar berurutan dengan paling kiri seorang anak laki-laki dan sebelahnya seorang anak perempuan yang sama persis yang dilihatnya di dalam mimpinya. Karina menangis terharu bahagia, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya, melihat keempat anaknya berdiri di depannya dengan senyum manis di bibir mereka.
Karina mendekat masih dengan memegang erat jemari tangan Derian untuk mengantisipasi jika semua anak-anaknya menolaknya setidaknya Derian tak melakukan padanya.
"Mama..."seru mereka bertiga bersamaan berlari menghambur memeluk Karina yang spontan pegangan tangan Derian dilepaskannya demi menerima pelukan anak-anaknya.
__ADS_1
Karina menatap wajah mereka bertiga bergantian seolah merekam wajah si kembar dan Putri. Karina merasa ada yang kurang, rasa takut menyelimutinya saat sosok gadis kecil paling besar dari keempat anaknya yang dulu masih menolaknya kini menolaknya lagi.
Karina berdiri menatap gadis kecil yang berdiri tak jauh dari ketiga anaknya, menatap dirinya ragu untuk mendekatinya seolah dia takut ditolak juga.
"Kau tak mau memeluk mama?"ucap Karina lirih menatap Angel penuh harap dengan mata yang berkaca-kaca.
Angel dengan senyum gembira mengusap air matanya dengan punggung tangannya berlari menuju pelukan Karina, air matanya semua orang yang ada disitu tak bisa dibendung lagi. Menatap keduanya haru.
"Maafkan Angel ma...Maaf... Karena Angel mama sakit...hiks...hiks ..."Isak angel di sela-sela pelukannya.
Karina menggeleng kuat, melepas pelukannya menatap Angel lembut mengusap air mata yang mengalir di pipi Angel.
"Tidak sayang, mama bersyukur bisa menolongmu, jika tidak mama pasti akan merasa bersalah. Mama tak pernah menyalahkan Angel atau siapapun."jawab Karina serak menahan tangisnya.
Hingga kejadian dramatisasi itu sudah 3 jam berlalu setelah mereka menyantap makan siang mereka dengan sedikit terlambat dan haru biru keluarga yang menyambut kedatangan Karina dari tidur panjangnya.
Kini Karina menatap sekeliling kamar pribadinya dengan suaminya masih sama, tak ada yang berubah, cat dinding hanya terlihat diperbaiki secara berkala.
"Akhirnya kau pulang?" bisik Derian di dekat telinga Karina sambil memeluknya dari belakang. Suara Derian terdengar begitu berat dan serak menahan hasratnya selama ditinggal dalam tidur panjangnya.
"Maaf..."
__ADS_1
"Ssst .."Derian menutup mulut Karina dengan satu jarinya. Karina hanya diam menerima semua perlakuan manis Derian.
"Aku sangat merindukanmu."ucap Derian mendekap erat tubuh Karina.
"Aku juga." Karina berbalik menatap wajah Derian yang terpancar kerinduan dan rasa cinta di matanya. Karina mengelus pipi Derian dan Derian memejamkan mata menikmati elusan jemari tangan Karina di pipinya, mengecup telapak tangan Karina.
Derian membuka matanya perlahan menatap Karina penuh cinta dan hasratnya setelah sekian lama tak bisa dibendung lagi.
Dikecupnya bibir Karina lembut, ciuman itu semakin lama semakin menuntut dan liar. Karina hanya mengimbangi ciuman Derian hingga desahan Karina terdengar di sela ciumannya dan membuat lidah Derian masuk menelusuri rongga mulut Karina dan bergelut lidahnya dengan lidah Karina.
Bonus part
Entah nambah atau tidak, lihat mood aja...
Kalau peminatnya banyak ya lanjut...
Makasih bagi yang sudah membaca karyaku 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.